Memilih Susu Formula yang Cocok untuk Bayi diatas 1 Tahun

Berhubung Habibi sudah menginjak 11 bulan, mamak sudah mulai mencari informasi tentang susu formula. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan cairan Habibi pun meningkat, sedangkan asi cenderung konstan bahkan menurun produksinya. Dan entah harus senang atau sedih, Habibi lebih suka asi dibandingkan dengan air putih.

Mamak berencana saat Habibi menginjak usia satu tahun nanti, akan memakai susu formula sebagai selingan asi. Tapi walaupun begitu, mamak tidak mau asal dalam pemberiannya, setelah browsing, ternyata ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh susu formula follow up (susu formula yang bisa dikonsumsi bayi di atas 1 tahun) sesuai dengan codex alimentarius.

Berikut syarat-syaratnya:

1. Kandungan energi
Dalam penyajiannya yang sesuai dengan instruksi penggunaan, dalam 100 mL produk, harus mengandung minimal 60 kcal (or 250 kJ) dan maksimal 85 kcal (or 355 kJ).

2. Kandungan Gizi

2.1 Protein
2.1.1 Minimal 3 g per 100 kalori yang kualitas gizi proteinnya setara dengan kasein. Kualitas protein minimal 85% dari kasein dan maksimal 5.5 g per 100 kalori.

2.1.2 Asam amino esensial dapat ditambahkan hanya untuk menambah nilai gizi yaitu meningkatkan kualitas protein hanya dalam jumlah yang diperlukan. Dan hanya asam amino bentuk L yang harus digunakan.

2.2 Lemak
Minimal 3 g dan maksimal 6 g per 100 kalori.

2.3 Karbohidrat
Produk harus mengandung karbohidrat yang sesuai nutrisi yang diberikan kepada bayi di atas 1 tahun atau anak kecil dalam jumlah tertentu yang merujuk pada syarat kandungan energi di point 1.

2.4 Vitamin dan Mineral

Picture1Picture2Picture3

3. Bahan
Bahan harus dari susu sapi/binatang lain yang telah terbukti cocok dan memenuhi komposisi yang telah disebutkan di atas.

4. Persyaratan Kemurnian
Semua bahan harus bersih, berkualitas bagus, aman dan cocok untuk pencernaan bayi di atas 6 bulan. Selain itu harus sesuai kualitas persyaratan seperti warna, bau, dan rasa.

5. Senyawa vitamin dan Garam Mineral

Harus sesuai dengan Codex Alimentarius Commission (CAC/GL 10-1979).

6. Konsistensi dan Ukuran Partikel
Produk harus bebas dari gumpalan, dan partikel yang besar atau kasar.

7. Aditif Makanan atau Bahan Tambahan Pangan
Berikut adalah bahan aditif yang diperbolehkan:

Picture4Picture5

8. Kontaminan
Harus bebas dari sisa pestisida, dan antibiotik.

9. Hygiene
Produk harus bebas dari mikroorganisme patogen, tidak boleh mengandung zat yang berasal dari mikroorganisme dalam jumlah yang berbahaya untuk dikonsumsi dan tidak boleh mengandung racun atau zat merusak lainnya yang berbahaya untuk tubuh.

10. Pengemasan
Produk harus dikemas dalam wadah yang akan melindungi kualitas higienis dan kualitas makanan lainnya. Ketika dalam bentuk cair, produk harus dikemas dalam wadah tertutup rapat; nitrogen dan karbon dioksida dapat digunakan sebagai media pengepakan.
Wadah harus dibuat hanya dari zat yang aman dan cocok untuk tujuan penggunaannya.

11. Pengisian Wadah
11.1 Minimal 80% untuk berat yang kurang dari 150 g.
11.2 Minimal 85% untuk berat antara 150 – 250 g.
11.3 Minimal 90% untuk berat yang lebih dari 250 g.

12. Pelabelan
Mencatumkan nama makanan sesuai usia, sumber protein, dll, Daftar Bahan, Nilai nutrisi, Tanggal kadaluarsa dan instruksi penyimpanan, Instruksi pemakaian (termasuk peruntukan usianya).

 

Ribet ya? Pusing? Sama. PR selanjutnya adalah mencari susu formula yang memenuhi syarat tersebut atau minimal mendekati karena sepertinya jarang ada yang memenuhi semua syarat. cmiiw

 

Sumber:

CODEX STANDARD FOR FOLLOW-UP FORMULA
CODEX STAN 156-1987

Advertisements

Mencari Tahu Bakat Diri, Bekal Menjadi Ibu Produktif

Di NHW 7 Matrikulasi Institut Ibu Profesional, kami diajak untuk mengkonfirmasi potensi kekuatan dan kelemahan menggunakan tools yang dibuat oleh para ahli di bidang pemetaan bakat. Ada banyak tools yang sudah diciptakan oleh para ahli tersebut, diantaranya dapat dilihat secara online di http://www.temubakat.com http://tesbakatindonesia.com/ http://www.tipskarir.com dan masih banyak lagi berbagai tes bakat online maupun offline yang bisa kita pelajari.

salah satu tools yang bisa dicoba adalah http://www.temubakat.com yang kebetulan kita bisa mengkonfirmasi langsung ke penciptanya yaitu Abah Rama Royani, yang sering menjadi guru tamu di komunitas Ibu Profesional.

Bagi Anda yang ingin memakai fasilitas Free di temubakat.com silakan ikuti panduan di bawah ini:

  1. Masuk ke http://www.temubakat.com
  2. Isi nama lengkap Anda dan isi nama organisasi: Ibu Profesional
  3. Jawab Questioner yang ada di sana, setelah itu download hasilnya
  4. Amati hasil dan konfirmasi ulang dengan apa yang Anda rasakan selama ini.

Nah, berikut hasil temu bakat saya:

Picture1

Mari kita jabarkan, sesuai ga ya dengan yang saya rasakan selama ini?

1. AnalystPicture2

Saya tidak bisa mengkonfirmasi tentang hal yang satu ini, tapi saya memang menyukai ilmu pasti seperti matematika, tapi untuk analisis data, saya belum berkesempatan untuk mendalami lebih jauh hal tersebut.

2. CommanderPicture3

Mungkin pengaruh menjadi anak sulung, maka saya terbiasa mengambil tanggungjawab, saya terbiasa membagi tugas sesuai dengan peran dan kecakapan orang-orang di sekitar saya.

3. EducatorPicture4

Passion saya sepertinya memang mengajar, saya senang mendampingi anak belajar, sabar dan detail dalam menjelaskan sesuatu hal.

4. JournalistPicture5

Ini juga sesuai dengan kebiasaan saya. Dari dulu saya suka menulis diary, beranjak dewasa saya belajar menulis di blog, tapi tidak ada yng spesial.

5. StrategistPicture6

Dari SMA saya sudah terbiasa membuat mind mapping.

6. TreasuryPicture7

Saya suka mencatat daily expenses, tapi setelah menikah terkadang kurang konsisten.

7. VisionaryPicture8

Ya, terkadang saya stress dengan diri saya sendiri, merasa kurang rileks. Tapi saya memang mempersiapkan sedini mungkin untuk tujuan jangka panjang seperti dana pendidikan anak, impian bersama suami, bahkan dalam menentukan destinasi liburan pun, saya selalu membuat itenary. Kurang menantang, ya? 😀

Itu tadi potensi kekuatan saya, sekarang akan saya bahas potensi kelemahan saya:

1. Explorer

Picture9

Saya sulit menghubungkannya dengan kehidupan, maksudnya memberi contoh dalam kehidupan. Senang mempelajari latar belakang? Hmm… Apakah semacam stalking? Hahaha. Ini saya suka kok sebenarnya terlebih background para orang penting yang tercatat dalam sejarah.

 

2. Marketer

Picture10

Mungkin saya memang tidak cocok dalam hal ini, saya tidak menemukan alasan yang tepat.

3. Motivator

Picture11

Saya seorang yang good listener, tapi kadang suka susah untuk memberikan motivasi. Saya merasa kikuk jika menghadapi orang yang sedih. Khawatir membuat suasana tidak sesuai yang diharapkan dan lain-lain.

4. Producer

Picture12

Saya suka kok, membuat prakarya seperti DIY, Craft dan hal semacamnya tapi tidak ahli.

5. Safekeeper

Picture13

Hm, saya rasa semua wanita tepatnya semua ibu dilahirkan menjadi safekeeper, mereka super protektif soal keamanan buah hati mereka.

6. Seller

Picture14

Sejauh ini saya memang kurang konsisten dalam berbisnis melalui online shop, saya butuh tuntutan, makanya mungkin saya lebih cocok bekerja di ranah publik.

7. Server

Picture15

Saya bekerja di bidang jasa kesehatan, tapi entahlah, apakah itu berarti saya salah masuk jurusan? wkwk

 

Dari skema di atas, saya tidak berani membuat sebuah kesimpulan. Apakah selama ini saya menggeluti pekerjaan sesuai dengan bakat dan minat? Semoga para pencari bakat menemukan passion mereka sebelum terlambat.

Busui ikut Puasa?

Banyak pertanyaan seputar ibu menyusui yang ikut berpuasa. Bolehkah busui berpuasa? Amankah untuk bayi? Bagaimana supaya ASI tetap deras?

Awalnya juga saya ragu-ragu untuk ikut puasa, tapi saya mencoba sehari berpuasa dan ternyata Alhamdulillah kuat. Maka saya lanjutkan berpuasa. Pengalaman ketika hamil dulu yang Alhamdulillah bisa berpuasa sebulan penuh juga menambah optimisme saya.

Bolehkah busui berpuasa?

Jawabannya tentu boleh, dengan pertimbangan tidak membahayakan ibu dan si bayi.

Contoh berbahaya seperti apa jika busui berpuasa?

Sebenarnya yang dikhawatirkan adalah ibu dan si bayi mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Pengalaman saya sendiri, beberapa kali di luar bulan Ramadhan, sempat mengalami pusing, mual, dan lemas setelah memompa/menyusui. Tapi Alhamdulillah jika diniatkan beribadah sambil tetap mengASIhi, Allah selalu memberi jalan.

Bagaimana supaya ASI tetap deras walaupun sedang berpuasa?

Saya sendiri sebenarnya tidak ada treatment khusus, hanya beberapa hal yang saya terapkan:

1. Minum air putih yang cukup

Saya berusaha untuk minum air putih minimal 2L sehari. Saya menyediakan botol minum berukuran 2L yang bisa membantu mengontrol asupan cairan yang diminum.

2. Makan makanan yang bergizi

Ini jelas penting, selain jumlah ASI, perhatikan juga kualitas ASI kita ya, bun. Karena apa yang kita makan akan mengalir ke bayi kita juga. Saya selama bulan puasa ini biasanya memakan sayuran berkuah seperti sop, untuk dessert bisa berupa kolak, saya juga mengkonsumsi buah-buahan. Seringnya sih pisang, murmer dan menunda rasa lapar hehehe. Tidak lupa juga saya mengkonsumsi susu.

3. Istirahat yang cukup

Untuk menjaga kesehatan perlu istirahat yang cukup. Istirahat yang cukup juga bisa membantu kita mengontrol emosi.

4. Makan kurma

Banyak yang menyarankan untuk minum air nabeez selama berpuasa, yakni jus kurma dicampur dengan susu. Tapi karena masih pro kontra, saya hanya mengkonsumsi buah kurmanya langsung. Makan kurma ketika ifthar kan sunnah ya? 😊

5. Rileks, jangan stress!

Ketika kita rileks, maka tubuh akan mengeluarkan oksitosin yang membantu melancarkan ASI. Jadi kalau bunda aktif di ranah publik dan pekerjaan rumah menumpuk, rileks, kerjakan once bite a time, nanti juga beres, jangan keburu stress. Hehehe.

Hindari juga permasalahan yang membuat bunda kesal, tolerir suatu masalah jika memang masih bisa ditolerir. Bunda yang terlalu perfectionist biasanya akan lebih mudah stress, turunkan standar dan rileks bun.

6. Pumping

Walaupun sedang berpuasa, tetap pumping ya bun. Karena prinsipnya supply and demand, maka semakin sering kita mengosongkan payudara, maka tubuh akan memerintahkan untuk mensupply asi lebih banyak.

7. Minta dukungan dari suami dan keluarga

Suami bisa mendukung dengan melakukan pijat oksitosin untuk melancarkan ASI. Memberikan support secara verbal, seperti memuji istri untuk membuat hatinya bahagia. Mengajaknya berjalan-jalan atau liburan untuk menghilangkan kejenuhan.

Intinya, kita harus bahagia, ya, bun! Semoga bermanfaat!

Anak Anda Mengalami Growth Spurts?

Beberapa hari yang lalu saya merasa benar-benar bingung, sedikit stress mungkin. Pasalnya anak saya yang berusia 3 minggu, mendadak rewel, dan tidak berhenti menyusu. Siang ataupun malam dia susah sekali ditidurkan. Frekuensi menyusu jadi sangat sering, baru mau lepas menyusu kalau merasa tidak nyaman karena pipis atau pup, tapi setelah itu dia menangis lagi karena lapar. Bahkan ketika ketiduran saat menyusu, si bayi tidak mau melepaskan PD saya. Si bayi tidak betah berada di ranjangnya, dan selalu menempel ke ibunya seolah tidak pernah merasa kenyang. Apa yang salah?

Kakek nenek dan kakek nenek buyutnya ikut bingung. Mereka menyangka ASI saya tidak keluar, karena itu si bayi jadi tidak mau berhenti menyusu. Jadi mereka pun kompak memberi saya boosting makanan sayur daun kelor, bayam, bahkan minta suplemen pelancar ASI dari saudara yang juga sedang menyusui (tapi suplemen ini tidak saya makan). Sebenarnya pada awalnya saya merasa optimis kalau ASI saya keluar dan cukup, karena bukankah setiap ibu akan sadar ketika ASI turun? PD terasa kencang. Tapi lama kelamaan saya jadi ikut pesimis, karena hey, bukankah emosi itu menular? Ketika orang-orang di sekeliling merasa parno saya jadi ikut parno, terlebih karena kelelahan terjaga sepanjang malam. Biasanya bayi menangis ketika pipis atau pup tapi setelah celananya diganti dia kembali tenang, tapi kemarin seolah tidak sabar untuk menyusu, si bayi malah menangis makin kencang membuat pilu siapapun yang mendengar. Waktu itu Habibi menghabiskan 15 buah celananya dalam satu malam. Bisa anda bayangkan seberapa sering saya bangun?

Keadaan long distance marriage juga menambah sedih hati saya, ketika bayi rewel, support dari suami adalah yang paling saya butuhkan. Setidaknya sebuah pelukan dari suami bisa jadi penawar lelah. Aahhh, ayahnya Habibi, aku rinduuu…

Jadi bagaimana saya menyikapi hari-hari kemarin? Saya tetap menyusui sesuai keinginan si bayi. Alhamdulillah ada mamah (nenek Habibi) yang super strong, ikut terbangun ketika Habibi menangis, mengganti celananya ketika dia pipis atau pup, menemani saya menyusui Habibi supaya tidak ketiduran. Pernah saking lelahnya, saya tidak terbangun ketika Habibi menangis padahal dia tidur di sebelah saya hahaha akhirnya neneknya yang membangunkan saya. Tapi Alhamdulillah semua itu terjadi hanya beberapa hari saja, setelah itu Habibi jadi anteng, lebih banyak tertidur. Ah, lega rasanya.

Hari berlalu dan ternyata ketika hari ini saya surfing, baru saya dapatkan jawaban dari segala kegundahan beberapa hari yang lalu 😜 Jadi, kemarin itu, Habibi mengalami yang namanya Growth Spurts, yaitu percepatan pertumbuhan biasanya dalam 12 bulan pertama kehidupannya. Percepatan pertumbuhan di sini artinya bayi “didorong” untuk tumbuh lebih cepat dari biasanya sehingga dia membutuhkan asupan ASI lebih banyak dan tubuh Mama akan mendapatkan “natural alert ” untuk memproduksi dan menyuplai ASI lebih banyak lagi sesuai kebutuhan bayi.

Berdasarkan artikel online dari theurbanmama, berikut tanda-tanda bayi kita sedang mengalami growth spurts:

  1. Bayi menyusu lebih sering dari biasanya, kadang bisa setiap jam atau setiap 30 menit sekali atau hampir nonstop.
  2. Bayi lebih rewel dari biasanya, begitu rewel dan disodorkan payudara, bayi langsung mau menyusu. Mudahnya bayi lebih memilih “nempel” langsung pada Mamanya.
  3. Bayi sering bangun tengah malam untuk menyusu. Bayi seakan mengerti bahwa produksi hormon prolaktin paling tinggi pada malam hari.
  4. Gejala ini bisa berlangsung selama 2-3 hari, beberapa kasus ada bayi yang mengalami growth spurt sampai 1 minggu. Setelah periode growth spurt , bayi akan tidur lebih tenang dan lebih lama selama 1-2 hari, seakan-akan dia letih habis bekerja keras.

Persis banget dengan yang dialami Habibi. Ah, untung ibu bisa berjuang tetap memberikan ASI eksklusif untukmu, nak. Karena dari yang saya baca, banyak ibu yang frustasi ketika bayi mereka mengalami growth spurts dan memberikan sufor atau MPASI sebelum waktunya. Hiks. Nah, efek dari growth spurts ini belum bisa diketahui karena saya belum cek berat dan tinggi badan Habibi, tapi yang jelas terlihat, pipinya yang makin chubby, dan tingginya yang semakin panjang.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan mari terus belajar menjadi smart parents.

Sebutir Nasi

Menjalani setengah kehidupan dengan bersemedi di kampus, membuat hari demi hari tidak jauh berbeda. Semangat yang menggebu untuk menuntut ilmu, biasanya terpatahkan oleh rasa lelah, metode mengajar dosen yang monoton, dan berujung dengan saraf mata yang memberi alarm bahwa aku sudah terlalu kejam dengan memforsir kerjanya seharian itu.
Matahari yang meninggi, perut yang baru diisi, kombinasi yang tepat untuk menciptakan rasa ngantuk. Continue reading

Batasi Jajan

Melarang anak untuk tidak jajan sulit dilakukan. Apalagi jika anak sudah berumur sembilan tahun karena mereka biasanya malu jika membawa bekal dari rumah.

Meski tidak bisa dilarang, kebiasaan jajan pada anak-anak bisa dibatasi. Berikut tips cara membatasi jajan:

* Terapkan kebiasaan makan sehat dan beragam di rumah

* Batasi uang saku anak. Soal besaran uang saku sebaiknya dikomunikasikan dengan anak.

* Pilihan makanan yang akan dibeli sebaiknya dibatasi. Pilihlah makanan yang bersih, aman, dan sehat. Anak juga perlu diajari untuk memilih makanan yang baik.

* Ajarkan anak untuk mengelola uang dengan baik.

* Beri penghargaan kepada anak jika ia berhasil mengurangi kebiasaan jajan.

Membangun Komunikasi Dengan Anak

Komunikasi adalah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan. Tidak jarang ditemui masalah sering timbul karena adanya komunikasi yang tidak baik. Untuk menjaga keharmonisan keluarga, menjaga komunikasi adalah sangat diperlukan.

 

Mama_hug

Membangun komunikasi dengan sesama anggota keluarga memang tidak mudah, apalagi komunikasi dengan anak. Padahal, orang tua amat dianjurkan untuk menciptakan komunikasi, mengajak anaknya mengobrol meskipun hanya sebentar.

 

Beberapa cara bisa kita terapkan untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak. Hal pertama, Anda harus bisa menjadi pendengar yang baik.

 

Bila anak ingin menceritakan tentang sesuatu hal, hentikan kegiatan yang sedang Anda lakukan saat itu. Jika tidak, Anak akan merasa tak dipedulikan dan menganggap Anda tak punya waktu untuknya. Hindari pula memotong pembicaraan anak. Biarkan anak mengungkapkan perasaan marah, takut, kegembiraannya, atau ingin sekedar berkomentar. Di lain waktu, giliran anak yang mendengarkan perkataan Anda dan tidak ada salahnya Anda bercerita tentang topik yang sesuai dengan usianya.

 

Menjadi pendengar yang baik serta perhatian yang Anda berikan merupakan pemberian yang terbaik untuk anak-anak.

 

Hal selanjutnya yang bisa Anda lakukan adalah menciptakan komunikasi dua arah. Bila berbicara pada anak, beri mereka pilihan, bila memungkinkan. Biarkan mereka merasa sedang mengobrol dengan Anda, bukan sedang diatur. Ciptakan komunikasi dua arah, bukan komunikasi satu arah, dan bukan sikap mendikte.

 

Bila anak mempercayakan ceritanya pada Anda, mereka harus merasa lega, terinspirasi, merasakan dukungan Anda, dan bersemangat. jangan buat mereka merasa bersalah atau kecewa. Bila anak datang kepada Anda dan menceritakan masalah yang dihadapinya, dengarkan dengan penuh perhatian dan berikan dukungan melalui kata-kata.

 

Usahakan agar tidak menguasai pembicaraan. Bila anak bercerita dan anak merasa Anda terlalu cerewet atau kecewa dengan ceritanya, kemungkinan di lain waktu bila dia memiliki masalah, anak kapok menceritakannya ke Anda. Sebagai orang tua, tentu ada saatnya dimana harus membahas permasalahan yang dihadapi anka,. Pastikan Anda membahas masalahnya dan tidak melenceng dari tiu.

 

Usahakan untuk melepas atribut sebagai orang tua saat mendengarkan curhat anak dan cobalah menempatkan diri pada posisi anak. Pikir dan rasakan betapa sulitnya bagi anak untuk mengutarakan masalah yang dihadapinya dan pikirkan matang-matang sebelum memberi reaksi atau komentar.