Melahirkan Anak Pertama

Alhamdulillah tanggal 15 Juli 2017 kemarin jam 10.43 am saya melahirkan anak laki-laki dengan berat badan 3.2 Kg, tinggi badan 48 cm dan lingkar kepala 34 cm di Rumah Sakit Pelni Petamburan dibantu oleh dr. Atut, SP.OG. Berikut cerita proses persalinannya. 

Jumat, 14 Juli 2017

Pagi harinya saya masih cek up rutin ke dokter Catherine, SP. OG. Siang harinya saya melakukan CTG. Nah, ketika CTG sebenarnya sudah terdeteksi adanya kontraksi, jadi CTGnya diulang. Ketika dilihat hasilnya bagus, saya disuruh kembali 3 hari kemudian, jika belum ada kontraksi dalam 3 hari baru akan diinduksi. Usia kandungan saya 40w1d.

Sorenya perut sudah mulai terasa mules, tapi masih bingung apakah itu kontraksi atau bukan. Baru sekitar jam 8 malam, saya bilang ke suami, dan kami mengobservasi kontraksi tersebut bersama-sama. Ternyata kontraksinya sudah teratur 20 menit sekali. Waktu itu diberi pesan oleh perawat, kalau kontraksi sudah 30 menit sekali langsung datang saja ke IGD. Khawatir karena jarak rumah sakit yang jauh dari rumah, maka kami memutuskan untuk berangkat. Di perjalanan, kontraksi jadi 10 menit sekali. 

Sampai di rumah sakit, saya dibantu oleh satpam dibawa ke IGD maternal menggunakan kursi roda. Sedangkan suami saya mengurus pendaftaran. Ternyata ramai sekali, saya harus menunggu beberapa lama sebelum mendapat bed. Sambil menunggu pasien dipindah ke ruang observasi, saya sementara tidur di bed extra. Saya masih bisa makan nasi goreng, minum manis. 

Setelah mendapat bed, jam 22.00 saya dicek doppler, pengukuran tinggi fundus, dan dicek CTG lagi oleh perawat/bidan bernama Lita. Kemudian dicek pembukaan berapa. Saya baru tahu cara mengecek pembukaan itu dengan cara memasukkan tangan ke jalan lahir, rasanya luar biasa. Dan waktu itu saya baru pembukaan 1, padahal saya berharap sudah pembukaan 5 hehehe. Untuk mengurangi rasa saya terus mengambil nafas panjang. Tapi dibanding yang lain, kondisi saya yang paling fit, masih bisa ngobrol ceria dengan suami. 

Di IGD tak banyak aktivitas, kami hanya menunggu pembukaan maju, tapi setidaknya hati saya tenang dan bersyukur setelah tahu adanya pembukaan. Lewat tengah malam saya jadi sering buang gas. 

Sabtu, 15 Juli 2017

Jam 2.30 AM saya dipasang infus dan diambil darah. Sejauh yang bisa diingat, ini pertama kalinya saya diinfus, sakit. Tidak berapa lama, dr jaga IGD yang bernama dr. Daniel bilang kalau dr. Catherine tidak bisa dihubungi, karena rencana persalinan normal berisiko maka saya dioper ke dokter jaga, yaitu dr. Atut, saya hanya mengiyakan. Saya tertidur ketika ditinggal suami keluar, dan baru terbangun jam 4.30 AM ketika suami saya datang, dan saya dipindahkan ke ruang VK kenari. Saya ditempatkan di ruang observasi bersama 3 pasien yang lain. 

Jam 5.30 AM saya diperiksa EKG oleh bidan Hesty. Menjelang pagi, kontraksi makin jarang, saya sudah tidak mengobservasi kontraksi tersebut. Tapi selain kontraksinya yang semakin jarang, durasinya juga semakin pendek. Jam 6.31 ada Bidan yang memberitahu kalau saya akan diinduksi, kalau sampai jam 10 belum melahirkan, maka saya terpaksa disectio caesar. Maka infus disuntik synto 10 unit. Kontraksi jadi sering tapi durasinya tetap pendek, lama-kelamaan kontraksi jadi jarang, pas saya cek ternyata infusnya tidak mengalir, tidak ada bidan yang lalu lalang selama beberapa waktu. Kontraksi semakin sakit ketika saya pergi ke kamar mandi. Di ruang observasi ini kami tidak diizinkan untuk ditemani pendamping. Suami terakhir menemani ketika menyuapi sarapan pagi. 

Dari awal disuntik induksi, bidan sudah menyuruh saya puasa, dan suami disuruh menandatangani informed consent. saya yakin pasti akan berujung sc, hiks. Jam 10 dan dicek, pembukaan masih jauh, sempit, dan kecil, pembukaan 2. Akhirnya saya pun diboyong ke ruang OK menggunakan kursi roda. 

Di ruang persiapan saya dibaringkan di bed dan langsung ke ruangan, badan saya menggigil. Perawat yang membantu operasi membantu melepas semua pakaian saya, karena tidak ada kain (hey, i am alone and i know nothing) jadi badan saya ditutupi seadanya. Kemudian dokter anestesi menyuntikkan anestesi ke sumsum tulang belakang (kali ya, pokoknya daerah punggung bawah) dokternya udah ahli kali ya, ga sakit Alhamdulillah, cuma kaget pas awalnya saja. Saya dibaringkan, tangan kanan diikat dengan tali, tangan kiri dipasang tensimeter. Lama kelamaan kaki sampe setengah badan mati rasa. Saya tiba-tiba jadi sedih.

Dokter Atut sebagai pemimpin operasi, memulai operasi dengan do’a bersama, kemudian memperkenalkan orang-orang yang terlibat dalam operasi. Operasi dimulai, walaupun sadar, tapi saya tidak bisa melihat tindakan yang dilakukan karena dihalangi oleh tirai yang dipasang di atas dada saya. Suasana operasi santai, ada musik mengalun, para dokter dan perawat juga mengobrol dan bercanda dalam bahasa jawa, sambil tetap mengerjakan tugasnya masing-masing. Meski demikian, hati saya tetap tidak bisa tenang. Saya menutup mata, menahan air mata, sambil terus berdo’a dalam hati. Melihat saya menutup mata, ada perawat yang membangunkan dan mengajak ngobrol. Rasanya sebentar, saya hanya ingat perawat yang mengajak ngobrol tadi, mendorong perut saya, kemudian dokter bilang bayinya sudah keluar. Dokter memperlihatkan bayi saya dari atas tirai, saya pun menangis terharu. Terdengar tangisan bayi, hanya sebentar, mungkin bayinya langsung diambil perawat untuk dibersihkan. Dokter bilang, bayinya putih, bersih banget, air ketuban saya masih bagus soalnya, jadi bayi tidak berlumuran darah sama sekali. 

Setelah beberapa lama, ada perawat yang melakukan inisiasi menyusu dini, dia menempelkan mulut si bayi ke payudara secara langsung, karena perut saya masih dalam tindakan. Setelah selesai, dokter mengumumkan jam kelahiran anak saya. Perawat menyuntikkan sesuatu melalui infus saya, katanya itu obat anti mual. Kemudian semua bubar, sedangkan saya masih ditinggal di ruang operasi. Tak berapa lama, kemudian datang perawat membawa bed dan saya dipindahkan ke ruang tunggu. Di ruangan itu, ada banyak pasien pasca operasi, tidak hanya melahirkan tapi juga pasien mata, dll. Ada pasien wanita pasca sc yang mengeluh pusing dan muntah-muntah. Awalnya saya tidak merasakan apa-apa, tapi lama kelamaan, kepala saya terasa pusing, badan menggigil, dan nafas saya pendek-pendek. Saya terus beristighfar sambil mengambil nafas panjang-panjang. Sedih banget rasanya, sendirian, tak berdaya, sesak nafas, takut ga bisa bertemu lagi dengan orang-orang. 

Cukup lama saya berada di ruang tunggu, memperhatikan orang lalu lalang, pasien yang terus berdatangan, dokter yang hilir mudik. Sampai ruangan penuh saya masih belum juga dipindahkan. Ketika saya cek, ternyata infus saya macet, saya meminta tolong entah perawat entah dokter, tapi orang yang saya mintai tolong malah melempar ke orang lain, dan baru setelah lama sekali, infus saya dibetulkan. Ketika sudah tidak ada cukup ruang, baru saya dijemput, saya dioper lagi ke bed yang lain, kemudian dipakaikan gurita dan pakaian rumah sakit. Setelah itu saya menunggu lagi di ruang persiapan, bersama dengan para pasien yang akan dioperasi. Baru sekitar 3 pasien sc sudah ada di ruangan, kami dibawa ke ruang perawatan. Ketika keluar ruangan, suami datang menghampiri, rasanya bahagia sekali, tapi saya sangat lemas untuk mengeluarkan suara, saya hanya tersenyum. Saya dirawat di ruang kenari nomor 2.

Alhamdulillah, walaupun banyak yang menyayangkan, “kalau lahir di bidan atau kampung pasti normal”, “kalau di rumah sakit semuanya pasti sectio, ga ada yang normal, dokter sekarang pada ga sabaran”, dan masih banyak lagi. Tapi saya bersyukur, ini qadarullah, Allah memberikan keselamatan pada saya dan bayi saya saja sudah merupakan rahmat yang luar biasa. Alhamdulillah, saya tidak bisa berhenti mengucap syukur tiap melihat malaikat kecil yang sekarang hadir, dia selalu mengingatkan bagaimana rasanya terkapar tak berdaya di ruang operasi, dan betapa bahagianya bisa melihat lagi wajah suami yang tersenyum menyambut saya. 

Cerita tentang pertemuan dengan bayi akan diposting di tulisan selanjutnya ya. 

Advertisements