Perjalanan Panjang Menuju Jalan Buntu

Tersebutlah tanggal 23 Mei 2014 saya pertama kalinya menjejakkan kaki di BPOM. Disambut oleh satpam saya langsung dipersilakan menuju gedung BPOM.

Di sebelah kiri jalan dari pintu masuk utama, dalam beberapa menit saya pun langsung masuk dan menemui orang di bagian lantai 1. Awalnya saya dipersilakan langsung menuju laboratorium. Namun setelah ngobrol lebih lanjut saya diarahkan ke bagian SERLIK di gedung sebelah. Menurut keterangan beliau orang-orang di laboratorium sedang ada kunjungan ke luar kota.

Akhirnya saya datang ke bagian serlik, menunggu sekitar sejam karena waktu itu saya datang ketika jam istirahat dan ada orang dari pihak kampus lain yang juga berkepentingan di sana.

Akhirnya giliran saya untuk berkonsultasi, menurut bagian SERLIK saya diharuskan membawa surat pengantar untuk dapat mengunjungi laboratorium. Dengan berat hati saya pun kembali ke kampus untuk membuat surat pengantar.

Dan karena berselang dengan dua hari libur di minggu ini, akhirnya surat pengantar pun baru bisa diambil hari Jumat. Hari itu saya langsung kembali mengunjungi BPOM. Saya menghubungi ibu di samping SERLIK. Dan menurut keterangan beliau surat pengantar yang saya harus direvisi namun beliau tetap memasukan datanya.

Hari senin saya kembali ke BPOM dengan membawa surat revisi, dan menghubungi ibu yang hari Jumat saya temui. Beliau menyuruh untuk menghubungi Ibu Kania sekretaris kepala balai. Akhirnya saya pun naik ke lantai 1 dan menemui beliau. Menurut bu kania surat saya sudah sampai di disposisi tapi entah di disposisi mana. Beliau menyuruh saya untuk datang lagi besok dan memberikan contact TU.
Tapi ketika turun saya bertemu kembali dengan ibu yang pertama dan menyuruh pak Nanang untuk melayani saya. Akhirnya saya kembali ke lantai 1 dan bertemu dengan bu Kania lagi. Raut mukanya sedikit berubah ketika melihat saya “Loh, bukannya tadi udah?” Tapi akhirnya beliau mau mencari surat saya. Beliau membuka banyak buku tebal, menelpon bagian serlik tapi tidak ada yang menjawab, akhirnya beliau mengajak saya turun ke bagian serlik dan meminjam buku (kenapa harus mengajak saya?). Surat saya yang sebelum direvisi masih tidak diketahui keberadaannya, akhirnya beliau menghubungi bidang diknas. Dan kembali dengan tangan hampa. Sedikit mendengar percakapan antara pak Nanang dan Bu Kania, bahwa buku disposisinya ada di rumah Bu Kania, jadi sulit untuk mencari tahu surat saya ada di disposisi mana. Akhirnya pak Nanang mengajukan pertanyaan “De ini Sito ga?” Saya bilang ini mendesak kemudian beliau menjawab lagi, “tapi ga hari ini kan?”

Akhirnya saya mengalah dan memutuskan kembali lagi besok. Bu Kania menyuruh datang jam 10 tapi sebelumnya menelpon terlebih dahulu ke nomor TU yang sebelumnya sudah diberikan.

Esoknya menjelang pukul 10 saya menelpon nomor yang diberikan, dan ada sekitar 30 kali menelpon tidak ada yang menjawab telpon tersebut. Akhirnya saya dua kali menepon ke contacts person yang ada si brosur BPOM. Diangkat tapi tidak membuahkan hasil. Saya akhirnya datang langsung ke BPOM. Di tempat ternyata tidak ada siapa-siapa. Akhirnya saya menunggu di lobi. Sekitar 30 menit masih belum ada siapa-siapa, akhirnya saya turun ke lantai dasar dan menunggu di sana. Ibu yang pertama saya temui hari-hari sebelumnya menyuruh saya menunggu di lobi atas lagi, maka dengan diantar oleh entah siapa saya diajak kembali ke lantai 1. Di sana sudah ada pak Nanang dan beliau dengan muka cerah tak berdosa mengatakan surat saya sudah masuk ke bagian MM dan saya dipersilakan ke sana.
Masih diantar oleh orang yang sama, saya menemui bagian MM. Di sana saya ditanya lagi, “Sito ga?” Ayolah please, apakah semua urusan tidak bisa diselesaikan dengan cepat? Saya sudah menunda penelitian selama berminggu-minggu. Tapi kali ini saya mendesak. Dan keluarlah bapak berusia sekitar 40 tahunan menjelaskan sedang ada audit dan saya disarankan untuk kembali besok. Saya saking emosionalnya sampai menangis kesal akhirnya beliau meminta izin dan naik ke lantai atas. Ketika kembali beliau membawa beberapa lembar printan SNI dan mengatakan tidak ada data yang saya butuhkan. Beliau memberikan beberapa saran intinya untuk mencari penelitian yang lebih sederhana terlebih karena jenjang pendidikan saya masih D3.

Bayangkan betapa sesaknya dada saya! Setelah dilempar ke sana kemari, menghubungi ini dan itu, menghabiskan banyak waktu, akhirnya kembali dengan menggerutukan gigi tanpa hasil yang berarti. Kenapa pelayanan sekaliber BPOM terasa begitu buruk? Padahal menurut pengalaman teman saya, dia hanya 2x datang dan langsung mendapatkan hasil yang dimaksud. Dia datang tanpa surat pengantar dan langsung diperbolehkan menuju laboratorium serta mencari data yang diperlukan. Mungkin dia datang pada orang yang tepat. Sedangkan aku? Mungkin adanya ISO jadi mempersulit segalanya walaupun memang jadi rapi. Semoga pihak BPOM bisa lebih meningkatkan pelayanannya.

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s