Pendakian Cinta – Merbabu

Setelah penetapan tanggal keberangkatan yang labil akhirnya diputuskan perjalanan kami dimulai tanggal 21 Desember 2013. Aku berangkat pagi dari kosan di Bandung menuju Jakarta Barat, dan sesampainya di terminal Kalideres, sudah berdiri di sana seseorang dengan senyumnya yang hangat menyambut uluran tanganku. Dialah kekasihku, bang Majid. Dia menunggu terlalu lama, sebelum masuk tol Tangerang bahkan dia sudah standby untuk menjemputku, walau disengat teriknya matahari Jakarta, dan sumpeknya atmosfer terminal tapi dia masih bergairah untuk tersenyum kepadaku. Mendengar perutku yang keroncongan dia menawarkan diri untuk mengisi perut dengan mie ayam pedas-manis di sekitar minimarket, rasanya nuampol rek, enak tenan… karena kebetulan sedang lapar.

Kemudian kami mengunjungi lapak bang Sugy yang berada tidak jauh dari tempat kami makan. Beliau sedang menganyam tali untuk dijadikan gelang, kreatif sekali. Di lapaknya tersedia berbagai macam aksesoris untuk anak muda, seperti gelang yang beraneka ragamnya, kaos, kalung, dan lain-lain. Dari lapak inilah perjalanan panjang kami dimulai.
1
Jadwal pemberangkatan yang ditargetkan pukul 3pm akhirnya molor 3 jam. Jadi kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu di rumah abang. Seperti biasa kami disambut oleh 3 bocah keponakan abang yang selalu heboh dan kompak. Rasanya kangen sekali, senang bisa bertemu mereka lagi. Ada hal yang membuat aku terharu, ketika aku dan abang sedang tilawah, dua keponakan abang yang paling besar, Faiz dan Caca rebutan ikut tilawah dengan membaca surat Yasin, An-Naba dan surat-surat pendek lain di juz 30. Ikhsan juga bocah paling kecil tidak mau kalah. Tapi kemudian ketika mamangnya (bang Majid) membawa bola untuk mengalihkan perhatian ikhsan, seketika itu juga bocah-bocah ikut move on dan akhirnya kami bermain bersama. Setelah kelelahan bermain sambil teriak-teriak, kami menonton film 5cm yang sebenarnya telah ditonton berulang-ulang sampai kami semua ketiduran. Sekitar pukul 5 pm aku dibangunkan dan disuruh mandi, tapi karena nyawa belum terkumpul semua, aku ogah-ogahan. Kemudian kami menuju lapak bang sugy untuk mempacking ulang semua bawaan kami. Settingannya sinting, tinggi carriernya hampir menyaingi tinggi badanku, beratnya? Jangan ditanya bahkan untuk sekedar menyeretnya pun aku membutuhkan kekuatan super.😀
2
Di perjalanan menuju terminal kami terjebak macet, abang ditelpon terus menerus, tapi ketika sampai di sana ternyata kami ketinggalan mobil. Kami terlambat 12 menit. Dan orang yang memakai baju orange dan orang yang memakai topi dengan seenaknya memaki-memaki abang, bahkan dengan gaya yang sangat norak, tinggi badannya tidak lebih dari tinggi badanku, dan dia berusaha menegap-negapkan badannya ketika berhadapan dengan abang, mereka juga memasang tampang garang. Hal yang lebih menjijikkan lagi, tiket bis AC kami yang harganya 120k ditukar dengan tiket bis ekonomi sumber alam dan harus nambah 10k untuk masing-masing tiket. Benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka termasuk orang yang tertawa ketika orang lain menangis. Walaupun begitu kami tidak bisa menampik bahwa kami yang salah karena datang terlambat, dan apabila tidak ditukar dengan tiket lain maka uang kami akan hangus.
3a
3
Akhirnya perjalanan kami yang seharusnya berangkat pukul 6 pm kembali molor. Hari itu bertepatan dengan pertandingan final Indonesia vs Thailand. Sekitar jam 7 lewat kami baru bisa naik bis dan memulai perjalanan bertiga, aku, bang Majid, dan Bang Sugy. Bang iwan dan Eka menyusul keesokan harinya, sedangkan teman abang yang lain membatalkan untuk ikut. Perjalanan kami lancar, sopir bisnya juga terampil mengemudikan mobilnya, sehingga aku pun terlelap. Aku terbangun di daerah Cikampek karena udara panas, macet membuat tidak ada angin yang berhembus ke dalam mobil. Seketika itu juga aku langsung mandi keringat.

Entah di daerah mana, kami mampir di rest area, kebelet pipis dan antrian toiletnya subhanallah, kami memutuskan untuk membeli pop mie, dan ketika antrian sudah tidak terlalu panjang ternyata air toiletnya kosong, perasaan kecewa memuncak tapi akhirnya Alhamdulillah ada yang menyediakan air walaupun harus diangkut sendiri. Lega sudah dan tepat jadwal istirahat kami berakhir. Di sini tas kecil punyaku yang dititipkan ke bang majid hampir ketinggalan, karena dia terus-terusan main hp, Alhamdulillah Allah sayang pada kami, kalau sampai tertinggal, entah bagaimana nasib kami, semua dompet, handphoneku, dan barang-barang berharga lainnya ada di sana.
5
6
Sampai di daerah kebumen ada kabar kalau jalur yang kami lewati terjadi kemacetan panjang dikarenakan banjir. Oleh karena itu sopir memutuskan untuk berbalik arah dan mengambil jalur alternative melalui jalan tikus. Ketika di daerah desa Ambalresmi kami berhenti lagi, para sopir kembali galau karena ternyata di jalur itu pun terjadi kemacetan karena ada mobil teronton yang mogok. Setelah jeda yang cukup panjang, akhirnya kami kembali ke jalur semula dan terjebak kemacetan parah. Kebanyakan para penumpang memilih transit atau berjalan kaki, hanya tinggal 5 orang yang bertahan. 2 orang dengan tujuan Yogyakarta, dan kami bertiga dengan tujuan Magelang. Pilihan yang sulit, transit pun tidak berefek banyak, dan malah membuat biaya yang keluar semakin bengkak, maka kami memutuskan untuk bertahan. Berjam-jam kami menunggu, mobil samasekali tidak bergerak maju. Pada kesempatan itu, aku memutuskan untuk tilawah, berharap Allah akan lebih memudahkan perjalanan kami.
7
Walaupun perlahan akhirnya mobil bisa bergerak maju, dan dengan keberanian sopir, mobil kami mengambil jalur kanan untuk menyalip mobil-mobil lain, kalau tidak begitu mungkin kami akan sampai di terminal keesokan harinya. Ternyata banjir yang terjadi tersebut setinggi lutut orang dewasa, di tengah musibah tersebut, ada orang yang mengais rezeki dengan mengangkut motor dan penumpangnya, banyak juga anak-anak kecil yang bermain air bersama teman-temannya. Sawah yang tergenang, sepanjang mata memandang hanya ada air, semoga Allah mengangkat derajat para korban karena kesabarannya, dimudahkan rezekinya, digantikan dengan berlipat ganda, semoga cepat surut dan tidak ada korban jiwa, amin.
8
Sampai di pool daerah sekitar Kutoarjo kalau tidak salah, kami disuruh untuk transit tapi kami menolak karena tiket yang kami pegang sampai terminal Magelang, jadi kami dioper ke bis lain yang katanya akan membawa kami sampai terminal Magelang tapi ternyata bis tersebut hanya membawa kami sampai terminal Purworejo. Di sini kami beristirahat sampai mobil arah Magelang datang.
9

10
Di terminal Magelang kami tidak punya banyak waktu, begitu turun dari mobil yang kami tumpangi, kami langsung naik mobil yang menuju Wekas, dan mobil tersebut merupakan pemberangkatan terakhir hari itu. Awalnya sempet heran karena mobil tersebut tidak menunggu sampai penumpangnya penuh, ternyata di jalan ada banyak penumpang yang rela berdiri dan berdesak-desakan, menurutku mobil yang kami tumpangi melebihi kapasitas. Jalurnya sempit, dan sopir mengemudikannya dengan ekstrim. Di tengah jalan, mobil yang kami tumpangi mogok, katanya ada masalah dengan radiatornya. Jadi semua penumpang yang berdiri disuruh turun, tapi Alhamdulillah setelah beberapa menit akhirnya mobil jalan seperti sediakala. Dan abang hampir kehilangan handphonenya, hpnya jatuh, Alhamdulillah Allah menunjuk orang yang baik untuk menemukan hp abang yang jatuh dan mengembalikannya, semoga kejujuran beliau dibalas pahala yang berlipat-lipat amin..
11
Basecamp Gunung Merbabu jalur Wekas terdapat di Dusun Kedakan, RT.01/RW.04, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Kami turun di gapura desa kenalan. Gapura ini terletak di sebelah kanan jalan apabila naik mobil jurusan Magelang- Salatiga. Di gapura ini ada ojeg yang menawarkan jasanya dengan tarif 25k. Kami sampai di gapura sekitar pukul 6pm. Kami memutuskan untuk berjalan kaki walaupun cuaca agak sedikit gerimis, seandainya kami datang lebih siang, mungkin kami bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan di sini. Di tengah jalan ada hajatan yang menampilkan tari topeng ireng. Kami berhenti sebentar untuk menghangatkan tubuh dengan menyantap bakso. Kemudian kami berhenti di sebuah masjid dengan niat untuk beristirahat sejenak tapi sayangnya lantainya basah, jadi kami memutuskan untuk mempacking ulang carrier.
12
13
Perjalanan menuju basecamp sekitar 3 jam jika ditempuh dengan jalan kaki. Di basecamp ada banyak orang tua yang sedang menonton wayang kulit, dan ada tiga orang yang sedang menghangatkan badannya di tungku. Mereka adalah bang Ambon, Mas Tedy dan Mas Adit dari Bogor. Mereka berbincang panjang sambil menyeduh kopi, sedangkan aku mengajak abang untuk shalat kemudian langsung tertidur pulas. Saking dinginnya kami harus memakai sleeping bag untuk tidur.

Esok harinya kami berbincang sambil menikmati sarapan ringan. Gerimis seolah tak bosan menemani hari kami. Sempat ragu apakah Bang Iwan dan Eka jadi menyusul atau tidak karena sampai siang itu masih belum ada kabar dari mereka. Hari itu 23 Desember bertepatan dengan ulang tahun basecamp Merbabu. Dan ada pertunjukkan reggae dan gending. Sayang kami tidak bisa menonton. Alhamdulillah semua keragu-raguan terhapus ketika melihat dua ojeg membawa penumpang yang mukanya familiar, Bang Iwan dan Eka. Ini adalah kali pertama aku bertemu karo bojone bang Iwan. Ayu khas gadis Jawa dan sepertinya lebih dewasa dari aku walaupun usia kami terpaut jauh ahaha🙂
14
15
16
Merbabu dengan ketinggian 3142 mdpl merupakan salah satu gunung yang sangat indah di Indonesia, tapi saranku datanglah di musim kemarau supaya bisa mendapatkan view yang optimal. Ada 4 jalur pendakian yaitu jalur pendakian Thekelan, Selo, Wekas, dan jalur Chuntel. Sekitar jam 3 kami memulai pendakian menuju pos 2 melalui jalur Wekas.
17
18
19
Kami melalui jalan pintas yang ditunjukkan oleh bang Ambon. kami menemukan makam dan beristirahat sejenak, tidak berapa lama kemudian kami menemukan mata air dan berpapasan dengan para pendaki dari Yogya yang sedang dalam perjalanan turun.
22
Sampai di pos 2, juga kami menemukan pipa berisi mata air, suaranya bisa terdengar sampai jalur pendakian. Di jalur ini banyak sekali pendaki dari daerah lain. Perjalanan jadi terasa sangat menyenangkan. Berpapasan, saling menyapa, bertukar makanan, sekedar foto bareng, pokoknya menyenangkan. Ketika sampai di pos 2 kami disambut hujan deras, jadi kami tidak bisa menikmati pemandangan malam. Kami langsung mendirikan tenda. Di tenda kami menghangatkan diri dengan memasak mie dan menyeduh kopi. Setelah perut penuh, kami mencoba memejamkan mata walaupun sepanjang pinggir tenda basah dan ada air yang menetes dari atas tenda. Aku dan bang Sugy langsung terlelap. Sekitar pukul 1 aku terbangun dan mendengar keributan di luar, berdasarkan cerita dari abang, katanya bang iwan di tenda sebelah menggigil dan Eka berteriak memanggil-manggil abang karena ketakutan, kemudian mereka jadi bahan ledekan bang Ambon hehehe. Ketika aku bangun, mas Tedy bergabung dengan bang Ambon, makin hebohlah mereka. Dan terdengar ada seorang wanita yang berteriak memanggil abang, ternyata Desti, temen abang di PMI. Kemudian aku tertidur lagi. Sekitar pukul 4 bang sugy bangun dan menyeduh susu, aku bergantian memakai sleeping bag dengan abang karena sleeping bag yang abang pakai dipakai untuk menghangatkan bang Iwan. Aku bangun menemani bang Sugy (sebenarnya merecokin soalnya laper hehehe). Waktu subuh, abang yang baru sejenak berbaring terpaksa harus diganggu untuk shalat berjama’ah.
41
Udara pagi yang menyenangkan di Gunung Merbabu, embun menetes segar menggelitik kerongkongan yang kering. Aku berkeliling menikmati pemandangan. Kemudian mengambil air bersama mas Tedy. Airnya subhanallah, dingin banget tapi sangat menggoda, jadi pengen mandi.
20
Agak siang kami akhirnya mulai memuncak, kecuali bang Ambon, beliau karena sudah terlalu sering muncak jadi tinggal di pos 2 sekaligus menjaga camp dan barang-barang kami. Terima kasih bang Ambon. Gatau kenapa di sini aku diem-dieman sama abang, bête. Tapi abang mendokumentasikan perjalanan kami melalui video.  Aku tidak terlalu hafal apa saja yang kami temui di jalur, yang jelas jalurnya mantap, berbatu dan menanjak, *iyalah* sekeliling kami adalah hutan tropis, indah sekali, hijau dan segar di mata.

Tidak lama kemudian setelah menemukan tugu, kami bertemu dengan seorang gadis asal Kediri yang mengajak kami berkenalan dan foto bersama, mba ini talkactive sekali. Ada satu hal lucu ketika kami melewati jembatan setan, aku dan mas Tedy sampai merangkak melewati jalan ini, jalannya sempit dan licin. God, Help Me! Akhirnya dibantu oleh bang Sugy akhirnya aku bisa melewati jalan ini. Sedangkan Eka dengan begitu lancarnya, jalan seperti dia jalan di jalur biasa, jelas aku diledek habis-habisan oleh abang ckck.
js
Entah di daerah mana, perutku seilah-olah menanggung beban berkilo-kilo yang akhirnya mendesak ingin dikeluarkan. Akhirnya keluarlah dengan penjagaan dari bang Majid di jalur bawah dan teman-teman yang lain di jalur atas, sembari istirahat dan menunggu bang Iwan dan Eka yang sibuk berfoto-foto ria sepanjang jalur pendakian. Menurut cerita Eka, dia disuruh bawa long dress untuk foto prewed di puncak bersama bang Iwan ahahahaha.
pc

29

27

26

28

30

32
Akhirnya setelah entah berapa lama perjalanan kami sampai juga di puncak Kentengsanga, setelah mengambil foto, kami beristirahat di sekitar daerah makam ranger Merbabu yang meninggal bulan April 2013 yang lalu. Aku lihat bang Sugy sedikit terisak menahan harunya. Kami makan mie mentah di sini, persediaan air kami habis. Aku, Eka, dan bang Iwan tetap beristirahat di sana sementara abang dan yang lain meneruskan perjalanan ke puncak Trianggulasi yang hanya sekitar 5 menit dari kentengsanga.
36

37

39
Setelah puas menikmati pemandangan puncak, kami pun turun melewati jalur yang sama. Hehehe dalam perjalanan turun, yang lain turun duluan, hanya tersisa aku, abang, eka, dan bang iwan. Awalnya aku di depan kemudian disalip dan abang terus berjalan ke depan tanpa mengindahkanku yang ada di belakangnya, jalanan licin parah karena disertai gerimis, kami yang tidak memakai raincoat terpaksa memakai plastic sebagai pelindung kepala dari mas Adit. Aku kesal melihat tingkah si abang, dia juga samasekali tidak mengajakku ngobrol. Di tengah kekesalan itu aku terpeleset, aku makin kesal dan malu hahaha, jadi nangis sepanjang jalan sambil marah ke abang :p setiap berpapasan dengan pendaki yang baru naik pasti matanya tidak lepas melihat ke arahku. Pasti abang malu banget bawa aku. Biarin, rese sih! :p sampai di basecamp aku bercermin. Oh God! Mukakuuuuu, hidung merah dan mata bengkak, jelek sekali. Hehe tapi lucu tiap inget peristiwa itu. Katanya setelah kejadian itu, abang ga bakal ngajak aku naik gunung lagi kalau musim hujan, jahat banget ih. Kami sampai di basecamp menjelang Maghrib. Aku yang masih marah sama abang menghabiskan waktu 3 jam di masjid untuk tilawah menenangkan hati, meredam emosi yang entah dari mana datangnya padahal abang sama sekali ga salah. Ketika hendak kembali ke basecamp, ternyata sedaritadi abang menungguku di luar ditemani temannya Desti yang berasal dari Jawa Tengah. Kami pun kembali sambil berpayung bertiga, hatiku pun luluh. I love you abang :*

Ketika sampai di basecamp, ternyata bang sugy, bang iwan, dan eka sudah terlelap. Bang Iwan ngorok kenceng banget :p Kemudian aku mengambil posisi di sebelah Eka.

Esok harinya bang Iwan dan bang Majid bernostalgia tentang kenangan mereka di SMA.kemudian ada pendaki cowo dari Bandung dengan pakaian seksi yang menyapa dan mengajak kami untuk bergotongan menyewa mobil dari basecamp sampai Magelang. Kami pun menuju perjalanan hati yang tidak akan terlupakan ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s