Dia Tak Tahu Caranya Mengungkapkan Cinta

Senyum mengembang di bibirnya tatkala fried sushi yang masih mengepul hangat berada dalam mulutnya. Dia mengunyahnya perlahan dengan sangat hati-hati. Porsi yang terlalu besar itu membuatnya kesusahan untuk menelan dalam satu suapan. Dia menggigitnya sedikit demi sedikit sambil kembali memasukannya ke dalam cairan hitam bening semacam kecap yang sudah diencerkan di samping piringnya. Ini pertama kalinya dia mencicipi sushi. Nori, mentimun, dan ikan agak matang di dalam sushi itu memberikan beraneka rasa yang membuat mulutnya meledak-ledak kegirangan. Walaupun rasa dari nori dan mayonaise sedikit mengganggunya, ya rasanya asing, dia tidak terlalu menyukainya.

Dengan sumpit yang kokoh dalam pegangannya, dia terus menyuap sushi itu ke dalam mulutnya. Tiba-tiba terbersit dalam pikirannya, “Alangkah menyenangkan kalau keluargaku bisa turut mencicipi rasa ikan dari Jepang ini.” Rasa homesick pun kembali menyerangnya. kemudian dia bertekad ketika pulang nanti akan membawa sushi sebagai oleh-oleh untuk keluarganya. Porsi yang cukup untuk 3 orang dan harga yang dapat ditolerir oleh kantong mahasiswa, semakin membuatnya sumringah. Dadanya terus berdegup membayangkan reaksi keluarganya ketika dibawakan makanan aneh yang lain dari makanan yang biasa mereka makan. Bahkan saat itu juga dia berandai-andai akan mengabadikan ekspresi mereka ketika memakannya. Tanpa terasa air matanya pun menetes. Dia benar-benar rindu rumah.

Hari pun berganti, perhatiannya masih terpaku pada layar laptop sampai sebuah nada sms mengejutkannya. Dia membaca contact name yang terpampang di layar, dan tersenyum lebar. Kemudian dia dengan tidak sabarnya membaca sms tersebut.
“Ng, wa Ence pameget bade berangkat umrah dinten Minggu kaping 14 April minggu payun. Wa Banten oge bade dongkap”
Matanya terbelalak membaca sms tersebut, kaget sekaligus turut bahagia mendengar keberangkatan uwanya ke tanah suci yang begitu mendadak. Dengan terampil tangannya pun mengetik sms balasan yang menjanjikan kehadirannya dalam pelepasan salah satu kakak dari ayahnya itu. Matanya berbinar riang, mengingat keluarga besarnya akan berkumpul.

Selesai shalat Dzuhur dia menengok ke bawah kosannya, dan menghela napas lega karena kerumunan orang yang baru selesai berjamaah shalat Jum’at telah berkurang. Dia mengenakan jilbab abu-abu yang selalu dikombinasikannya dengan kemeja coklat kotak-kotak yang sedang dikenakannya. Dia menatap dirinya di cermin dan kembali tersenyum. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakanku dalam keadaan yang sebaik-baiknya, maka buatlah akhlakku menjadi baik pula. Do’anya dalam hati. Kemudian dia bergegas turun dan menyetop andong yang selalu berlalu lalang seolah-olah tak pernah lelah menarik penumpangnya. Beberapa menit kemudian, setelah beberapa kali naik turun angkutan umum, akhirnya dia sampai di tempat yang dia tuju. kemudian dia menyimpan rapi tas gendong dan kardus yang dibawanya. Tak lama setelah itu, abang-abang muda yang jadi waiter di sana menghampirinya dan memberikannya menu. Tanpa mengacuhkan menu di depannya, dia langsung menyebutkan dengan mantap pesanannya. “Fried sushi 4 porsi dibungkus dan Tori Karrage Donburi 1 di sini.” Si waiter mengangguk dan kemudian meninggalkannya. Suasana di kedai Jepang itu sepi, hanya ada dia dan satu wanita yang duduk di kursi paling pojok sebelah kanan. Di sela keheningan tersebut, datanglah pengamen yang menyanyikan lagu pop kontemporer yang entah apa judulnya. Dia terus menatap si pengamen itu, tangannya yang kasar begitu mantap membetot senar-senar gitar yang digendongnya, suaranya begitu berat, selaras dengan melodi gitar yang dipetiknya. Sampai gitar berhenti dipetik dia masih terpana dengan permainan musik singkat yang dibawakan pengamen cilik itu. Dia baru tersadar ketika si pengamen berkata “Assalamu’alaikum, mba”. Dengan tersipu malu, dia menjawab salam si bocah dan segera mengambil selembar uang ribuan. Dia selalu kagum dengan para musisi, tak terkecuali musisi jalanan.

Suasana kembali hening, dia pun membuka handphonenya, mengecek whatsapp, aplikasi chatting yang paling sering dia gunakan. Tak ada notification, dia kembali menutup hapenya bosan, lalu bergerak menuju lemari es, mengambil sebuah minuman bersoda dingin. selang beberapa lama, si waiter pun datang mengantarkan pesanannya. Akhirnya… dengan lahap dia pun menghabiskan hidangannya sampai bersih. Waktu menunjukan pukul 3 sore, tak mau membuang waktu lagi, dia langsung menemui kasir. Ternyata, si waiter itu lagi. Si waiter tersenyum sambil bertanya, “Mau mudik ya mba?” “iya” jawabnya kaku. “Mudik kemana, mbak?” “Majalengka” “Oh, Majalengka itu dimana mba?” “Sesudah Sumedang, sebelum Cirebon” “Pinggirnya Indramayu”, waiter yang lain menyambung percakapan mereka. Si waiter yang sedang beralih profesi menjadi kasir hanya mengangguk-angguk, entah dia tahu atau tidak.

Setelah sedikit berbabibu dengan si waiter, dia berjalan menuju jalan otista dan menunggu bis jurusan leuwi panjang. Banyak tukang angkot yang seperti berteriak-teriak menawarkan jasanya. Dia menggeleng menolaknya halus. Dan bis yang ditunggu pun datang membawanya dengan anggun, menyalip mobil-mobil kecil di sekitarnya dengan hati-hati sampai tiba di terminal leuwi panjang.

Dia mengangkut barang-barangnya turun dan berteduh di bawah sebuah pohon rindang yang tak jauh dari sana, berkumpul para pemuda setelan preman bertatto yang tampaknya masih SMA. Rintik-rintik hujan membasahi jilbabnya, baju, dan juga kardus yang ditentengnya. Sambil terus memeluk tas gendongnya, dia dengan sabar menunggu kedatangan mobil elf jurusan Cikijing yang akan membawanya ke kampung halamannya. Satu jam berlalu, hujan semakin deras, tapi masih belum ada tanda-tanda kedatangan mobil elf. Dia terus menerus memandang jam tangannya dengan gelisah. Jam 4 sore dan dia masih ada di terminal leuwi panjang. Entah jam berapa dia akan sampai di rumahnya.

Bagaikan pelangi yang muncul di tengah hujan, akhirnya mobil elf datang. Dia langsung mengambil tempat paling belakang. Mobil itu kosong. Dalam keadaan yang membuatnya harus buru-buru, mobil elf itu malah berhenti untuk beristirahat. Jarang sekali. Selama ini dia selalu memilih elf dengan alasan efisiensi waktu. Ini kali pertama. Setelah hampir satu jam dia menunggu, akhirnya sopir mulai menyalakan mesin mobil dan berjalan, tapi sekali lagi elf itu mengecewakannya. Mobil elf itu memutar arah ke jalur semula untuk mencari lebih banyak penumpang. Sampai akhirnya jalan, mobil masih tidak terisi sepenuhnya.

Kesabarannya masih diuji, di tengah perjalanan, dari mulai Jatinangor sampai Sumedang, mobil terjebak kemacetan. Sampai di Kadipaten, hujan lebat dan dia turun dengan berlari-lari kecil mencari tempat berteduh, menanti jemputan.

Ternyata ayahnya yang menjemput. Waktu itu sekitar jam 9 malam, dia membuka pintu dengan sumringah dan mengucapkan salam, terdengar jawaban dari suara lemah yang halus dari dalam rumah, kemudian muncul ibunya mengulurkan tangan, dia pun menyalaminya. Ayahnya masih di luar bersiap mengantarkannya ke rumah nenek untuk membawakan oleh-oleh. Khawatir makanannya basi kalau menunggu sampai besok.
Tiba juga waktunya dia beristirahat, menemani ibu dan ayahnya yang sedang menyantap, siaran tv juga masih setia menayangkan sinteron favorit keluarganya, “Tukang Bubur Naik Haji”. Selesai menyantap makanan, mereka kemudian mengajaknya mengobrol. “Neng, mamah sareng mpa teh hatur nuhun pisan, tandana neng teh emut ka kolot. Tapi sanes teu kenging neng emut ka mamah, ka mama, ka uu, tapi sementawis neng teu acan ngahasilkeun mah wios teu kedah nyandak nanaon, keun kanggo bekel neng. Mamah mekelan teh sanes bakating ku seueur acis, kenging milarian. Syukur cekap kanggo bekel neng, pami langkungan mah mending ditabungkeun.”

Jleb, rasanya air mata berlomba-lomba untuk keluar dari pelupuk matanya, saking tidak karuan perasaannya, dia hanya mengangguk, kemudian tersenyum, dan menjawab “Muhun, maaf mah.”
Semua di luar bayangannya. Suka cita yang dia bayangkan hangus seketika. Logikanya membenarkan semua yang dikatakan ibunya, tapi hati kecilnya berkecil hati. Dia hanya ingin mengungkapkan rasa cintanya, rasa terima kasihnya, dia hanya ingin membuat keluarganya bahagia, tapi mungkin dia masih belum tahu caranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s