Imam, kamu di mana?

Halaman ke-empat tahun 2015. Kencan pertama kami di tahun baru ini. Semoga lembaran-lembaran baru ini bisa diisi oleh catatan manis.

Cerita ini dimulai dengan perjalanan kami menuju rumah salah seorang teman kuliah abang di Bekasi, Imam namanya. Sejak abang lulus kuliah, Imam tidak bisa dihubungi, bahkan social medianya pun tidak ada yang aktif. Berbekal informasi lowongan kerja di tempat abang bekerja dan juga solidaritas atas nama SIMBA, maka abang pun di sela-sela kesibukannya mencari waktu kosong untuk menyempatkan diri bersilaturahmi langsung ke rumah Imam. Imam tinggal di kampung cerewet. Semasa kuliah dulu abang pernah beberapa kali main ke rumahnya, tapi karena waktu itu menggunakan angkutan umum, jadi kami sedikit meraba-raba alamat tersebut berdasarkan GPS.

Cuaca panas yang sering berganti dengan hujan dalam waktu kedipan mata tidak melunturkan niat kami untuk berbagi kebahagiaan kepada orang lain. Akhirnya, setelah beberapa kali nyasar, kami pun sampai di rumah Imam. Ketika kami datang, di blok rumah Imam ada yang sedang mempunyai hajatan tapi kami tetap disambut oleh kedua orang tua Imam. Mereka orang yang ramah, bahkan ayahnya beberapa kali melemparkan tebak-tebakan iseng yang lucu. Sayangnya, kami tidak bisa bertemu dengan Imam, karena menurut informasi yang diperoleh dari kedua orang tuanya, sekarang Imam bekerja di NF. Alhamdulillah. Maka kami pun segera pamit setelah diberi nomor kontak Imam yang bisa dihubungi.

page

Ah, mungkin akan jauh lebih menyenangkan bila Imam bisa bekerja di tempat yang sama dengan abang. Setidaknya apa yang membuat abang galau dan tidak bisa dia diskusikan denganku, ada Imam yang bisa membantunya. Atau ketika kecanggungan merajai, ada Imam yang bisa meruntuhkannya. Semoga abang bisa bertahan dengan nyaman di tempat kerja yang sekarang.

Adzan Ashar berkumandang ketika kami masih ada di daerah kampung Cerewet, maka kami pun singgah di Mesjid Al Muhajirin. Di waktu yang sama, panggilan tidak hanya datang dari Allah, tapi juga dari perut kami yang melolong tiada henti. Kami pun mampir di warung lesehan Gudeg Bu Sum. Walaupun judulnya Gudeg tapi kami pesan ayam bakar dan kangkung hehe.

Setelah urusan perut beres, kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak. The power of love is really amazing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s