Ujian Praktik Pasif Parasitologi

Helmintologi dan Protozoologi adalah dua bahan ajar mata kuliah Parasitologi yang diujiankan hari ini. Ujian praktik pasif parasitology ini dilaksanakan dengan system ketok, maksudnya setiap satu nomor kami harus berpindah tempat searah jarum jam atau ke nomor yang lebih besar. System ujian seperti ini sangat menyusahkan dan menambah kerisauan karena konsentrasi kita terbagi antara soal ujian dengan kecepatan waktu.

Total soal yang keluar adalah 20 nomor ESSAI beranak. Kami diberi objek dalam mikroskop atau langsung mengamati objek di potret yang telah disediakan. Pertanyaan yang keluar tidak lepas dari nama spesies dari telur cacing atau protozoa yang ditunjukkan di mikroskop lengkap dengan stadiumnya, atau bisa juga berupa bagian khas dari suatu spesies, nama kelas spesies tersebut, maupun jumlah proglotid yang dimiliki suatu spesies tertentu. Aku bisa gilaaaaa…

Telur Cacing Ascaris Lumbricoides yang dibuahi dan berembrio


Tapi ternyata kakak tingkat yang juga pernah mengalami kerisauan yang sama dengan kami merasa kasihan dan memberikan trik dan tips dalam menghadapi system ujian ketok seperti itu (tips dan trik yang diberikan secara turun temurun) WOW!!! Tekniknya adalah kami menempati tempat sesuai no. absen masing-masing, contohnya nomor absen aku adalah 17 jadi aku duduk di tempat yang ada soal no. 17, kemudian masing-masing dari kami harus memberi jawaban di lembar soal atau di keramik dekat soal tersebut menggunakan pensil, jadi ketika kami bergeser kami akan mendapatkan soal yang sudah berisi jawaban dan tinggal menyalinnya ke lembar jawaban. Nah, putaran terakhir, contohnya aku, di posisi yang berada soal no. 16 aku harus menghapus jawaban tersebut. Cerdik bukan?

Protozoa e.g. Schistosoma Japonicum fase Serkaria


Hasilnya? Sukses! Dilema sebenarnya, ini adalah merupakan konspirasi yang melibatkan orang-orang sekelas. Dituntut solidaritas dan jiwa yang besar untuk mau berbagi jawaban dengan teman yang lain. Namun yang aku risaukan adalah ketika seorang menjawab salah maka semua orang akan menjawab jawaban yang salah juga. Ketika mahasiswanya mendapat jawaban yang benar, mungkin hal tersebut tidak masalah, tapi ketika mahasiswanya menjawab salah dan ternyata semua salah di nomor yang sama dengan jawaban yang sama. Tidakkah dosen merasa curiga? Bagaimana kalau masalah itu diusut? Dan masalahnya terbesarnya adalah ketika mendapat jawaban, terjadi defisiensi kepercayaan diri terhadap jawaban sendiri, materi yang telah dikuasai mendadak kabur. Itu BENCANA!

Masa remaja hanya terjadi sekali, kenakalan yang terjadi di masa remaja biar menjadi bagian dari warna lembayung yang kelak mewarnai senja. Biar menjadi cerita, kelak aku akan berkata… “AKU PERNAH MUDAAAAA!”

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s