Pendakian Cinta – Merbabu

Setelah penetapan tanggal keberangkatan yang labil akhirnya diputuskan perjalanan kami dimulai tanggal 21 Desember 2013. Aku berangkat pagi dari kosan di Bandung menuju Jakarta Barat, dan sesampainya di terminal Kalideres, sudah berdiri di sana seseorang dengan senyumnya yang hangat menyambut uluran tanganku. Dialah kekasihku, bang Majid. Dia menunggu terlalu lama, sebelum masuk tol Tangerang bahkan dia sudah standby untuk menjemputku, walau disengat teriknya matahari Jakarta, dan sumpeknya atmosfer terminal tapi dia masih bergairah untuk tersenyum kepadaku. Mendengar perutku yang keroncongan dia menawarkan diri untuk mengisi perut dengan mie ayam pedas-manis di sekitar minimarket, rasanya nuampol rek, enak tenan… karena kebetulan sedang lapar.

Kemudian kami mengunjungi lapak bang Sugy yang berada tidak jauh dari tempat kami makan. Beliau sedang menganyam tali untuk dijadikan gelang, kreatif sekali. Di lapaknya tersedia berbagai macam aksesoris untuk anak muda, seperti gelang yang beraneka ragamnya, kaos, kalung, dan lain-lain. Dari lapak inilah perjalanan panjang kami dimulai.
Continue reading

Aku Memilih Setia

5 tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMA, itulah pertama kali kami kenal melalui salah satu media social facebook. Dan seiring waktu berlalu singkat cerita ia pernah menjadi “orang yang berarti” untuk saya. Rentang waktu masa remaja saya habiskan bersamanya. Dengan catatan kami belum pernah bertemu.

Mungkin orang menganggap kami gila, aneh, atau semacamnya. Di tengah maraknya kejahatan yang bertopeng kenalan dari media social, saya malah menaruh kepercayaan terhadapnya, selama bertahun-tahun bahkan sampai saat ini. Saya malah dekat dengan kakak perempuannya, kadang-kadang kami suka menelepon, chatting, atau smsan. Dulu ketika ada sebuah acara di Universitas Indonesia, saya dan kakaknya berencana untuk bertemu, tapi batal karena sesuatu hal.

Siapa yang menyangka, setelah waktu yang panjang kedekatan kami sebagai orang asing terbayar oleh sebuah pertemuan di penghujung tahun 2013. Setelah sempat simpang siur, karena dia belum pernah berjalan ke Bandung sendirian, dan tidak terbiasa menaiki angkutan umum, terlebih parahnya lagi, dia merasa tidak enak dengan status saya yang sudah tidak sendiri. Setelah diskusi yang panjang, saya sudah ikhlas kalau pertemuan ini batal, Continue reading

Dependable Partner

Tanggal muda jatuh pada akhir pekan cukup memberi dampak yang fatal bagi siklus keuangan saya. Seharusnya uang saku bulanan yang diberikan mama cukup, bahkan bersisa. ya, seharusnya. Setelah dua hari tidak menyentuh nasi, demi menekan budget, bahkan sampai belajar membuat bubur putih polos karena yang ada di kosan hanya beras, garam, dan mie instan. Hari ini ditampar kembali oleh kenyataan, bahwa masih ada tugas yang biayanya tidak dianggarkan dan dananya belum tercukupi. Yang paling parah adalah deadline tugas tersebut adalah besok, sedangkan kiriman dari orang tua baru sampai Selasa atau Rabu. Print out 32 lembar bisa menghabiskan kurang lebih Rp 20.000,- sedangkan uang yang berjejer di dompet saya hanya tinggal Rp 6.000,-. Belum termasuk print out proposal dan lain-lain.

Bukti tranfer dari Mandiri ke BNI

Bukti tranfer dari Mandiri ke BNI

Alhamdulillah di saat terjepit, Allah memberikan pertolongannya melalui abang. Ya, abang yang memberiku suntikan dana sehingga dompetku bisa kembali pulih, ya setidaknya untuk beberapa hari ke depan sampai kiriman dari rumah datang. Malu? Jangan ditanya! Saya baru bersedia memberikan nomor rekening setelah tidak tidur sehari semalam. Dilema antara perasaan malu dan butuh. Mungkin, inilah salah satu fungsi pendamping, berbagi di saat susah dan senang, juga mengulurkan tangan ketika partner yang lain terjatuh. Terima kasih, abang. Semoga Allah memberi kemudahan rezeki untuk abang. I love you so much :*