Laporan, You Fucked Up!

Hanya sepertiga perjalanan lagi untuk sampai rumah dan aku mendapatkan sms dari PJ Hematology untuk mengumpulkan buku laporan dengan deadline waktu terakhir besok. Dalam bayanganku PJ tersebut tertawa mengolok-olokku yang harus balik lagi ke Bandung bahkan ketika aku belum sampai di rumah. Godamn it!

Dan ketika akhirnya aku sampai di rumah, dengan berat hati aku menyampaikan harus kembali lagi ke Bandung untuk mengumpulkan buku laporan. Sebelumnya aku mencari barangkali ada teman smp atau teman sepermainan di rumah yang bisa mengantarkanku ke bandung, tapi kebanyakan dari mereka tidak memiliki SIM atau sedang bekerja di luar kota, rasanya harapanku makin pupus. Seandainya aku memiliki SIM, aku tidak perlu repot meminta orang lain mengantarkanku ke bandung, aku sendiri yang akan pergi. Tapi sayangnya walaupun usiaku hampir 20 tahun, orang tua masih belum mengijinkan aku memiliki SIM.

Akhirnya besok harinya aku berangkat pagi hari buta ke bandung dengan menggunakan angkutan umum. Tapi ujian belum berakhir, di jalan tol yang hampir menuju bandung, aku baru sadar kalau aku dengan cerobohnya lupa membawa kunci kosan, rasanya begitu menyesakkan. Dengan hopeless aku memberitahu ayah melalui sms, dengan harapan beliau mau mengantarkan kunci itu ke Bandung. Tapi sesuai perkiraan, beliau malah menyuruh untuk datang ke ibu kosan dan minta kunci duplikatnya walaupun sebenarnya beliau tahu, ibu kosan sama sekali tidak memiliki kunci duplikat kamarku.

Dan aku sampai di kosan dengan terjebak perasaan amarah dan hopeless. Aku berteriak-teriak kepada penghuni kosan yang lain agar membukakan pintu gerbang, kemudian mereka bertanya ini dan itu seolah mereka iba, walaupun sebenarnya mereka hanya penasaran, dan kemudian menghilang setelah mendapat informasi yang dibutuhkan. Dengan rasa putus asa yang masih menggelayut, kemudian aku mencoba semua kunci yang diberikan oleh ibu kos, barangkali ada satu di antara kunci tersebut yang pas dengan kamarku. Usaha tersebut berujung dengan sia-sia. Kemudian aku datang ke kampus dan dengan menebalkan muka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dosen yang bersangkutan. Aku tidak bisa melihat ekspresi beliau karena terhalang oleh masker tapi beliau berkata untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Dan bunga-bunga di hatiku mulai menguncup.

Tapi perasaan tidak enak masih membayang-bayangi pikiranku. Dan dengan alasan untuk survey ke Sekolah yang ada di Majalengka dalam rangka menjalankan salah satu proker BEM yaitu Eksistensi Poltekkes ke Daerah yang disingkat Ekspolda, aku meminta Suswendi untuk menemaniku ke majalengka. Dan dia mengamini permintaanku, akhirnya dalam waktu 2,5 jam kami menebas kemacetan menuju majalengka, dan kembali ke bandung dalam rentang waktu yang tidak cukup lama, dengan kunci kosan di tangan tentunya. Kami juga sempat beristirahat di daerah sekitar cicaheum untuk makan pisang keju, nama tempatnya Madtari, if i am not mistaken. Suswendi hari ini menjelma bak pahlawan hahahaha. Terima kasih banyak, wen, semoga amal baikmu dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, amin.

CyanMobileSS_20130202-051547am

CyanMobileSS_20130202-051700am

CyanMobileSS_20130202-051859am

CyanMobileSS_20130202-051918am

CyanMobileSS_20130202-052058am

CyanMobileSS_20130202-052113am

CyanMobileSS_20130202-052202am

CyanMobileSS_20130202-052215am

CyanMobileSS_20130202-052416am

CyanMobileSS_20130202-052436am

Akhirnya aku bisa mengumpulkan laporan. Dan pulang kembali ke Majalengka keesokan harinya menggunakan angkutan umum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s