My Lovely Shoes

Aku bukan pengoleksi sepatu, sandal, atau hal-hal semacam itu. Tapi aku adalah pecinta semua barang yang aku miliki. Terlebih jika barang tersebut memiliki kenangan atau arti tersendiri. Dan beberapa sepatu dan sandal berikut adalah yang menjadi favoritku.

Umur 8 tahun

Umur 8 tahun

Sepatu pentopel ini dibelikan mamah ketika aku duduk di bangku kelas VII SMP. Dulu aku bergabung dengan ekstrakurikuler PASKIBRA, jadi mau tidak mau harus membeli sepatu pentopel. Modelnya yang elegan selalu membuat aku percaya diri kalau memakainya. Bisa dibilang sepatu ini yang bisa bertahan paling lama dengan aku, karena memang jarang dipakai, sepatu ini dipakai hanya untuk acara-acara resmi.

Umur 1,5 tahun (RIP)

Umur 1,5 tahun (RIP)

Sepatu ini dibelikan papah ketika aku sedang dalam proses registrasi kuliah. Setiap inget sepatu ini, selalu inget papah, tentang betapa beliau jengkelnya menemani aku berputar-putar di BIP hanya untuk memilih sepatu, lol. Sepatu ini adalah pilihan beliau. Dalam hal selera, papah memang tidak diragukan. Sepatu ini praktis, tidak perlu ikat lepas tali sepatu untuk memakainya, ringan, tidak panas, dan yang paling penting, elegan🙂
Sepatu ini sudah seringkali menjadi saksi sejarah hal-hal manis dalam hidup aku. Tapi sayang, dia sudah rusak dan aku buang dengan semena-mena. Pertama kali rusak ketika dia aku ajak ke Ciremai, bagian kiri sepatunya robek, dan bagian alasnya robek juga, jadi ketika hujan datang, air dengan mudahnya merembes masuk. Dan aku benci memakai sepatu menjijikan. Sebenarnya, penampilannya masih oke buat dipakai, orang tidak akan tahu kalau sepatuku rusak, tapi kenyamananku dengan sepatu ini sudah berkurang. aku sayang, aku mau dia tetap utuh, tapi aku gamau memakainya dalam keadaan rusak. Klimaksnya adalah ketika dia aku ajak ke Gunung Burangrang. Dia basah, dan aku simpan terus dalam plastik sampai dia berjamur. jorok memang tapi aku lupa waktu itu. Mendapati dia dalam keadaan berjamur, dengan teganya aku langsung membuangnya ke tempat sampah. Penyesalan selalu datang terlambat, aku menyesal, benar-benar menyesal membuangnya begitu saja😦 Dari sejak saat dia aku buang, aku selalu mencari sepatu yang minimal mirip dengan dia, tapi ga ada… ga ada!

Umur: 2 tahun

Umur: 2 tahun

Wedges ini dibeli barengan sama sepatu yang di atas, aku sendiri yang memilihnya. Aku memang suka warna-warna kalem, terlebih krem, coklat. Ketika di toko, semua sepatu kelihatan sama, aku sendiri bingung memilihnya. Sampai akhirnya aku memilih wedges ini,walaupun waktu itu aku tidak benar-benar menyukainya sepenuh hati. Tapi setelah dia menemani aku dalam jangka waktu yang lama. Aku mulai sangat sayang sama dia. Bahkan dia satu-satunya yang selalu aku simpan dalam box setiap habis pakai. Dengan memakainya, aku merasa menjadi seorang wanita yang anggun. Dan dia selalu mengingatkan aku pada quote “Alas kaki yang bagus akan membawamu ke tempat yang bagus.”

Umur: 5 bulan

Umur: 5 bulan

Sandal Gunung yang pertama aku punya. Dibeliin si abang, Soalnya pas di Burangrang agak kesusahan jalannya. Pertama karena emang sepatunya udah rusak, trus jalannya licin, aku benci jalanan licin! Tiba-tiba si abang nanya toko yang khusus menjual produk eiger pas di BIP. Kirain kenapa, ternyata… terima kasih🙂 Sepatunya nyaman dipakai, dan mengurangi ketakutan terhadap jalanan licin. next time kita nanjak pakai sendal kembaran. cieee…🙂

Umur: 7 jam

Umur: 7 jam

Sepatu baru….😀 pemesanannya pre-order ke teman sekelas. Kebetulan karena udah ga ada sepatu santai, pas lihat sepatu ini, agak sedikit tertarik. Beli deh! Konsumtif banget ya ckckck. Mudah-mudahan kerasan sama sepatu ini. Dan semoga bertahan lama. amin.

Ada satu lagi sepatu yang sangat aku sayang. Sepatu Ganesha. Sayang ga ada fotonya, soalnya sepatu ini udah aku buang. Sekali lagi aku menyesal. Bahkan aku sempet nangis pas inget sepatu ini udah dibuang. Sepatu masa-masa kejayaan pas SMA. Sempet tiga kali tertukar. Bahkan walaupun ukurannya kebesaran karena tertukar, keadaannya yang sudah sangat mengenaskan, sepatu ini tetap aku pertahankan. Tapi kejadiannya dan waktunya sama kek sepatu coklat. Dia berjamur dan tanpa pikir panjang, aku membuangnya. Ini satu pelajaran yang sangat menyakitkan. “Do after thinking!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s