Taman Bunga Nusantara

Entah lebih ekstrim mana, pertama kali ketemu langsung naik gunung Ciremai berdua atau menembus puncak naik motor di malam hari saat hujan lebat berkabut dan angin kencang.

Perjalanan panjang dari Bekasi menuju puncak dengan menggunakan motor merupakan moment yang jadi bukti kesabaran dan ketangguhan abang (disamping perjalanan Jakarta-Bandung atau Jakarta-Majalengka tentunya). Di tengah perjalanan, daerah Bogor, ketika macet parah dan hujan lebat, motor kami sempat terpeleset karena rem depan yang terlalu pakem, karena insiden itu, kaca spion kanan motor abang pecah, Alhamdulillah kami tidak melukai ataupun terluka dalam kejadian ini. Mungkin hanya lecet sedikit, kaki kananku sedikit hematoma tapi semuanya baik-baik saja, entah kalau abang, dia samasekali tidak mengeluhkan sakit atau apapun.

Hujan dan terus hujan. Entah pikiran apa yang menghasut kami supaya datang ke puncak malam itu. Mobil-mobil berderet rapi sama sekali tidak bergerak karena macet, maklum masih suasana liburan tahun baru. Aku yang samasekali tidak berencana liburan jarak jauh hanya membawa kaos untuk ganti pakaian. Maka karena khawatir terkena flu atau masuk angin, di tengah jalan kami membeli celana jeans untuk aku, dan sikat gigi serta peralatan mandi lainnya. Kami terus melaju di tengah dinginnya malam berkabut, melawan hujan deras yang mencemooh siapa saja yang keluar malam itu. Banyak orang yang menawarkan vila dan penginapan sepanjang jalan. Malam semakin larut, perjalanan kami terasa begitu panjang, setelah melewati masjid At-Ta’awun, suasana menjadi semakin sepi, jarang ada kendaraan yang melintas, baik di jalur kami maupun di jalur sebaliknya. Aku dihantui perasaan bersalah, dan sedikit rasa cemas. Apakah abang marah? Apakah abang marah? Apakah abang marah? Continue reading

Advertisements