Gulma, am I?

Bagi sebagian orang, menonton di bioskop merupakan suatu hal yang jadi keharusan. Tapi bagiku berbeda, pun baginya.

Aku tidak terlalu suka menonton di bioskop, alasannya hanya satu, karena dia menjadikannya sebuah pelarian. Ketika aku memaksa untuk bertemu, tapi tak tahu harus pergi kemana, maka dia akan mengajakku ke bioskop. Menghindari panas, atau meminimalisir lelah yang dirasakannya ketika menemaniku berputar-putar. Aku yang tak suka diam. Aku yang selalu penasaran dengan hal-hal yang baru.

Padahal yang aku inginkan hanya  merasakan kedamaian di tengahnya sinisnya atmosfir bumi. Keangkuhan dunia ini sedikit banyak meracuni pikiranku, mencuri kebahagiaanku, dan berada dalam arus yang membawaku bermuara ke arahmu adalah hal yang aku tunggu.

Tapi mungkin bagimu, aku ini gulma yang menyita waktu istirahatmu, mengganggu konsentrasi pekerjaanmu. Andai kau tahu betapa aku membanggakanmu.

Advertisements

Should I Buy Your Time

Bagiku, tidak pernah ada perjalanan yang terlalu panjang, bersamamu. Empat tahun berlalu, dan puluhan tahun yang akan datang pun, aku masih sanggup menghabiskannya bersamamu.

Selama tiga tahun kita terpisah oleh jarak, aku tak pernah kesulitan untuk selalu jatuh cinta berulang-ulang kali kepadamu. Kamu tak perlu bertanya, apa yang membuat aku jatuh cinta sedemikian hingga kepadamu. Perhatianmu, luapan kasih sayangmu, your precious time, aku mendapatkannya lebih dari siapapun kala itu.

Tapi mungkin, aku terbiasa terlalu dimanjakan oleh perhatianmu. Sehingga kini, ketika waktumu tersita oleh profesimu, aku merasa cintaku tumbuh dengan prematur. Aku merasa perasaanku tak seutuh dulu. Aku lupa caranya bersyukur ketika dirimu begitu nyata di depanku.