Pregnancy Check Up

Beberapa minggu sejak menikah tanggal 4 September 2017, saya sering tidak enak badan, perut serasa kembung, lemas, mual, dan cepat lelah. Menstruasi saya pun telat seminggu dari jadwal biasanya, antara bingung dan excited, saya pun melakukan test pack, sayangnya hasilnya negatif, saya coba dengan test pack yang lain, hasilnya masih tetap sama. Kami berasumsi saya hanya kelelahan, masih beradaptasi menghadapi rutinitas baru sebagai seorang istri sekaligus wanita karir dengan jarak tempuh kerja yang tidak sedekat dulu. 

Di bulan berikutnya menstruasi saya kembali telat dan saya kembali melakukan test pack pada 9 November 2016. Alhamdulillah dua garis merah. Positif ! Ada janin di rahim saya, saya yang excited langsung memberi tahu ayahnya, dan keluarga di rumah. Mereka juga sumringah dan langsung ngasi banyak wejangan. 

Untuk memastikan, tanggal 12 November 2017, sepulang kerja kami pun kontrol ke RS Hermina Daan Mogot. Dr. Katrina Puspita, Sp. OG yang menangani kami. Dilakukan USG transvaginal, rasanya ehm… agak risih. Menurut dokter, di kantung rahimnya sudah ada bakal janin, tapi yang saya lihat cuma kantung, tak terbaca ๐Ÿ˜.  Untuk kesimpulannya saya diharuskan datang 2 minggu lagi dan saya diresepkan suplemen kehamilan. 

  1. Folamil Genio 1 x sehari 1 kapsul
  2. Utrogestan Tab 100 mg 1 x sehari 1 tablet (dimakan malam hari) 

Total kerusakan di cek up pertama ini:

  1. Resep obat-obatan/suplemen hamil: Rp 257.400
  2. Konsultasi Dr. Obgyn Rp 199.000
  3. USG Transvaginal tanpa print out Rp 154.000

Totalnya: Rp 610.400

Keluhan waktu itu, saya keputihan, dokter obgyn menyarankan untuk menggunakan betadine cair sebagai pembersih vagina. Tapi tidak saya praktikkan karena di keterangan kemasannya, tidak disarankan untuk wanita hamil. 

Di dua minggu berikutnya, saya tidak cek di Hermina lagi. Tapi pindah ke RS Pelni Petamburan, berhubung abang kerja di sana jadi biaya cek up dicover oleh rumah sakit. Alhamdulillah, lumayan uangnya bisa buat ditabung. ๐Ÿ˜‡

Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) saya yaitu 6 Oktober 2016. Hari Taksiran Persalinan (HTP) nya: 13 Juli 2017.

8w6d – 7 Desember 2016 

Saya dapat antrian No. 1 dr. Parmanto Setihusodo, Sp. OG. Tekanan darah saya 96/70 (mmHg), berat badannya 43 kg. Kami mendengar denyut jantung bayi kami pertama kali, rasanya bahagia sekali. Masih takjub, di dalam perut manusia bisa hidup makhluk hidup lain, masyaa Allah.

Saya diberi suplemen folavit tablet 400 nanogram dan eklena 1x sehari 1 tablet sesudah makan. 

13w4d – 06 Januari 2017

Sejauh ini dari pertama tahu saya hamil, tidak ada keluhan mual, tidak pernah muntah, ataupun kena morning sickness. Bayi yang in syaa Allah sholeh dan tidak pernah merepotkan ibunya dari sejak kandungan aamiin. 

Tekanan darah saya 107/76 mmHg. Berat badan 45 kg. Di pertemuan pertama saya minta form pengantar untuk pemeriksaan TORCH dari dokter. Dan hasilnya ada beberapa yang harus diwaspadai. 

  • Hb: 11.6 
  • Anti-Toxoplasma IgG: Reaktif dengan konsentrasi 57.6
  • Anti-CMV IgG: Positif dengan konsentrasi 663.2

Sebenarnya itu infeksi lampau, disarankan untuk pemeriksaan lanjutan aviditas seharusnya. Dokter langsung meresepkan obat, tapi tidak saya tebus, saya masih khawatir untuk konsumsi obat-obatan selama kehamilan. 

18w4d – 13 Februari 2017

Di pertemuan ketiga, keluhan saya masih tentang keputihan. Sebenarnya normal karena tidak berwarna dan berbau, tapi tetap risih. Dokter menyarankan untuk sering mengganti underwear dan mengeringkan alat kelamin dengan tissue setiap habis buang air kecil supaya kelembaban daerah genital tetap terjaga. 

Tekanan darah saya 106/78 mmHg, berat badan 46 kg. Saya masih diberi suplemen obat folavit dan eklena. 

20w4d –  27 Februari 2017

Berhubung dapat kabar bahwa dr. Parmanto sedang sakit dan harus dirawat, maka saya pindah ke dr. Mustika Ariando, Sp. OG. Alhamdulillah dr. Ando ini sangat interaktif sekali dan masih muda. Dari awal kami disambut dengan perkenalan, kemudian dijelaskan keadaan kandungan yang normal, yaitu kepala menghadap jalan lahir (posisi di bawah), tidak ada lilitan, dan air ketuban cukup. 

Jenis kelamin anak kami sudah terlihat yaitu laki-laki. Tidak ada lilitan, BB janin: 390 gram (sesuai dengan usianya), gerakan aktif, ketuban cukup, denyut jantung terdeteksi, posisi kepala di bawah. 

Tekanan darah saya 99/68 mmHg, berat badan 47,5 kg. Dan masih diresepkan suplemen yang sama yaitu folavit dan eklena. 

24w4d – 27 Maret 2017

Berat badan saya 51 kg. Tekanan darah 108/64 mmHg. Kepala bayi sungsang hiks, berat badan janin 670 gram, placenta normal, ketuban cukup, gerakan aktif, denyut jantung terdeteksi. 

32w4d – 22 Mei 2017

Berat badan saya 57 kg. Hb mulai turun drastis jadi 9.0 karena tiap malam susah tidur, kaki dan pinggang mulai pegal-pegal. Alhamdulillah walaupun emaknya Hb nya turun tapi si bayi tetap sehat berat badannya 1.900 gram, kepalanya sudah di bawah yeayyyy!!! Tidak ada lilitan, placenta normal, gerakan aktif, dan denyut jantung terdeteksi. 

Kali ini saya diresepkan folavit, eklena, dan obat penambah darah/inbion. Tapi saya mengganti folavit dengan folamil genio yang saya beli di apotik. Karena menurut apoteker, folavit itu hanya disarankan untuk usia kehamilan awal, sedangkan memasuki trimester kedua, disarankan mengkonsumsi folamil genio. 

36w6d – 21 Juni 2014

Berat badan saya 55 kg, berat badan janin 2.500 gram. Ada 1x lilitan tali pusar, kepala janin masih belum masuk panggul, air ketuban masih banyak dan jernih, placenta cukup, gerakan aktif, detak jantung normal. Alhamdulillah walaupun dibawa puasa dan baru dibawa pulang mudik ke Majalengka kemarin, si dede sehat. Ibunya disarankan untuk banyak nyuci pakai tangan dan ngepel lantai jongkok, pokoknya gerakan yang bisa membuka paha dan menekan janin ke bawah. 

Padahal minggu ini ada banyak yang ingin saya diskusikan, tapi setelah mencatat di buku kehamilan, dokternya langsung pergi. ๐Ÿ˜ฃ

38w1d – 30 Juni 2017

Ditawarin pindah ke dokter kandungan cewek sama suster Eva, sebenarnya agak ragu, tapi kayanya kikuk juga sih sama dokter cowok. Jadinya saya pindah dokter lagi ke dr. Catherine, Sp.OG. Lebih interaktif dan detail dokter Ando, tapi mudah-mudahan lebih cocok sama dr. Catherine ya. Berat badan saya 57 kg, tekanan darahnya 103/76 mmHg. Berat badan janinnya 2.683 gram, plasenta korpus kanan, air ketuban cukup. Terus karena riwayat sebelumnya saya mengalami anemia, jadi disuruh cek lab di RS Pelni: Hemoglobin, leukosit, trombosit, dan hematokrit. Hasil labnya nanti langsung diinfokan ke dokter. 

39w1d – 07 Juli 2017

Tekanan darah saya 114/84. Berat badan ibu 58 kg. Berat badan janin 3.200 gram. Cairan ketuban cukup, plasenta ada di fundus. Hasil lab kemarin juga bagus, Hemoglobin: 10.3 / Leukosit: 9500 / Trombosit: 306.000 / Hematokrit: 31.7

40w1d – 14 Juli 2017

Tekanan darah saya 120/83 mmHg. Berat badan ibu masih 58 kg. Berat badan bayi 3.0 kg. Ketuban cukup. Pagi pukul 05.03 keluar lendir bercampur darah. Tapi kontraksi masih jarang. 

Jam 11.00 saya disuruh periksa CTG. Dan hasilnya bagus jadi saya disuruh kembali 3 hari lagi, jika belum ada kontraksi sampai 3 hari baru akan diinduksi. 

Ternyata pulang kontrol malamnya sudah kontraksi. Tunggu cerita soal persalinannya yaa… 

Advertisements

Fetal Movement Counting

Di pertemuan ke-empat senam hamil, instruktur baru kami bernama bidan Tri, menginformasikan tentang kartu monitor gerak janin. Kartu ini bisa didapatkan di poli kandungan atau PMO (Personal Maternity Officer). Gerakan janin ini merupakan salah satu indikator kesehatan janin. Bila janin bergerak, baik gerakan halus maupun kuat berarti in syaa Allah janin baik-baik saja, tapi jika janin tidak bergerak, hal tersebut harus diwaspadai. Selama ini dokter saya memantaunya melalui pemeriksaan USG, jadi tidak diberi kartu monitor gerak janin. 

Berdasarkan American College of Obstetricians and Gynecologists and American Academy of Pediatrics, tujuan dari monitoring kesehatan melalui gerak janin sebelum melahirkan termasuk ke dalam upaya mencegah kematian janin dan menghindari adanya intervensi yang tidak penting sejak dini. 
Monitoring gerakan ini sudah bisa dilakukan di usia kehamilan 28 minggu. Padahal janin saya sudah mulai bergerak sejak usia 18 minggu (fase quickening), seandainya saya lebih aware, mungkin record kesehatannya akan lebih terkontrol. Tapi saya tetap bersyukur, karena walaupun baru tahu informasi tentang fetal movement monitoring ini di usia kehamilan 36 minggu, setidaknya janin saya bergerak aktif dan sehat. 

Metode yang dipakai di kartu monitor gerak janin di atas disebut count to ten. Jadi tersedia kolom usia kehamilan tergantung kita mulai memonitor gerakan di usia kehamilan berapa minggu.

Kita memonitor gerakan janin selama 12 jam, tidak diharuskan dimulai dari jam berapa. Misal kita mulai dari jam 5 pagi maka berakhir di jam 5 sore. Untuk memudahkan memonitor, kita mencatatnya perjam, jadi jika si bayi menendang lebih dari satu kali di antara jam 5 pagi sampai jam 6 pagi, maka tetap diceklis di kolom 1 (sekali saja), baru di jam berikutnya jika menendang lagi diceklis di kolom ke-2, begitu seterusnya. Jika dalam satu jam misal di jam 7 sampai jam 8 bayi tidak bergerak, maka diberi tanda strip. 

Kalau selama 2 jam pemantauan tidak ada gerakan janin, jangan dulu cemas, tapi rangsang dulu janin kita untuk bergerak. Caranya, cobalah untuk mengkonsumsi makanan atau lakukan aktivitas lain seperti berbaring dengan posisi miring menghadap ke kiri, karena di bagian kanan terdapat pembuluh darah yang memberi oksigen ke janin, diharapkan dengan posisi miring ke kiri bisa memperbaiki aliran darah ke janin. 

Tapi jika setelah aktivitas rangsangan dilakukan dan tetap tidak ada gerakan janin, segera konsultasikan ke dokter, biasanya dokter akan melakukan CTG (Cardiotokografi) yaitu merekam pola denyut jantung bayi atau melakukan pemeriksaan USG. 

Sejujurnya setelah menerima kartu ini, saya jadi sedikit waswas karena terbawa suasana film Critical Eleven (maaf OOT) yang mana Aidan anak tokoh utama Ale dan Anya, tidak bergerak di usia kehamilan 9 bulan, bayangkan 2 minggu sebelum dilahirkan! Akhirnya Aidan dilahirkan dalam keadaan tak bernyawa, hiks. Tapi saya juga senang ketika bisa menceklis satu persatu kolom pencatatan. Semoga sehat terus ya, nak! Maafkan ibu dan ayahmu ini yang kurang rajin menggali informasi dan ilmu tentang pregnancy care, tapi kami akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu. See you soon, nak! ๐Ÿ˜˜

Senam Hamil

Berhubung kehamilan sudah mencapai usia 32 minggu, saya penasaran untuk ikut senam hamil. Semacam boosting kepercayaan diri buat melahirkan nanti.

Saya ikut senam hamil di RS Hermina Daan Mogot.

Jadwal senamnya:

  1. Senin jam 16.00-17.00
  2. Rabu jam 16.00-17.00
  3. Sabtu dibuka 3 sesi:
  • Jam 11.00-12.00 (sesi 1)
  • Jam 12.00-13.00 (sesi 2)
  • Jam 13.00-14.00 (sesi 3) 

    Sehari sebelumnya saya booking via whatsapp (bisa juga booking via telp). Caranya:

    Untuk harga, kalau pasiennya dari dokter hermina biaya senamnya 15 ribu, kalau dari dokter luar 25 ribu. Kebetulan dulu pertama kali usg untuk menentukan hamil atau tidaknya saya cek ke RS Hermina, jadi data saya terecord sebagai pasien di sana. 

    Saya datang 15 menit sebelum jam 16.00. Pertama saya konfirmasi pendaftaran di lantai 2, setelah itu melakukan pembayaran ke kasir (ada di sebelah loket pendaftaran tadi). Setelah beres, saya langsung naik ke lantai 5 menuju ruang serbaguna. Ruangannya luas dan nyaman. 

    Ketika saya datang, sedang ada rapat internal para perawat, dan mereka langsung bubar. *huhuhu maaf mengganggu* 

    Kemudian saya dipersilakan mengisi form daftar hadir sambil menunggu yang lain datang. Setelah dikonfirmasi oleh perawatnya, ternyata peserta senam hamil hari itu hanya saya. Wow! Berasa private! Menurut susternya, hal tersebut kemungkinan para ibu hamil masih belum tahu informasi senam hamil setiap Senin dan Rabu kembali dibuka setelah beberapa bulan vakum dikarenakan ada akreditasi Rumah Sakit. 

    Akhirnya setelah 9 menit menunggu, kami langsung memulai senam. Saya ditemani bidan Yohanah. Senam di RS Hermina ini, menggunakan metode Yopita (Yoga, Pilates, dan Hypnotherapy Taichi). Gerakannya kebanyakan melatih pernafasan, gerakan-gerakan supaya badan tidak kaku dan rileks, melenturkan otot vagina dan paha, kemudian diakhiri dengan relaksasi. 

    Senangnya senam sendirian ini, instruktur jadi fokus sama gerakan kita, tapi ga enaknya, ga ada temen sharing, terlalu khusyuk senam tapi tetep ga hafal gerakannya hahahaha

    Ketika relaksasi, kita disuruh tidur dengan mengosongkan pikiran, harus benar-benar rileks, ditemani musik klasik, lampu dipadamkan, baru boleh bangun kalau badan keram, dan kata bidannya, saya yang paling sukses dalam relaksasi, ketika yang lain 2 menit sudah langsung keram, saya 25 menit tertidur pulas tanpa keram (karena emang kurang tidur dan capek abis windows shopping) hahahaha

    Saya dibangunkan karena abang suami sudah datang menjemput, sedikit sharing (ini bentar banget aslinya, mungkin karena waktunya mepet atau saya yang terlalu lama ketiduran). Intinya suami harus selalu mensupport istri, kami harus yakin bisa melakukan gentle birth walaupun anak pertama. Dan ketika memasuki minggu ke-37, suami diperbolehkan melakukan induksi alami yakni dengan melakukan hubungan seks, karena cairan sperma ternyata melenturkan otot rahim sehingga si janin akan mudah melalui jalan lahir. (Jelas ini yang ditunggu suami hihihi) 

    Walaupun tidak sesuai ekspektasi awal setelah surfing ke blog mommies yang sharing tentang pengalamannya, tapi pengen ikutan lagi senam hamil. Walaupun bisa mengikuti instruksi di youtube, tapi mengikuti aktivitasnya langsung face to face jauh lebih menyenangkan. 

    USG 4D

    31w dan baru USG 4D? What? Ada keluhan apa? Iya jadi sebenarnya dokter kandunganku tidak menyuruh untuk USG 4D ini, tapi si emak pengen aja ngeliat dede lebih jelas. USG 4D ini sependek yang aku tahu untuk melihat apakah ada kelainan kongenital pada si janin atau tidak. Ketika dirasa hasil USG 2D mengarah ke kelainan maka dokter akan menyarankan untuk USG 4D untuk hasil yang lebih jelas. Usia yang disarankan untuk USG 4D ini 20w-24w, selambat-lambatnya 28w, karena semakin besar usia kandungan, semakin besar pula janinnya, maka rahim semakin sempit jadi susah untuk mendapatkan hasil yang maksimal. 

    Jadi, setelah telpon beberapa rumah sakit, untuk perbandingan harga :p diputuskanlah kami akan melakukan USG di RSIA Family. 

    Sebaiknya sebelum datang untuk USG, booking dulu via telpon seminggu/dua minggu sebelumnya. Tapi kebetulan aku yang datang langsung masih dapat jadwal USG yeay! 

    Jadi, prosedurnya, pertama ambil no. Antrian pendaftaran. Setelah dipanggil, diminta ktp atau identitas lain untuk pengisian data pasien baru. Setelah itu, dipanggil oleh suster untuk dicek tekanan darah dan ditanya beberapa hal mengenai kehamilan karena aku termasuk pasien baru, seperti HPHT, HPL, dr. Kandungannya siapa, rujukan dari mana, pernah jatuh atau tidak, dan banyak lagi. Aku lupa bawa buku hamil, sebaiknya dibawa aja yak kalo mau cek walaupun itu bukan ke rumah sakit yang biasa kita kontrol. 

    Setelah itu antri untuk melakukan USG. Kami menunggu nama dipanggil, karena tidak diberikan nomor antrian. Sonografer di RSIA Family ini ada dua, aku memilih dengan dr. Wanita bernama Dr. Inge Novarina. Jadwal dr. Inge setiap Rabu dan Sabtu jam 09.00-15.00 *cmiiw*

    Setelah mendapat panggilan, aku disuruh kencing untuk mengosongkan kandung kemih karena dikhawatirkan mengganggu hasil USG. Kemudian ketika bertatap muka dengan dokter, kami dijelaskan fungsi USG 4D dan usia yang ideal untuk USG. Kami diberi kesempatan apabila berubah pikiran untuk batal USG, mengingat usia kehamilan yang sudah tua. Tapi kami sudah tawakal dan tetap meneruskan USG.

    Sambil memperlihatkan satu persatu organ bayi, dokter juga menjelaskan detail berikut fungsinya. Seperti yang sudah disebutkan karena usia kehamilan yang sudah besar, maka telinga kanan dede tidak terlihat karena posisinya sedang miring, tapi overall semua organnya in syaa Allah normal. Setelah dicek, kami menunggu sekitar 10 menit untuk menerima laporan hasil dari dokter. 

    Ini hasil fotonya: 

    He smiles, oh my very lovey son!

    Kesimpulannya:

    Janin tunggal (padahal berharap kembar hehe), hidup, intrauterine, presentasi kepala biometri sesuai usia kehamilan 31w4d, TBJ: 1875 G, GP (Hadlock) : 60.9%, jantung: 4 chambers, DJJ: 144 x per minutes, reguler placenta grade 2, Echoparenkhim normal di Posterior, tinggi doppler A. Umbilicalis dan A. uterina normal, AFI (4 quadrant): normal, sex: male, testis (+/+), TP: 11/7/2017.

    NB: Tidak semua kelainan kongenital dapat dideteksi dengan USG, USG Obstetri dipengaruhi oleh usia kehamilan, posisi janin, jumlah air ketuban, posisi placenta dan tebal dinding perut ibu. Penilaian yang diberikan hanya berlaku untuk organ-organ yang dapat ditampilkan/terlihat selama pemeriksaan. 

    Nah, setelah mendapatkan hasil print out, dan laporannya, kami ngantri lagi untuk pembayaran. Total USG 4D disini +/- Rp 750.000,- termasuk konsultasi dokter, print out 4D, dan CD hasil USG. Recommended deh pokoknya, dokternya sabar dan detail dalam menjelaskan, hasil USGnya juga bagus. 

    Rasanya lega, seneng banget liat hasil USGnya, suami juga kayanya jadi makin cinta sama ibu dan anaknya hihihi aamiin. Semoga sehat terus ya dek, kami sudah tak sabar menantimu *kecup sayang ibu dan ayah*
    Alamat Rumah Sakit Ibu dan Anak Family:

    Jl. Pluit Mas I Blok A No. 2A-5A, Jakarta Utara 14450

    Telp: (021)6695066, 6694990

    Fax: (021) 6615563

    Website: http://www.rsiafamily.com