Focus on Solution not the Problem

Aku suka musim hujan, jalanan tidak berdebu, cuaca jadi menyegarkan, penuh dengan barakah Allah. Namun bagi sebagian orang, hujan mendatangkan masalah, jadwal acara yang mendadak harus dicancel, transportasi, dan lain-lain tapi masalah yang paling umum adalah jemuran yang tidak kering.

Hari ini cerah, keadaan yang sangat langka di musim penghujan apalagi di kota hujan. Aku pun menikmati hari bersama abang. Masalahnya adalah ada jemuran yang aku tinggalkan di kosan. Sebenarnya ketika hendak berangkat, aku sudah pasrah kalau bajuku kehujanan dan tidak kering hari itu, tapi tetap berdo’a supaya jemuranku terselamatkan dari hujan.

Ketika pulang sekitar jam 1, cuaca mendung dan akhirnya hujan lebat pun turun. Aku segera berlari ke loteng dan menemukan jemuranku tergeletak di lantai, tergenangi air hujan bercampur tanah dan potongan-potongan kayu. Sebelumnya jemuranku juga pernah kehujanan, tapi tidak sampai terjatuh dan kotor, mungkin hujan kali ini disertai angin kencang. Hal yang membuatku sedih bukan jemuranku yang kotor dan harus dicuci ulang, tapi sedih karena aku merasa aku tinggal sendirian di kosan. Padahal teman sekamarku di kosan juga mencuci dan menjemur baju hari ini, tapi tidak ada sedikit kepedulian pun terhadap jemuranku ketika aku pergi. Kami hanya berdua di kosan ini, tapi kekeluargaan masih belum terjalin. Entah apa yang salah.

Cucianku terdiri dari pakaian yang biasa aku kenakan untuk kerja, kemeja putih, rok hitam satu-satunya, kerudung putih satu-satunya, jas laboratorium, mukena, dan pakaian dalam. Sempat kebingungan mengenai pakaian untuk kerja besok, aku hampir menangis. Dengan menabahkan diri, aku langsung mencuci ulang semua pakaian tersebut. Setelah cucian beres dijemur, aku pun menembus hujan untuk membeli kerudung putih. Rata-rata toko tutup, susah sekali menemukan tukang kerudung di tengah hujan. Setelah berjalan agak jauh ke pasar leuwiliang, aku menemukan beberapa toko yang buka tapi sayangnya jarang dari mereka yang memiliki kerudung warna putih. Pantang menyerah aku tetap mendatangi satu persatu toko yang buka, dan akhirnya ada toko yang memiliki kerudung putih tapi sayangnya hanya ada kerudung paris. Tak apa masalah kerudung terpecahkan. Tinggal rok hitam, awalnya aku berniat meminjam rok Najmul, tapi aku berpikir, di musim hujan begini, mungkin dia juga akan sangat memerlukan rok ganti. Maka niat itu aku hapus. Ketika melihat lemari, seolah ada bintang yang berkilau seperti hint yang disampaikan Allah, mataku tertuju pada gamis hitam. Dulu ketika interview kerja, aku juga memakai gamis itu dan didouble dengan kemeja putih. Maka masalah rok pun terselesaikan. Mukena? Ketika pipis, aku baru sadar kalau aku menstruasi. Benar-benar rahmat Allah begitu terasa. Alhamdulillah.

Hikmahnya: There is always a way, if you try to solve your problem. No one should be blamed, it was your fault, so don’t complain and just be thankful because she gave you a chance to be more patient.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s