Goal Praying

Kegiatan mentoring yang biasa aku ikuti setiap minggu tidak hanya menjadi charger keimanan, tetapi juga menjadi media attractive untuk melatih potensi diri, salah satunya adalah kegiatan public speaking dengan menjadwalkan kultum setiap minggu secara bergilir. Dan kebetulan minggu ini adalah jadwalku untuk berbagi ilmu. Materi yang aku angkat adalah tentang Goal of Praying dari buku Quantum Ikhlas – Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati (The Power of Positive Feeling) karya Erbe Sentanu.
Pembahasan ini dibuka dengan sabda Rasulullah SAW yaitu “Doa adalah senjata (alat kerja) orang yang beriman.”
Kemudian Ali bin Abu Thalib berkata “Kebahagiaan ialah sesuatu yang dapat menghantarkan kepada kesuksesan (surga).” Sebagian besar orang akan merasa bahagia ketika mereka sukses meraih sebuah pencapaian tertentu. Padahal, ketika mencapai semua itu, mana yang lebih berharga, pencapaian itu sendiri atau perasaan bahagia kita? Misal kita menerima selembar kertas bertuliskan gelar kesarjanaan tapi lalu berpikir betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan, bahagiakah? Tidak. Jadi, selama ini yang kita cari adalah perasaan bahagia, perasaan puas, perasaan kaya, perasaan sejahtera, dan sebagainya. Dan kita tak perlu repot mencari semua itu dari luar, karena semua itu sudah tersedia gratis 24 jam nonstop di dalam diri kita, dalam hati kita.
Mari kita ubah pandangan kita tentang arti sukses Sukses bukanlah pencapaian, melainkan hasil dari rasa hati yang bahagia. Salah satu penyebab kebanyakan orang tidak bahagia adalah karena pekerjaan yang mereka lakukan tidak sesuai dengan visi dan misi hidupnya atau tidak tahu jelas visi dan misi hidupnya. Saat kita berhasil meraih tujuan yang bukan dari hati, kita akan tetap merasa kekurangan. Semakin kita sukses, hidup kita akan semakin kering dan kekurangan arti. Oleh karena kita mengejar kesuksesan untuk menghindari rasa sakit dari perasaan kurang yang menganga di hati kita.
Jadi, agar kita sukses merasakan kesuksesan, kita harus memperhatikan tiga syarat doa yang efektif yaitu Direction (meminta dengan niat yang jelas), Obedience (meyakinkan hati bahwa doa terkabul), Acceptance (menerima perasaan terkabulnya doa) atau dengan kata yang lebih sederhana: “Minta, Yakin, Terima”.
1.Minta – Kutahu yang kumau

…Aku dekat… Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. (QS. Al Baqarah: 186)

Kenapa kita harus repot menjelaskan kepada Allah apa yang kita mau? Bukankah Allah Mahatahu? Allah memang tahu apa yang kita mau, tetapi masalahnya justru apakah kita tahu apa yang kita mau. Kejelasan niat, itulah yang dimaksud. Oleh karena sukses adalah sebuah pilihan, kita akan dengan mudah meraihnya asal kita tahu lebih dulu apa yang kita mau. Bagaimana kita bisa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan kalau apa yang kita inginkan pun tidak jelas? Analoginya. Ketika remote control tv merk Sony kita rusak dan kita ingin membeli yang baru. Di toko, kita minta remote control sony kepada pramuniaga. Tentu saja pramuniaga tidak bisa memberi benda yang kita inginkan sampai kita menyebutkan secara spesific. Ada banyak jenis tv merk Sony, banyak tipe, dan banyak ukuran. Tentu pramuniaga belum bisa mewujudkan keinginan kita karena permintaan kita terlalu umum dan kurang spesifik.
How Clear Can You Pray? Menurut Phytagoras, “Kualitas hidup kita bergantung dari kualitas pertanyaan kita.” Pertanyaan-pertanyaan progresif akan mendorong kita untuk maju lebih cepat dan efisien. Jadi tanyakan kepada diri kita: apa keinginan saya? mengapa saya menginginkan itu? kalau saya berhasil mendapatkan keinginan itu, bahagiakah saya, Kenapa? bisakah saya bahagia tanpa mendapatkan keinginan itu? bagaimana dengan apa yang telah saya dapatkan sejauh ini, membahagiakan sayakah? apa arti kebahagiaan bagi saya?
2. Yakin -Mengizinkan Doa Terkabul

“Berdoalah kepada Allah dan yakinlah doa kalian dikabulkan…” Muhammad SAW

Orang sukses tahu dimana meletakkan fokus perhatiaannya. Meski ada hambatan saat berjalan menuju tujuan dia tak pernah mengeluh. Konsentrasinya tetap pada tujuan yang diinginkannya.
Analoginya kita memiliki sebuah mobil yang sudah sering rusak dan menginginkan mobil yang baru. Tujuan kita adalah mengganti mobil yang baru, tapi perhatian kita terjebak pada mobil yang lama. Kita lebih banyak mengeluh tentang mobil lama yang sering mogok, sering masuk bengkel, membuat pengeluaran bertambah banyak, dan seterusnya. Mobil baru pun jauh dari pencapaian karena kita meletakkan fokus pada “penderitaan” saat ini, bukan pada apa “kebahagiaan” yang kita inginkan.
3.TERIMA – Bersyukur Keras, Bukan Hanya Bekerja Keras.

“…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Disini kita bersyukur karena membayangkan hal yang kita doakan sudah terkabul. Keyakinan keimanan kita dalam bentuk syukur akan memastikan kelancaran proses itu, sedangkan keraguan kita akan menghambat dan merusak proses terkabulnya doa itu. karenanya posisi hati syukur di zona ikhlas merupakan frekuensi terbaik yang perlu kita pertahankan kondisinya.

Ikhlas adalah keterampilan untuk berserah diri, menyerahkan segala pikiran (keinginan, harapan, cita-cita) dan perasaan (ketakutan, kecemasan, kekhawatiran) kembali pada sumbernya yaitu Allah. Setiap hari kita akan berhadapan dengan berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup kita yang bisa membuat kita bahagia atau kecewa? Betul? Salah. Karena tidak ada yang bisa membuat kita bahagia atau kecewa kecuali diri kita sendiri. Dengan kata lain, kalau kita kecewa itu karena keputusan kita untuk kecewa. karena kita memutuskan untuk menilai hal yang terjadi sebagai sesuatu yang mengecewakan. begitupun sebaliknya. Jadi, kalau kita ingin sukses, bersyukurlah lebih keras. sebab, semakin sering kita bersyukur, semakin banyak pula Allah akan memberikan apa yang kita inginkan.
Menurut ahli neuroscience dari AS, Doc Childre, pikiran dan perasaan merupakan medan elektromagnetik, sehingga dengan begitu keduanya memiliki kekuatan listrik yang bersifat magnetik. contohnya ketika kita memukulkan tangan ke kepala, maka otomatis kepala kita akan sakit. Perasaan adalah alat pengukur apa kita sedang membuka atau menutup pintu keran aliran berkah dan rizki kita sendiri. perasaan positif berarti open, sedangkan perasaan negatif berarti closed. Walaupun kita membuka tutup pintu aliran berkah itu beribu-ribu kali, berkah dan rezeki Allah tidak pernah berhenti sedetik pun dialirkan ke hidup kita. hanya kita sendirilah yang biasanya tidak sengaja memilih untuk menghentikan alirannya.
Kita harus waspada terhadap apa yang kita pikirkan dan rasakan. karena doa itu terbuat dari pikiran, sementara kita berpikir (baik dan buruk)setiap saat, sesungguhnya kita berdoa setiap saat. sementara Allah menjanjikan bahwa setiap doa kita selalu dikabulkan.

Berdoalah kepadaKu niscaya akan Kuperkenankan bagimu… QS. AL Mukmin: 60

Perlu kita pahami, jika kita sudah memikirkan hal-hal yang positif tentang yang kita inginkan, belum tentu itulah yang kita dapat. karena hukum kuantum tidak membantu orang mendapatkan apa yang mereka inginkan, melainkan membantu orang mendapatkan apa yang ia fokuskan.
Dan langkah terakhir adalah “Pray and Play”. yaitu bersungguh-sungguh dalam berdoa (di gelombang otak Alfa) dan total dalam berusaha (di gelombang otak Beta). Sebab ketika kita mencurahkan semua kemampuan lahir dan batin ke dalam pekerjaan maka Allah akan mengubah kerja kita dari sebuah beban menjadi suatu kesenangan. Sebuah permainan total yang menyenangkan.

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” QS. Al Ankabuut: 64

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s