Sebutir Nasi

Menjalani setengah kehidupan dengan bersemedi di kampus, membuat hari demi hari tidak jauh berbeda. Semangat yang menggebu untuk menuntut ilmu, biasanya terpatahkan oleh rasa lelah, metode mengajar dosen yang monoton, dan berujung dengan saraf mata yang memberi alarm bahwa aku sudah terlalu kejam dengan memforsir kerjanya seharian itu.
Matahari yang meninggi, perut yang baru diisi, kombinasi yang tepat untuk menciptakan rasa ngantuk. Tapi siang itu, diisi oleh mata kuliah Toksikologi, dengan dosen yang selalu merangsang mahasiswanya untuk melek tentang problema kehidupan, dan kemajuan ilmu pengetahuan yang dinamis. Dia mengajarkan supaya berpikir out of box. Ya, mengingat kehidupan kami sebagai mahasiswa yang terpenjara di gunung, jauh dari peradaban dunia, jauh dari tempat makan enak kecuali bu senyum yang bertolak belakang dengan namanya, sama sekali jarang tersenyum, tidak ada kompetensi antara mahasiswa yang satu dan lainnya sehingga akan sulit berkembang di sini, tidak ada jalan lain selain dosen lah yang harus merangsangnya, karena dengan semua hal yang tadi disebutkan di atas, mahasiswa ternina-bobokan oleh zona nyaman yang menghanyutkan. Namanya Pak Firman, saya lupa nama panjang beliau. Beliau sebenarnya pernah mengajar kimia fisika ketika saya masih tingkat 1, dan sekarang di tingkat II menjadi dosen Toksikologi & Kimia Analisa Air, Makanan, dan Minuman. Frekuensi tatap muka yang intens tidak lantas membuat saya hafal kepanjangan namanya, yang saya tahu beliau adalah dosen yang menyenangkan. Hal tersebut bergulir begitu saja setelah terjadinya revolusi dari pemikiran seorang bocah ABG yang mungkin telah dilanda kecemburuan yang tidak beralasan. Pasalnya, ketika tingkat satu saya tidak menyukai beliau karena menurut hati yang telah coreng moreng oleh kecemburuan ini, beliau adalah orang yang peka terhadap wanita/mahasiswa berparas cantik. Terlihat jelas sekali bagaimana beliau memperlakukan mereka secara special. Dan saya yang merasa level kecantikan saya masih memberikan jarak yang melebar dari level paling atas, jelas merasa sikap tersebut tidak adil. Tapi perubahan yang ditunjukkan beliau memasuki jenjang semester yang lebih tinggi cukup signifikan, dan wawasan yang beliau tularkan membuat mahasiswa menjadi memutarbalikkan otak mereka 180 derajat menjadi mengagumi beliau. Termasuk saya dengan ditambahkan embel-embel “kagum yang biasa saja, tidak berlebihan, dan saya masih normal untuk tidak memendam rasa suka semacam lovey dovey pada orang yang sudah tua dan berkeluarga, walaupun sejatinya saya memiliki pacar yang 6 tahun lebih tua tapi tetap imut/”

Sekilas perkenalan mengenai dosen yang saya anggap menarik tersebut. Hari ini beliau kembali menebar pesonanya dengan bercerita perihal anaknya yang tadi pagi tidak mau menghabiskan makanan. Upaya beliau yang bisa dibilang sukses memberikan inspirasi bagi kami para calon ibu dan ayah tentang bagaimana menghadapi anak yang tidak mau makan. Kuncinya adalah komunikasi! Mengenalkan anak komunikasi sejak dini merupakan suatu hal yang vital. Dengan menjadikan anak sebagai sharing partner akan membuat hubungan yang terjalin menjadi jauh lebih harmonis, dan mereka akan menangkap keinginan kita dengan cepat tanpa kita harus memaksakan kehendak kita secara kasar. Salah satu yang dicontohkan oleh dosen saya ini adalah dengan menceritakan kisah sebutir nasi, bagaimana proses yang harus dilalui agar padi yang awalnya susah payah ditanam oleh para petani menjadi sebutir nasi yang akhirnya bisa kita nikmati tanpa memerlukan tenaga yang berarti. Beliau jelas menempatkan diri sebagai seorang ayah yang bijaksana dalam menerapkan bagaimana cara menghargai kerja keras dari seorang petani yang telah mengolah biji padinya menjadi bulir-bulir beras, menghargai ayah yang banting tulang bekerja untuk membeli beras, dan menghargai ibu yang menyisihkan waktunya pagi dan sore untuk memasak beras tersebut menjadi nasi. Kita sebagai anak hanya tinggal membuat mereka yang telah bersusah payah memenuhi kebutuhan anaknya membuat mereka tersenyum senang melihat kita yang makan dengan lahap, seolah semua makanan yang dihidangkan benar-benar istimewa dan tanpa cela.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s