Milestones: Habibi 1 Month

Time flies, ga kerasa Habibi udah 1 bulan. Alhamdulillah. Masa 1 bulan ini penuh haru biru suka duka banget buat si ibu newbie. Masa-masa insomnia. Masa-masa long distance marriage. Anaknya apik banget, pipis-nangis-minta netek-bobo, pup-nangis-minta netek-bobo. Siklusnya selalu seperti itu.

Alhamdulillah selama 1 bulan ini Habibi ga rewel. Umur 3 hari dia udah melakukan perjalanan jauh dari Jakarta ke Majalengka hihi. Setelah diimunisasi pun dia ga demam atau rewel. Paling seringnya Habibi minta netek bisa lama banget, sampe kadang ibunya kewalahan. Ketiduran pas mengASIhi, kesemutan, sakit punggung, puting lecet, sampe susah bangun buat mindahin Habibi pas tidur abis netek. Seru deh pokoknya!

Nah, milestone bayi 1 bulan berdasarkan buku KIA dan referensi dari internet itu sebagai berikut:

1. Menatap ke ibu
Habibi baru lihat ke ibunya menjelang usia 1 bulan ini, itu juga kalau lagi netek dan jarang. Seringnya cuek bebek aja.

2. Mengeluarkan suara “oooo” / “aaaaa”

Belum terlalu jelas sih bilang ooo atau aaa nya, tapi udah mulai “alewoh” sendiri.

3. Menggerakan kaki dan tangan secara aktif

Ini bener banget, pas ganti celana nendang-nendang, pas netek kalau udah kenyang tangannya suka dorong ibunya. Atau kalau ditidurin kaki sama tangannya gamau diem.

4. Kepala menoleh ke kanan dan ke kiri

Kalau mau disun pasti dia menoleh ke kanan dan ke kiri, gamau disun wkwk. Kalau lagi ditidurin juga gamau diem noleh noleh terus.

5. Bereaksi terhadap bunyi

Belum terlalu bereaksi sih kayanya. Kalau lagi anteng, ibunya tepuk tangan dia ga nyari sumber suaranya. Tapi kalau lagi rewel, terus dinyanyiin shalawat nariyah seringnya langsung diem dan anteng.

6. Bisa melihat pola hitam putih

Habibi suka banget liatin pintu sama lemari yang warnanya coklat. Sampe ga ngedip-ngedip, fokus banget dan lama.

7. Tersenyum dan tertawa

Habibi pertama kali senyum itu usia 1 minggu. Tapi bukan karena ngerespon orang, dia senyum sendiri tanpa sebab (seringnya smirking hahaha). Tapi belakangan kalau opanya lagi ngajak dia ngobrol, Habibi suka mulai senyum. Habibi mulai tertawa pas masuk usia 4 minggu. Tapi jarang.

8. Mengangkat kepala

Kalau lagi mandi, ditengkurepin pasti dia ngangkat kepalanya. Atau kalau lagi ditimang juga kadang kepalanya ngangkat sampe bikin kaget takut jatuh. Pas dibedong juga dia suka ngangkat kepala karena ga betah jadi gerak kaya duyung xoxo

Perkembangan lainnya, Habibi suka mainin ludah dari usia 1 hari, mungkin lapar kali ya karena ASI baru keluar di hari ke-3. Udah mulai suka ngemutin sarung tangannya, pegangan ke ember kalau lagi ditengkurepin pas mandi atau pas netek, bisa mimik ASI pake sendok.

Untuk perkembangan fisiknya, tepat 30 hari diimunisasi di posyandu.

Berat badannya: 4 kg

Tinggi badannya: 50 cm

Alhamdulillah ‘ala Kulli Hal. Selamat satu bulan ya, anakku sayang! Semoga Habibi sehat terus 😘

Anak Anda Mengalami Growth Spurts?

Beberapa hari yang lalu saya merasa benar-benar bingung, sedikit stress mungkin. Pasalnya anak saya yang berusia 3 minggu, mendadak rewel, dan tidak berhenti menyusu. Siang ataupun malam dia susah sekali ditidurkan. Frekuensi menyusu jadi sangat sering, baru mau lepas menyusu kalau merasa tidak nyaman karena pipis atau pup, tapi setelah itu dia menangis lagi karena lapar. Bahkan ketika ketiduran saat menyusu, si bayi tidak mau melepaskan PD saya. Si bayi tidak betah berada di ranjangnya, dan selalu menempel ke ibunya seolah tidak pernah merasa kenyang. Apa yang salah?

Kakek nenek dan kakek nenek buyutnya ikut bingung. Mereka menyangka ASI saya tidak keluar, karena itu si bayi jadi tidak mau berhenti menyusu. Jadi mereka pun kompak memberi saya boosting makanan sayur daun kelor, bayam, bahkan minta suplemen pelancar ASI dari saudara yang juga sedang menyusui (tapi suplemen ini tidak saya makan). Sebenarnya pada awalnya saya merasa optimis kalau ASI saya keluar dan cukup, karena bukankah setiap ibu akan sadar ketika ASI turun? PD terasa kencang. Tapi lama kelamaan saya jadi ikut pesimis, karena hey, bukankah emosi itu menular? Ketika orang-orang di sekeliling merasa parno saya jadi ikut parno, terlebih karena kelelahan terjaga sepanjang malam. Biasanya bayi menangis ketika pipis atau pup tapi setelah celananya diganti dia kembali tenang, tapi kemarin seolah tidak sabar untuk menyusu, si bayi malah menangis makin kencang membuat pilu siapapun yang mendengar. Waktu itu Habibi menghabiskan 15 buah celananya dalam satu malam. Bisa anda bayangkan seberapa sering saya bangun?

Keadaan long distance marriage juga menambah sedih hati saya, ketika bayi rewel, support dari suami adalah yang paling saya butuhkan. Setidaknya sebuah pelukan dari suami bisa jadi penawar lelah. Aahhh, ayahnya Habibi, aku rinduuu…

Jadi bagaimana saya menyikapi hari-hari kemarin? Saya tetap menyusui sesuai keinginan si bayi. Alhamdulillah ada mamah (nenek Habibi) yang super strong, ikut terbangun ketika Habibi menangis, mengganti celananya ketika dia pipis atau pup, menemani saya menyusui Habibi supaya tidak ketiduran. Pernah saking lelahnya, saya tidak terbangun ketika Habibi menangis padahal dia tidur di sebelah saya hahaha akhirnya neneknya yang membangunkan saya. Tapi Alhamdulillah semua itu terjadi hanya beberapa hari saja, setelah itu Habibi jadi anteng, lebih banyak tertidur. Ah, lega rasanya.

Hari berlalu dan ternyata ketika hari ini saya surfing, baru saya dapatkan jawaban dari segala kegundahan beberapa hari yang lalu 😜 Jadi, kemarin itu, Habibi mengalami yang namanya Growth Spurts, yaitu percepatan pertumbuhan biasanya dalam 12 bulan pertama kehidupannya. Percepatan pertumbuhan di sini artinya bayi “didorong” untuk tumbuh lebih cepat dari biasanya sehingga dia membutuhkan asupan ASI lebih banyak dan tubuh Mama akan mendapatkan “natural alert ” untuk memproduksi dan menyuplai ASI lebih banyak lagi sesuai kebutuhan bayi.

Berdasarkan artikel online dari theurbanmama, berikut tanda-tanda bayi kita sedang mengalami growth spurts:

  1. Bayi menyusu lebih sering dari biasanya, kadang bisa setiap jam atau setiap 30 menit sekali atau hampir nonstop.
  2. Bayi lebih rewel dari biasanya, begitu rewel dan disodorkan payudara, bayi langsung mau menyusu. Mudahnya bayi lebih memilih “nempel” langsung pada Mamanya.
  3. Bayi sering bangun tengah malam untuk menyusu. Bayi seakan mengerti bahwa produksi hormon prolaktin paling tinggi pada malam hari.
  4. Gejala ini bisa berlangsung selama 2-3 hari, beberapa kasus ada bayi yang mengalami growth spurt sampai 1 minggu. Setelah periode growth spurt , bayi akan tidur lebih tenang dan lebih lama selama 1-2 hari, seakan-akan dia letih habis bekerja keras.

Persis banget dengan yang dialami Habibi. Ah, untung ibu bisa berjuang tetap memberikan ASI eksklusif untukmu, nak. Karena dari yang saya baca, banyak ibu yang frustasi ketika bayi mereka mengalami growth spurts dan memberikan sufor atau MPASI sebelum waktunya. Hiks. Nah, efek dari growth spurts ini belum bisa diketahui karena saya belum cek berat dan tinggi badan Habibi, tapi yang jelas terlihat, pipinya yang makin chubby, dan tingginya yang semakin panjang.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan mari terus belajar menjadi smart parents.

Melahirkan Anak Pertama

Alhamdulillah tanggal 15 Juli 2017 kemarin jam 10.43 am saya melahirkan anak laki-laki dengan berat badan 3.2 Kg, tinggi badan 48 cm dan lingkar kepala 34 cm di Rumah Sakit Pelni Petamburan dibantu oleh dr. Atut, SP.OG. Berikut cerita proses persalinannya. 

Jumat, 14 Juli 2017

Pagi harinya saya masih cek up rutin ke dokter Catherine, SP. OG. Siang harinya saya melakukan CTG. Nah, ketika CTG sebenarnya sudah terdeteksi adanya kontraksi, jadi CTGnya diulang. Ketika dilihat hasilnya bagus, saya disuruh kembali 3 hari kemudian, jika belum ada kontraksi dalam 3 hari baru akan diinduksi. Usia kandungan saya 40w1d.

Sorenya perut sudah mulai terasa mules, tapi masih bingung apakah itu kontraksi atau bukan. Baru sekitar jam 8 malam, saya bilang ke suami, dan kami mengobservasi kontraksi tersebut bersama-sama. Ternyata kontraksinya sudah teratur 20 menit sekali. Waktu itu diberi pesan oleh perawat, kalau kontraksi sudah 30 menit sekali langsung datang saja ke IGD. Khawatir karena jarak rumah sakit yang jauh dari rumah, maka kami memutuskan untuk berangkat. Di perjalanan, kontraksi jadi 10 menit sekali. 

Sampai di rumah sakit, saya dibantu oleh satpam dibawa ke IGD maternal menggunakan kursi roda. Sedangkan suami saya mengurus pendaftaran. Ternyata ramai sekali, saya harus menunggu beberapa lama sebelum mendapat bed. Sambil menunggu pasien dipindah ke ruang observasi, saya sementara tidur di bed extra. Saya masih bisa makan nasi goreng, minum manis. 

Setelah mendapat bed, jam 22.00 saya dicek doppler, pengukuran tinggi fundus, dan dicek CTG lagi oleh perawat/bidan bernama Lita. Kemudian dicek pembukaan berapa. Saya baru tahu cara mengecek pembukaan itu dengan cara memasukkan tangan ke jalan lahir, rasanya luar biasa. Dan waktu itu saya baru pembukaan 1, padahal saya berharap sudah pembukaan 5 hehehe. Untuk mengurangi rasa saya terus mengambil nafas panjang. Tapi dibanding yang lain, kondisi saya yang paling fit, masih bisa ngobrol ceria dengan suami. 

Di IGD tak banyak aktivitas, kami hanya menunggu pembukaan maju, tapi setidaknya hati saya tenang dan bersyukur setelah tahu adanya pembukaan. Lewat tengah malam saya jadi sering buang gas. 

Sabtu, 15 Juli 2017

Jam 2.30 AM saya dipasang infus dan diambil darah. Sejauh yang bisa diingat, ini pertama kalinya saya diinfus, sakit. Tidak berapa lama, dr jaga IGD yang bernama dr. Daniel bilang kalau dr. Catherine tidak bisa dihubungi, karena rencana persalinan normal berisiko maka saya dioper ke dokter jaga, yaitu dr. Atut, saya hanya mengiyakan. Saya tertidur ketika ditinggal suami keluar, dan baru terbangun jam 4.30 AM ketika suami saya datang, dan saya dipindahkan ke ruang VK kenari. Saya ditempatkan di ruang observasi bersama 3 pasien yang lain. 

Jam 5.30 AM saya diperiksa EKG oleh bidan Hesty. Menjelang pagi, kontraksi makin jarang, saya sudah tidak mengobservasi kontraksi tersebut. Tapi selain kontraksinya yang semakin jarang, durasinya juga semakin pendek. Jam 6.31 ada Bidan yang memberitahu kalau saya akan diinduksi, kalau sampai jam 10 belum melahirkan, maka saya terpaksa disectio caesar. Maka infus disuntik synto 10 unit. Kontraksi jadi sering tapi durasinya tetap pendek, lama-kelamaan kontraksi jadi jarang, pas saya cek ternyata infusnya tidak mengalir, tidak ada bidan yang lalu lalang selama beberapa waktu. Kontraksi semakin sakit ketika saya pergi ke kamar mandi. Di ruang observasi ini kami tidak diizinkan untuk ditemani pendamping. Suami terakhir menemani ketika menyuapi sarapan pagi. 

Dari awal disuntik induksi, bidan sudah menyuruh saya puasa, dan suami disuruh menandatangani informed consent. saya yakin pasti akan berujung sc, hiks. Jam 10 dan dicek, pembukaan masih jauh, sempit, dan kecil, pembukaan 2. Akhirnya saya pun diboyong ke ruang OK menggunakan kursi roda. 

Di ruang persiapan saya dibaringkan di bed dan langsung ke ruangan, badan saya menggigil. Perawat yang membantu operasi membantu melepas semua pakaian saya, karena tidak ada kain (hey, i am alone and i know nothing) jadi badan saya ditutupi seadanya. Kemudian dokter anestesi menyuntikkan anestesi ke sumsum tulang belakang (kali ya, pokoknya daerah punggung bawah) dokternya udah ahli kali ya, ga sakit Alhamdulillah, cuma kaget pas awalnya saja. Saya dibaringkan, tangan kanan diikat dengan tali, tangan kiri dipasang tensimeter. Lama kelamaan kaki sampe setengah badan mati rasa. Saya tiba-tiba jadi sedih.

Dokter Atut sebagai pemimpin operasi, memulai operasi dengan do’a bersama, kemudian memperkenalkan orang-orang yang terlibat dalam operasi. Operasi dimulai, walaupun sadar, tapi saya tidak bisa melihat tindakan yang dilakukan karena dihalangi oleh tirai yang dipasang di atas dada saya. Suasana operasi santai, ada musik mengalun, para dokter dan perawat juga mengobrol dan bercanda dalam bahasa jawa, sambil tetap mengerjakan tugasnya masing-masing. Meski demikian, hati saya tetap tidak bisa tenang. Saya menutup mata, menahan air mata, sambil terus berdo’a dalam hati. Melihat saya menutup mata, ada perawat yang membangunkan dan mengajak ngobrol. Rasanya sebentar, saya hanya ingat perawat yang mengajak ngobrol tadi, mendorong perut saya, kemudian dokter bilang bayinya sudah keluar. Dokter memperlihatkan bayi saya dari atas tirai, saya pun menangis terharu. Terdengar tangisan bayi, hanya sebentar, mungkin bayinya langsung diambil perawat untuk dibersihkan. Dokter bilang, bayinya putih, bersih banget, air ketuban saya masih bagus soalnya, jadi bayi tidak berlumuran darah sama sekali. 

Setelah beberapa lama, ada perawat yang melakukan inisiasi menyusu dini, dia menempelkan mulut si bayi ke payudara secara langsung, karena perut saya masih dalam tindakan. Setelah selesai, dokter mengumumkan jam kelahiran anak saya. Perawat menyuntikkan sesuatu melalui infus saya, katanya itu obat anti mual. Kemudian semua bubar, sedangkan saya masih ditinggal di ruang operasi. Tak berapa lama, kemudian datang perawat membawa bed dan saya dipindahkan ke ruang tunggu. Di ruangan itu, ada banyak pasien pasca operasi, tidak hanya melahirkan tapi juga pasien mata, dll. Ada pasien wanita pasca sc yang mengeluh pusing dan muntah-muntah. Awalnya saya tidak merasakan apa-apa, tapi lama kelamaan, kepala saya terasa pusing, badan menggigil, dan nafas saya pendek-pendek. Saya terus beristighfar sambil mengambil nafas panjang-panjang. Sedih banget rasanya, sendirian, tak berdaya, sesak nafas, takut ga bisa bertemu lagi dengan orang-orang. 

Cukup lama saya berada di ruang tunggu, memperhatikan orang lalu lalang, pasien yang terus berdatangan, dokter yang hilir mudik. Sampai ruangan penuh saya masih belum juga dipindahkan. Ketika saya cek, ternyata infus saya macet, saya meminta tolong entah perawat entah dokter, tapi orang yang saya mintai tolong malah melempar ke orang lain, dan baru setelah lama sekali, infus saya dibetulkan. Ketika sudah tidak ada cukup ruang, baru saya dijemput, saya dioper lagi ke bed yang lain, kemudian dipakaikan gurita dan pakaian rumah sakit. Setelah itu saya menunggu lagi di ruang persiapan, bersama dengan para pasien yang akan dioperasi. Baru sekitar 3 pasien sc sudah ada di ruangan, kami dibawa ke ruang perawatan. Ketika keluar ruangan, suami datang menghampiri, rasanya bahagia sekali, tapi saya sangat lemas untuk mengeluarkan suara, saya hanya tersenyum. Saya dirawat di ruang kenari nomor 2.

Alhamdulillah, walaupun banyak yang menyayangkan, “kalau lahir di bidan atau kampung pasti normal”, “kalau di rumah sakit semuanya pasti sectio, ga ada yang normal, dokter sekarang pada ga sabaran”, dan masih banyak lagi. Tapi saya bersyukur, ini qadarullah, Allah memberikan keselamatan pada saya dan bayi saya saja sudah merupakan rahmat yang luar biasa. Alhamdulillah, saya tidak bisa berhenti mengucap syukur tiap melihat malaikat kecil yang sekarang hadir, dia selalu mengingatkan bagaimana rasanya terkapar tak berdaya di ruang operasi, dan betapa bahagianya bisa melihat lagi wajah suami yang tersenyum menyambut saya. 

Cerita tentang pertemuan dengan bayi akan diposting di tulisan selanjutnya ya. 

Pregnancy Check Up

Beberapa minggu sejak menikah tanggal 4 September 2017, saya sering tidak enak badan, perut serasa kembung, lemas, mual, dan cepat lelah. Menstruasi saya pun telat seminggu dari jadwal biasanya, antara bingung dan excited, saya pun melakukan test pack, sayangnya hasilnya negatif, saya coba dengan test pack yang lain, hasilnya masih tetap sama. Kami berasumsi saya hanya kelelahan, masih beradaptasi menghadapi rutinitas baru sebagai seorang istri sekaligus wanita karir dengan jarak tempuh kerja yang tidak sedekat dulu. 

Di bulan berikutnya menstruasi saya kembali telat dan saya kembali melakukan test pack pada 9 November 2016. Alhamdulillah dua garis merah. Positif ! Ada janin di rahim saya, saya yang excited langsung memberi tahu ayahnya, dan keluarga di rumah. Mereka juga sumringah dan langsung ngasi banyak wejangan. 

Untuk memastikan, tanggal 12 November 2017, sepulang kerja kami pun kontrol ke RS Hermina Daan Mogot. Dr. Katrina Puspita, Sp. OG yang menangani kami. Dilakukan USG transvaginal, rasanya ehm… agak risih. Menurut dokter, di kantung rahimnya sudah ada bakal janin, tapi yang saya lihat cuma kantung, tak terbaca 😁.  Untuk kesimpulannya saya diharuskan datang 2 minggu lagi dan saya diresepkan suplemen kehamilan. 

  1. Folamil Genio 1 x sehari 1 kapsul
  2. Utrogestan Tab 100 mg 1 x sehari 1 tablet (dimakan malam hari) 

Total kerusakan di cek up pertama ini:

  1. Resep obat-obatan/suplemen hamil: Rp 257.400
  2. Konsultasi Dr. Obgyn Rp 199.000
  3. USG Transvaginal tanpa print out Rp 154.000

Totalnya: Rp 610.400

Keluhan waktu itu, saya keputihan, dokter obgyn menyarankan untuk menggunakan betadine cair sebagai pembersih vagina. Tapi tidak saya praktikkan karena di keterangan kemasannya, tidak disarankan untuk wanita hamil. 

Di dua minggu berikutnya, saya tidak cek di Hermina lagi. Tapi pindah ke RS Pelni Petamburan, berhubung abang kerja di sana jadi biaya cek up dicover oleh rumah sakit. Alhamdulillah, lumayan uangnya bisa buat ditabung. 😇

Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) saya yaitu 6 Oktober 2016. Hari Taksiran Persalinan (HTP) nya: 13 Juli 2017.

8w6d – 7 Desember 2016 

Saya dapat antrian No. 1 dr. Parmanto Setihusodo, Sp. OG. Tekanan darah saya 96/70 (mmHg), berat badannya 43 kg. Kami mendengar denyut jantung bayi kami pertama kali, rasanya bahagia sekali. Masih takjub, di dalam perut manusia bisa hidup makhluk hidup lain, masyaa Allah.

Saya diberi suplemen folavit tablet 400 nanogram dan eklena 1x sehari 1 tablet sesudah makan. 

13w4d – 06 Januari 2017

Sejauh ini dari pertama tahu saya hamil, tidak ada keluhan mual, tidak pernah muntah, ataupun kena morning sickness. Bayi yang in syaa Allah sholeh dan tidak pernah merepotkan ibunya dari sejak kandungan aamiin. 

Tekanan darah saya 107/76 mmHg. Berat badan 45 kg. Di pertemuan pertama saya minta form pengantar untuk pemeriksaan TORCH dari dokter. Dan hasilnya ada beberapa yang harus diwaspadai. 

  • Hb: 11.6 
  • Anti-Toxoplasma IgG: Reaktif dengan konsentrasi 57.6
  • Anti-CMV IgG: Positif dengan konsentrasi 663.2

Sebenarnya itu infeksi lampau, disarankan untuk pemeriksaan lanjutan aviditas seharusnya. Dokter langsung meresepkan obat, tapi tidak saya tebus, saya masih khawatir untuk konsumsi obat-obatan selama kehamilan. 

18w4d – 13 Februari 2017

Di pertemuan ketiga, keluhan saya masih tentang keputihan. Sebenarnya normal karena tidak berwarna dan berbau, tapi tetap risih. Dokter menyarankan untuk sering mengganti underwear dan mengeringkan alat kelamin dengan tissue setiap habis buang air kecil supaya kelembaban daerah genital tetap terjaga. 

Tekanan darah saya 106/78 mmHg, berat badan 46 kg. Saya masih diberi suplemen obat folavit dan eklena. 

20w4d –  27 Februari 2017

Berhubung dapat kabar bahwa dr. Parmanto sedang sakit dan harus dirawat, maka saya pindah ke dr. Mustika Ariando, Sp. OG. Alhamdulillah dr. Ando ini sangat interaktif sekali dan masih muda. Dari awal kami disambut dengan perkenalan, kemudian dijelaskan keadaan kandungan yang normal, yaitu kepala menghadap jalan lahir (posisi di bawah), tidak ada lilitan, dan air ketuban cukup. 

Jenis kelamin anak kami sudah terlihat yaitu laki-laki. Tidak ada lilitan, BB janin: 390 gram (sesuai dengan usianya), gerakan aktif, ketuban cukup, denyut jantung terdeteksi, posisi kepala di bawah. 

Tekanan darah saya 99/68 mmHg, berat badan 47,5 kg. Dan masih diresepkan suplemen yang sama yaitu folavit dan eklena. 

24w4d – 27 Maret 2017

Berat badan saya 51 kg. Tekanan darah 108/64 mmHg. Kepala bayi sungsang hiks, berat badan janin 670 gram, placenta normal, ketuban cukup, gerakan aktif, denyut jantung terdeteksi. 

32w4d – 22 Mei 2017

Berat badan saya 57 kg. Hb mulai turun drastis jadi 9.0 karena tiap malam susah tidur, kaki dan pinggang mulai pegal-pegal. Alhamdulillah walaupun emaknya Hb nya turun tapi si bayi tetap sehat berat badannya 1.900 gram, kepalanya sudah di bawah yeayyyy!!! Tidak ada lilitan, placenta normal, gerakan aktif, dan denyut jantung terdeteksi. 

Kali ini saya diresepkan folavit, eklena, dan obat penambah darah/inbion. Tapi saya mengganti folavit dengan folamil genio yang saya beli di apotik. Karena menurut apoteker, folavit itu hanya disarankan untuk usia kehamilan awal, sedangkan memasuki trimester kedua, disarankan mengkonsumsi folamil genio. 

36w6d – 21 Juni 2014

Berat badan saya 55 kg, berat badan janin 2.500 gram. Ada 1x lilitan tali pusar, kepala janin masih belum masuk panggul, air ketuban masih banyak dan jernih, placenta cukup, gerakan aktif, detak jantung normal. Alhamdulillah walaupun dibawa puasa dan baru dibawa pulang mudik ke Majalengka kemarin, si dede sehat. Ibunya disarankan untuk banyak nyuci pakai tangan dan ngepel lantai jongkok, pokoknya gerakan yang bisa membuka paha dan menekan janin ke bawah. 

Padahal minggu ini ada banyak yang ingin saya diskusikan, tapi setelah mencatat di buku kehamilan, dokternya langsung pergi. 😣

38w1d – 30 Juni 2017

Ditawarin pindah ke dokter kandungan cewek sama suster Eva, sebenarnya agak ragu, tapi kayanya kikuk juga sih sama dokter cowok. Jadinya saya pindah dokter lagi ke dr. Catherine, Sp.OG. Lebih interaktif dan detail dokter Ando, tapi mudah-mudahan lebih cocok sama dr. Catherine ya. Berat badan saya 57 kg, tekanan darahnya 103/76 mmHg. Berat badan janinnya 2.683 gram, plasenta korpus kanan, air ketuban cukup. Terus karena riwayat sebelumnya saya mengalami anemia, jadi disuruh cek lab di RS Pelni: Hemoglobin, leukosit, trombosit, dan hematokrit. Hasil labnya nanti langsung diinfokan ke dokter. 

39w1d – 07 Juli 2017

Tekanan darah saya 114/84. Berat badan ibu 58 kg. Berat badan janin 3.200 gram. Cairan ketuban cukup, plasenta ada di fundus. Hasil lab kemarin juga bagus, Hemoglobin: 10.3 / Leukosit: 9500 / Trombosit: 306.000 / Hematokrit: 31.7

40w1d – 14 Juli 2017

Tekanan darah saya 120/83 mmHg. Berat badan ibu masih 58 kg. Berat badan bayi 3.0 kg. Ketuban cukup. Pagi pukul 05.03 keluar lendir bercampur darah. Tapi kontraksi masih jarang. 

Jam 11.00 saya disuruh periksa CTG. Dan hasilnya bagus jadi saya disuruh kembali 3 hari lagi, jika belum ada kontraksi sampai 3 hari baru akan diinduksi. 

Ternyata pulang kontrol malamnya sudah kontraksi. Tunggu cerita soal persalinannya yaa… 

Fetal Movement Counting

Di pertemuan ke-empat senam hamil, instruktur baru kami bernama bidan Tri, menginformasikan tentang kartu monitor gerak janin. Kartu ini bisa didapatkan di poli kandungan atau PMO (Personal Maternity Officer). Gerakan janin ini merupakan salah satu indikator kesehatan janin. Bila janin bergerak, baik gerakan halus maupun kuat berarti in syaa Allah janin baik-baik saja, tapi jika janin tidak bergerak, hal tersebut harus diwaspadai. Selama ini dokter saya memantaunya melalui pemeriksaan USG, jadi tidak diberi kartu monitor gerak janin. 

Berdasarkan American College of Obstetricians and Gynecologists and American Academy of Pediatrics, tujuan dari monitoring kesehatan melalui gerak janin sebelum melahirkan termasuk ke dalam upaya mencegah kematian janin dan menghindari adanya intervensi yang tidak penting sejak dini. 
Monitoring gerakan ini sudah bisa dilakukan di usia kehamilan 28 minggu. Padahal janin saya sudah mulai bergerak sejak usia 18 minggu (fase quickening), seandainya saya lebih aware, mungkin record kesehatannya akan lebih terkontrol. Tapi saya tetap bersyukur, karena walaupun baru tahu informasi tentang fetal movement monitoring ini di usia kehamilan 36 minggu, setidaknya janin saya bergerak aktif dan sehat. 

Metode yang dipakai di kartu monitor gerak janin di atas disebut count to ten. Jadi tersedia kolom usia kehamilan tergantung kita mulai memonitor gerakan di usia kehamilan berapa minggu.

Kita memonitor gerakan janin selama 12 jam, tidak diharuskan dimulai dari jam berapa. Misal kita mulai dari jam 5 pagi maka berakhir di jam 5 sore. Untuk memudahkan memonitor, kita mencatatnya perjam, jadi jika si bayi menendang lebih dari satu kali di antara jam 5 pagi sampai jam 6 pagi, maka tetap diceklis di kolom 1 (sekali saja), baru di jam berikutnya jika menendang lagi diceklis di kolom ke-2, begitu seterusnya. Jika dalam satu jam misal di jam 7 sampai jam 8 bayi tidak bergerak, maka diberi tanda strip. 

Kalau selama 2 jam pemantauan tidak ada gerakan janin, jangan dulu cemas, tapi rangsang dulu janin kita untuk bergerak. Caranya, cobalah untuk mengkonsumsi makanan atau lakukan aktivitas lain seperti berbaring dengan posisi miring menghadap ke kiri, karena di bagian kanan terdapat pembuluh darah yang memberi oksigen ke janin, diharapkan dengan posisi miring ke kiri bisa memperbaiki aliran darah ke janin. 

Tapi jika setelah aktivitas rangsangan dilakukan dan tetap tidak ada gerakan janin, segera konsultasikan ke dokter, biasanya dokter akan melakukan CTG (Cardiotokografi) yaitu merekam pola denyut jantung bayi atau melakukan pemeriksaan USG. 

Sejujurnya setelah menerima kartu ini, saya jadi sedikit waswas karena terbawa suasana film Critical Eleven (maaf OOT) yang mana Aidan anak tokoh utama Ale dan Anya, tidak bergerak di usia kehamilan 9 bulan, bayangkan 2 minggu sebelum dilahirkan! Akhirnya Aidan dilahirkan dalam keadaan tak bernyawa, hiks. Tapi saya juga senang ketika bisa menceklis satu persatu kolom pencatatan. Semoga sehat terus ya, nak! Maafkan ibu dan ayahmu ini yang kurang rajin menggali informasi dan ilmu tentang pregnancy care, tapi kami akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu. See you soon, nak! 😘

Senam Hamil

Berhubung kehamilan sudah mencapai usia 32 minggu, saya penasaran untuk ikut senam hamil. Semacam boosting kepercayaan diri buat melahirkan nanti.

Saya ikut senam hamil di RS Hermina Daan Mogot.

Jadwal senamnya:

  1. Senin jam 16.00-17.00
  2. Rabu jam 16.00-17.00
  3. Sabtu dibuka 3 sesi:
  • Jam 11.00-12.00 (sesi 1)
  • Jam 12.00-13.00 (sesi 2)
  • Jam 13.00-14.00 (sesi 3) 

    Sehari sebelumnya saya booking via whatsapp (bisa juga booking via telp). Caranya:

    Untuk harga, kalau pasiennya dari dokter hermina biaya senamnya 15 ribu, kalau dari dokter luar 25 ribu. Kebetulan dulu pertama kali usg untuk menentukan hamil atau tidaknya saya cek ke RS Hermina, jadi data saya terecord sebagai pasien di sana. 

    Saya datang 15 menit sebelum jam 16.00. Pertama saya konfirmasi pendaftaran di lantai 2, setelah itu melakukan pembayaran ke kasir (ada di sebelah loket pendaftaran tadi). Setelah beres, saya langsung naik ke lantai 5 menuju ruang serbaguna. Ruangannya luas dan nyaman. 

    Ketika saya datang, sedang ada rapat internal para perawat, dan mereka langsung bubar. *huhuhu maaf mengganggu* 

    Kemudian saya dipersilakan mengisi form daftar hadir sambil menunggu yang lain datang. Setelah dikonfirmasi oleh perawatnya, ternyata peserta senam hamil hari itu hanya saya. Wow! Berasa private! Menurut susternya, hal tersebut kemungkinan para ibu hamil masih belum tahu informasi senam hamil setiap Senin dan Rabu kembali dibuka setelah beberapa bulan vakum dikarenakan ada akreditasi Rumah Sakit. 

    Akhirnya setelah 9 menit menunggu, kami langsung memulai senam. Saya ditemani bidan Yohanah. Senam di RS Hermina ini, menggunakan metode Yopita (Yoga, Pilates, dan Hypnotherapy Taichi). Gerakannya kebanyakan melatih pernafasan, gerakan-gerakan supaya badan tidak kaku dan rileks, melenturkan otot vagina dan paha, kemudian diakhiri dengan relaksasi. 

    Senangnya senam sendirian ini, instruktur jadi fokus sama gerakan kita, tapi ga enaknya, ga ada temen sharing, terlalu khusyuk senam tapi tetep ga hafal gerakannya hahahaha

    Ketika relaksasi, kita disuruh tidur dengan mengosongkan pikiran, harus benar-benar rileks, ditemani musik klasik, lampu dipadamkan, baru boleh bangun kalau badan keram, dan kata bidannya, saya yang paling sukses dalam relaksasi, ketika yang lain 2 menit sudah langsung keram, saya 25 menit tertidur pulas tanpa keram (karena emang kurang tidur dan capek abis windows shopping) hahahaha

    Saya dibangunkan karena abang suami sudah datang menjemput, sedikit sharing (ini bentar banget aslinya, mungkin karena waktunya mepet atau saya yang terlalu lama ketiduran). Intinya suami harus selalu mensupport istri, kami harus yakin bisa melakukan gentle birth walaupun anak pertama. Dan ketika memasuki minggu ke-37, suami diperbolehkan melakukan induksi alami yakni dengan melakukan hubungan seks, karena cairan sperma ternyata melenturkan otot rahim sehingga si janin akan mudah melalui jalan lahir. (Jelas ini yang ditunggu suami hihihi) 

    Walaupun tidak sesuai ekspektasi awal setelah surfing ke blog mommies yang sharing tentang pengalamannya, tapi pengen ikutan lagi senam hamil. Walaupun bisa mengikuti instruksi di youtube, tapi mengikuti aktivitasnya langsung face to face jauh lebih menyenangkan. 

    Baby Shopping 

    Hey, siapa sangka, sudah sampai ke tahap belanja buat keperluan calon baby. Perasaan kemarin baru sibuk hunting buat seserahan. Time flies. 

    Ternyata seru banget ya nyari nyari perlengkapan baby, apalagi anak pertama, ditambah suami pro banget, ikhlas rela atmnya dikuras demi si buah hati, aaaaahhh…ketjup suami ❤

    Ternyata daftar yang dibutuhkan baby newborn itu banyak sekali ya, dan mahal! Untung suami ga ngeluh, ketjup lagi hihi. 

    Berikut ini list perlengkapan baby newborn yang udah dibeli. Kami baru beli yang sekiranya wajib ada dulu aja. 

    Pakaian:

    1. Jumper “carter”  5 in 1 : 90.000
    2. Jumper hijau panjang + kupluk 1 pcs : 45.000
    3. Jumper pendek “baby lucky”  1 set (romper, cap, booties) : 60.000
    4. Celana pop katun 3 pcs: 15.000
    5. Celana pop “baby kermit”  6 pcs : 65.000
    6. Baju tanpa lengan “classic”  6 pcs : 75.000
    7. Celana panjang tutup kaki “koala”  6 pcs: 80.000
    8. Celana panjang buka kaki “koala” 6 pcs: 75.000
    9. Baju panjang newborn “baby kermit”  6 pcs: 85.000
    10. Baju pendek newborn “baby kermit”  6 pcs: 80.000
    11. Singlet “boy london”  6 pcs: 60.000
    12. Sarung tangan dan kaki “baby kermit” 3 pcs: 35.000
    13. Kaos kaki “Flo-Fel” 3 pcs: 30. 000
    14. Bedong flanel besar 6 pcs: 135.000
    15. Selimut “carter” 1 pcs: 80.000
    16. Slaber/bib “carter” 3 pcs: 55.000
    17. Gurita baby 6 pcs: 40.000

    Perlengkapan BAB/Pipis

    1. Popok kain “Abby Baby” 1 lusin: 90.000

    Toiletries 

    1. Perlak waterproof “lovely baby” 1 pcs: 80.000
    2. Handuk bayi 2 pcs: 120.000
    3. Washlap “koala” 1 pcs: 15.000
    4. Washlap “takusen” 1 pcs: 15.000
    5. Gunting kuku “sunny” 1 set: 40.000
    6. Sisir “keaide biddy” 1 pcs: 45.000

    Perlengkapan Menyusui

    1. Bottle warmer “crown babycare”  4 in 1 : 115.000
    2. Sikat botol 1 set: 45.000

    Perlengkapan Traveling 

    1. Selimut topi/sleeping bag “little fun” 1 pcs: 115.000
    2. Tas bayi “little lee” : 120.000

    Perlengkapan Tidur

    1. Bantal peang/newborn pillow: 25.000
    2. Kelambu “Justy Bunny” : 55.000
    3. Baby box “DOES” 70×120 + 4 tiang kelambu: 850.000*

    MOM

    1. Gurita ibu “Mama Slim” : 50.000

    OTHERS

    1. Hanger “Lion Star” 30 jari: 50.000

    Total kerusakan hari ini: Rp 2.935.000,-

      *Tadinya ga bakal beli baby box dengan berbagai pertimbangan, kepake cuma bentar, ga ada space di kamar, dll tapi pas di tkp, liat baby box dipajang dan lagi “sale” si emak langsung mupeng, untungnya si ayah kece langsung siaga beliin biar anaknya ga ngences wkwkwk thank you suami ❤

      See? Perlengkapan baby sebanyak itu dan masih jauh dari lengkap *gasps*

      Perlengkapan baby yang belum dibeli:

      1. Bantal guling + bedcover (✔) 
      2. Sepatu prewalker
      3. Gendongan
      4. Sabun (✔) 
      5. Shampoo (✔) 
      6. Bedak
      7. Hair lotion
      8. Body lotion
      9. Baby oil (✔) 
      10. Baby Cream
      11. Cologne
      12. Minyak telon (✔) 
      13. Alkohol
      14. Kapas
      15. Kain kasa
      16. Tissue basah (✔) 
      17. Cotton buds
      18. Sedotan ingus
      19. Termometer (ini ketinggalan, ga ditarif sama mba yang jualan, jd belum punya deh) 
      20. Botol susu
      21. Capitan botol
      22. Dot
      23. Termos botol
      24. Baby monitor
      25. Baby bath bed
      26. Baby tafel
      27. Baby carrier
      28. Baby walker
      29. Kereta dorong
      30. Pispot 
      31. Food maker
      32. Sterilizer
      33. Feeding set
      34. BH menyusui (✔) 
      35. Breast pump (✔) 
      36. Nursing apron
      37. Bantal menyusui
      38. Sabun cuci botol (✔) 
      39. Cooler bag
      40. Botol sendok
      41. Cup feeder
      42. Dish dryer
      43. Breast pad
      44. Breast shield
      45. Stretch mark cream
      46. Pembalut nifas (✔) 
      47. Nipple cream
      48. Stroller
      49. Matras khusus stroller 
      50. Bouncher
      51. Lemari bayi () 
      52. Detergent bayi liquid (✔) 
      53. Label buat asip
      54. Spidol anti air

      Banyak aja yang belom dibeli hahahaha *garuk-garuk kepala*. Tapi berhubung emaknya ini udah kena baby shopping syndrome, masih semangat kok buat keliling belanja keperluan baby. 

      Update 14 Juni 2017

      1. Bedding set “basic package” 70x130x10 terdiri dari sprei, set bantal guling (isi silikon) & sarung, bed cover. Bahan: katun Jepang, guling dibordir huruf “H” dan bedcovernya diberi nama “Habibi”. Beli di online shop “Baby loop” Bandung. Rp 910.000 + ongkir Rp 36.000 = Rp 946.000
      2. Baby detergent cloud beli di RS Hermina Daan Mogot (lagi ada promo, product sponsor) : Rp 80.000
      3. Bra menyusui 2 pcs hadiah dari mamah & mpa
      4. Sabun cuci botol “sleek” : 26.700 di Alfam*di
      5. Sabun dan shampoo “zwitsal 2 in 1”: 36.300 di Alfam*di
      6. Minyak telon “zwitsal” dari mamah & mpa
      7. Gurita ibu washable : 35.000 RS Pelni Petamburan 
      8. Lemari bayi: komet (bekas ngekos zaman kuliah) 
      9. Breast pump elektrik “little giant” : pinjem punya bu Tuti
      10. Pembalut nifas “laurier” dari mamah & mpa
      11. Tissue basah dari mamah & mpa
      12. Baby oil dari Alfamid*

      Oia, semua barang di atas dibeli di :

      Permata Hati Baby Shop

      ITC Mangga Dua Lt. III Blok A No. 77

      Jl. Arteri Mangga dua raya Jakarta 14430

      (021) 6019325