Ketika Idealisme Dipertaruhkan

Kemewahan yang dimiliki seorang mahasiswa adalah Idealisme. Bukan kamar kosan yang berantakan oleh kertas-kertas kopian materi kuliah, bukan cucian kotor yang menanti seseorang dari petugas laundry mengulurkan tangan, bukan pakaian kusut yang menuntut segera disetrika, bukan piring dan gelas kotor yang dibiarkan menumpuk sebelum akhirnya dicuci kalau ada lalat mengerubunginya, atau bukan pula jas lab, sepatu, kaos kaki, dan tas yang tidak pernah dicuci.
Setelah menyandang gelar baru sebagai mahasiswa, yang notabenenya diberi berbagai julukan, memaksa saya berpikir lebih kritis dari biasanya. Setelah melewatkan 3 semester yang dilalui dengan haru biru kegalauan yang tiada berujung, sampailah saya di semester 4 dan menemukan jawaban dari semua dahaga yang saya rasakan dari pertama kuliah. STATISTIKA. Entah kenapa saya menyukai mata kuliah yang satu itu, padahal kemampuan saya dalam bidang itu tidak terlalu istimewa, terlebih logika, dan kemampuan saya dalam menyelesaikan masalah, bisa terbilang sangat standar. Tapi hanya dengan mendengar kata itu membuat hati saya tergelitik, “sejauh mana saya bisa menaklukanmu, wahai statistika?” Itulah yang selalu saya dengungkan setiap kali membaca buku Statistika kesehatan karangan luknis Sabri dan Sutanto Priyo Hastono.

Namun tak ubahnya kurva sinus yang fluktuatif, demikian pula perasaan saya. Saking besarnya rasa suka terhadap mata kuliah ini, saya pun memutuskan untuk menjadi penanggung jawab mata kuliah tersebut. Tidak ada maksud tertentu selain agar saya bisa mendapat sedikit rasa tanggung jawab untuk belajar lebih giat dengan menjadi PJ. Tapi… penyesalan datang tanpa pernah memberikan tanda. Entah dengan menjadi PJ ini mengantarkan saya ke lembah dosa atau tidak, saya masih merenunginya sampai sekarang.

Singkat cerita, ketika baru saja memperpanjang masa aktif paket Always ON menjadi satu tahun penuh, hape saya kembali berdering tanda sms masuk. Sms notification dari provider yang saya gunakan sekaligus ucapan terima kasih karena telah mengisi ulang pulsa dengan nominal Rp 50.000,-. Sedikit kaget dan heran, saya mengecek nominal pulsa yang tersisa. Rp 60.000,-. Padahal saya baru menggunakannya untuk membeli masa berlaku paket data. Dengan tetap bersikap wajar, saya berpositive thinking bahwa penjual pulsa melakukan kesalahan dengan mengirimkan pulsa dua kali. Saya berpikir untuk mengkonfirmasinya nanti. Tapi kemudian ada anak dari kelas lain yang bersorak bahwa dia mendapat pulsa nyasar sejumlah nominal yang sama seperti saya. Merasa ada teman, saya pun bersorak bahwa saya juga mendapat pulsa nyasar, tapi kemudian si anak dari kelas lain itu membisikan sesuatu yang membuat saya agak bertanya-tanya. Dia menyebutkan kalau pulsa itu berasal dari salah seorang dosen kami, yang mengirimkannya kepada semua PJ mata kuliah yang beliau pegang, dengan tujuan agar bisa tetap berkomunikasi dengan beliau. Alasan yang tidak masuk akal sebenarnya, logika saya masih belum bisa menerimanya, tapi kemudian saya kembali menjadi diri saya yang cuek, dan beripikir positif mungkin dosen tersebut memang bermaksud baik. Tak lama setelah itu, ada sms masuk, dari dosen bersangkutan. Dan ternyata benar pulsa tersebut memang dari beliau. Kurang lebih isi smsnya adalah:

Dear all, harap konfirmasi apabila pulsanya sudah masuk.

saya menjawab smsnya, “sudah pak(?)”

Dan saya kira tidak akan ada perubahan apapun setelah itu, ternyata dugaan saya salah. Di kelas, ketika selesai mata kuliahnya berlangsung, para PJ dipanggil dan beliau meminta agar presentasi kehadiran mengajarnya dilaporkan full selama 14 kali pertemuan, begitupun team dosen dari mata kuliah tersebut. Beliau berkilah bahwa, hal tersebut untuk menunjang sertifikasi dari para dosen, dan juga menambah insentif dosen dari luar. Menurutnya Ketua administrasi akademik dan bahkan ketua jurusan sudah menyetujui hal tersebut, jadi tidak dianggap sebagai sebuah praktik kolusi. Konspirasi macam apa ini? What in the world that happened? Kenapa saya harus ikut terlibat?

Menempati posisi sebagai pihak lemah memang tidak menguntungkan, menjadi mahasiswa yang menggantungkan nilainya pada belas kasihan dosen. Benar-benar menyedihkan! Satu pihak hati saya mencaci tindakan saya yang hina itu, tapi bagian lainnya mengasihani saya yang tidak bisa berkutik dengan status sebagai mahasiswa.

Selain insiden pulsa nyasar itu juga, di hari penutupan pertemuan ke-7, seluruh PJ dipanggil ke ruang kerjanya, saya datang terlambat dan semua teman menenteng coklat Beryl’s (Coklat import dari Malaysia yang begitu menggoda) dan salah satu dari mereka juga membawakannya satu pak untukku. Mereka bilang itu sebagai oleh-oleh karena dosen itu baru pulang bepergian jauh. Padahal saya tahu modus dibalik semua kebaikan itu.😦 Dear God, what should I do?

Belum lagi melihat respon yang di luar dugaan dari teman-teman PJ yang lain, saya semakin merasa kecil dan hina.
Mereka berkata, “Yaampun aku malu banget sama bapak xxxx, bapak baik banget.” What are the hell you talking about? Dia menyuapmu! Dia membeli harga dirimu dengan murah! Dan kamu merasa harus berterimakasih? Tidakkah mereka sadar skenario di balik topengnya? atau mereka terbutakan oleh kemewahan semua yang Dia tawarkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s