Coretan yang Takkan Mampu Mencoret Namanya

Mungkin awalnya aku tidak akan pernah percaya ketika ada statement yang menyebutkan “Love is Blind”. Pada asumsiku semua orang akan memilih yang terbaik untuk kehidupannya, termasuk dalam hal cinta dan kekasih bahkan mungkin pendamping hidup. Sampai aku mengalaminya.

Menjelang ujian nasional di SMA tepatnya 10 Maret 2011, aku menjalin hubungan dengan seseorang yang bekerja di server sekolahku. Tidak ada awal, tidak ada pendekatan, dan tidak ada hal-hal manis yang umumnya dilakukan orang yang akan menjalin hubungan. Semua terjadi seperti tiba-tiba, dia menyelinap hadir memasuki hidupku, dan kemudian membuat benteng kokoh yang sulit untuk dirobohkan in the deepest part of my heart.

Selama tiga tahun di SMA, aku merasa dekat dengannya hanya ketika usiaku di sekolah mendekati akhir. Pertama kali aku melihatnya adalah ketika dia mengusirku dari laboratorium computer.Ketika itu waktu menunjukkan pukul 16.00, jadwal laboratorium computer ditutup, dan dia mengusir semua orang yang masih betah berdiam di lab, termasuk aku. Aku duduk lesehan di dekat meja guru bersama obet mengerjakan ppt koloid tugas kimia kelas xi. Sebenarnya kami hanya memerlukan tempat untuk mencharge laptop, karena semua kelas sudah ditutup waktu itu. Kami orang terakhir yang dia datangi, karena ngeyel tetap diam di tempat walaupun dia berulang kali mengeluarkan kalimat yang bernada mengusir. Kami memohon waktu lebih lama untuk tinggal, karena tugas harus dikumpulkan besok sementara computer di rumahku rusak. Dan akhirnya dia mengalah dengan memberikan waktu lebih lama. Tapi lima belas menit kemudian, dia datang lagi dan dengan menyebalkan kembali mengusir kami. Walaupun tugas masih belum beres kami pun keluar, tidak tahan dengan kecerewetan orang itu. Di luar lab, aku terus mengomel, bagaimana pun orang baru yang kerja di lab itu sungguh menyebalkan. Ya, itu pertama kali aku melihatnya, kesan pertama adalah orang itu menyebalkan.

Seiring dengan usiaku yang bertambah, aku pun naik ke kelas tiga. Menyambung rutinitas ketika kelas xi, speaking activity kembali dilancarkan, bedanya ketika kelas xi, kami hanya disuruh dialog English dengan teman sekelas, sedangkan di kelas xii kami disuruh mencari speaking partner dari kelas x, xi, xii, dan juga guru. Nah, karena kegiatan itulah perlahan aku mengenalnya. Aku pikir dia adalah seorang guru, aku bahkan sama sekali lupa insiden di laboratorium dulu. Suatu hari aku berpapasan dengannya dan mencium tangannya sekalian meminta izin untuk melaksanakan English activity. Sebenarnya sasaran speaking partner awal aku adalah Pak Budi, guru computer baru yang masih muda dan kata teman-teman sangat tampan, tapi berhubung mereka berdua sering bersemedi di server bareng, akhirnya aku pikir sekali tepuk dua lalat kena. Namun pada hari H, bahasan terlalu tinggi, Whina yang memang mencintai seluk beluk computer mengajukan topic yang terlalu rumit untuk aku ikuti, akhirnya sedikit curang, aku melaksanakan activity lewat sms dengan “dia”. Dan mereplace Pak Budi dengan guru lain. Inilah awal aku mulai saling mengirim pesan lewat sms.

Hari demi hari kami semakin akrab, aku selalu menemani teman-teman sekelas yang punya masalah dengan laptopnya untuk meminta bantuan dia. Server menjadi basecamp kami, Majalengka dengan cuacanya yang sangat panas, membuat server bagaikan surga. Walaupun di setiap kelas dipasang AC, tapi tak ada tempat senyaman di server.

Wifi di sekolah sebenarnya sudah cukup lumayan, hanya saja ketika kami mendownload file large size, maka dengan mudahnya kami akan diblacklist, dan orang yang memaintenant mikrotik dan segala tetek bengeknya adalah dia. Suatu kali kami pernah meminta izin untuk mendownload Adobe Premier dan Soni Vegas Pro untuk keperluan film, dia dengan menyebalkannya menertawakan kami. Dia bilang sampai besok pun ga bakal kelar mendownload itu menggunakan wifi terlebih ga ada idm di laptop. Dengan bengal kami menitipkan laptop di server dan meminta dia untuk menjaganya, karena kami harus mengikuti KBM, baru pulang sekolah kami mampir untuk mengambil laptop, ternyata dia tidak ada di tempat, dan laptop dena dalam keadaan sleep, downloading process sudah berhenti, tapi ketika dicek di folder download tak ada file yang kami inginkan, kami menangis saking kesalnya. Kemudian kami keluar dari server dan menunggunya kembali di tangga depan server untuk meminta pertanggungjawaban hahahaha. Dia kembali dan kami langsung menyerbu, selama beberapa menit kami beradu argument, dia dengan stylishnya yang menyebalkan berkata “yang pake wifi bukan cuma kalian, kalo ga distop nanti wifinya lemot.” Seperti anak kecil yang marah karena permintaannya tidak dituruti tapi tidak berani protes, kami pun pamit. Tapi dengan dramatisnya dia memanggil kami untuk kembali, dan dengan memasang muka teduh dia memberi nasihat (aku lupa), ternyata files yang kami minta sudah dia download menggunakan computer di server, dan disimpan di flashdisknya. Inilah awal dia membuatku terpesona.

Di kesempatan lain, hapeku mengalami masalah, hapeku terkena virus, dan dia yang memflash. Dari sana emosi kami mulai terikat, bahkan ketika awal musim twitter, kami sering menghabiskan malam dengan tweetingan ria. Sampai pada tanggal 10 Maret pukul 4.00 setelah begadang bareng, akhirnya resmilah ada status di antara kami, tapi selama beberapa hari setelah hari itu, tak ada orang yang tahu selain kami berdua dan keluargaku, ya, di hari pertama dia langsung datang ke rumah.

Namun seperti kata pepatah, sepintar-pintar orang menyembunyikan bangkai baunya pasti tercium juga, akhirnya hubungan kami pun diketahui orang-orang. Berawal dari insiden Dena dan Firdha yang menanyakan hubungan kami, tidak mendapat jawaban dariku, dia nekat menanyakan langsung padanya, tapi dia menyangkal ada hubungan special denganku, dan Dena melaporkannya padaku, malamnya aku sms “I hate liar, when u didn’t ready to recognize ours yet, just silent, don’t tell any lie!”  Aku marah.

Kemudian entah untuk alasan apa dia memasang status di twitter, “Bolehkah aku punya pacar anak smansa?” langsung semua anak yang memfollownya, meretweet dengan sejuta tanya, dan mereka langsung mencurigai aku sebagai tersangka yang dimaksud. Akhirnya hubungan kami pun meluaslah bahkan sampai ke telinga guru-guru. Setelah itu kami pun mulai terang-terangan, twitter seolah sebagai penegasan pada dunia, bahwa kami dua insan yang berhak merasakan cinta. Tweet pertamanya yang melunturkan semua rasa penasaran orang-orang adalah: “Thanks for being mine @alzyress<3.” Dan aku meretweet “And thanks for loving me too🙂 RT @suriefkasev: Thanks for being mine @alzyress<3.” Malam itu dunia digemparkan oleh tweet kami.Dan aku merasa menjadi orang yang sangat bahagia.

Hubungan kami semakin hangat, setiap weekend kami selalu menghabiskan waktu bersama. Dan tanggal 31 Maret adalah hari istimewanya. Aku memberikan kado sebuah lukisan karyaku sendiri, gambar dua orang anak manusia yang sedang dimabuk cinta, mereka duduk dan si wanita bersandar pada bahu si lelaki, di pinggirnya ada dua gambar hati yang diikat oleh pembuluh darah, dan di bawahnya ada kata love dengan tanggal anniversary kami. Guru matematika, pak Didik, yang juga ternyata mencintai dunia seni tak sengaja melihat karyaku, memberikan komentar “gambar hati yang diikat oleh nadi, mencerminkan dua hati yang saling menyatu dan takkan terpisahkan, ini buat pacar yaa?” aku hanya menyengir malu dan meminta do’anya agar hubungan kami bisa langgeng.

Tapi mekanisme tangan tuhan mungkin mengiringkanku ke jalan menuju proses kedewasaan. Kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ketika hari kedua terakhir ujian nasional, dia mengantarkanku pulang, karena merasa bersalah tidak bisa mengantarkanku ke rumah Rina di Leuwi Munding, dia tidak ingin aku salah paham karena dia lebih memilih untuk ikut tender di Bandung dengan Pak Budi jadi dia tinggal cukup lama sampai sore di rumah. Malangnya, orang tuaku memergoki kami sedang berpegangan tangan, dan duduk dengan jarak yang sangat dekat. Ketika dia sudah berlalu, aku langsung disidang oleh kedua orang tuaku. Aku diberi pilihan “Kuliah atau pacaran”. Itu adalah warning agar aku mengakhiri hubunganku dengannya. Berat tapi kalau aku memilih untuk melanjutkan hubungan dengannya, maka proses pendidikanku akan berakhir hanya di tingkat SMA. Mama terang-terangan berkata tidak menyukainya, “di rumah aja kek gitu, gimana di luar?” Papa ga kalah pedasnya dalam memberikan nasihat. Akhirnya aku pun meminta putus, tapi bodohnya aku menyampaikan semua yang dikatakan mama dan papa.Entah kenapa aku ga bisa berdusta padanya. Dia yang sedang di Indramayu di rumah Pak Budi untuk persiapan tender esok harinya, menelponku, dan aku dengar suaranya agak bergetar, aneh waktu itu aku sama sekali tidak tertarik untuk mengeluarkan air mata. Pada 22 April 2011 akhirnya kami resmi mengakhiri hubungan.Selama seminggu setelah kami putus, kami tetap intens memberi kabar lewat sms, bahkan dalam tenggang waktu itu dia mengajakku balikan dan backstreet tapi aku menolaknya. Ketika di sekolah berpapasan, dengan angkuhnya aku samasekali tidak menoleh walaupun dia menyapaku. Aku mencoba untuk mematikan semua rasa. Tapi hari-hari selanjutnya kami samasekali stop berhubungan via apapun. Sebelumnya aku sempat mengatakan alasan kenapa orang tuaku tidak mau menerima hubungan kami tentang mereka berkata bahwa dia nakal. Mungkin dia marah. Entahlah.Tapi aku mulai merasa kehilangan. Dia yang selalu ada, kapanpun aku membutuhkan kini tiba-tiba sirna, aku merasa tak punya tempat untuk bersandar. Aku bukan orang yang terbuka tapi padanya aku bisa bercerita apapun tanpa dusta.

Dia selalu menjungjung konsep “just the way you are and just the way I am”. Tapi di akhir hubungannya denganku, dia merasa harga dirinya terhina. Dia merasa dikhianati oleh orang tuaku.Dia selalu berkilah tentang strata dan status social. Awalnya aku bingung kenapa dia menyorot hal itu sedangkan alasan hubungan kami berakhir adalah masalah akademik.

Ketika hubungan kami berakhir aku dengan angkuhnya samasekali tidak meneteskan air mata, tapi hari-hari selanjutnya, hatiku merengek, kalau aku butuh dia. Terlebih ketika dia bisa lebih dulu move on, hanya selang sebulan dia sudah menjalin hubungan dengan yang lain. Perasaanku sudah tidak bisa digambarkan, begitu mudah aku berlalu dari hatinya… sedangkan dia di hatiku? Sampai saat ketika aku menulis note ini, rasa itu masih tetap sama.

Hal yang sangat pathetic. Bahkan teman-temanku merasa sangat kasihan padaku. Kenapa sih kamu ga bisa move on? Apa sih lebihnya dia? Aku berpikir, kenapa aku ga bisa move on? Dan apa kelebihan dia yang membuat hatiku terkunci untuk cinta yang lain? Aku menemui jalan buntu. Aku hanya tahu kalau aku sayang, aku butuh dia. No excuse.

Dia. Dia tidak seganteng Nabi Yusuf, dia tidak sekaya dan sepintar Nabi Sulaiman, dia tidak sesabar nabi Ayub, dia tidak sesholeh Nabi Muhammad, dan dia tidak setaat malaikat kepada-Nya. Dia hanya manusia biasa.

Secara fisikli tak ada yang menarik darinya, dia kecil bahkan sangat teramat kurus, kurang tinggi (hampir setinggi aku), sedikit bungkuk, kepalanya sedikit miring ke kanan, di giginya banyak sekali karang dan ga rapih (jitak kepala sendiri), tangannya selalu dingin, sama sekali jauh dari kata ganteng. Dia sering menjadi olokan karena fisiknya itu.

Secara materi dia di bawah aku, ibunya seorang tukang kredit pakaian, ayahnya seorang penjahit, dia memiliki seorang adik laki-laki yang usianya terpaut jauh dengannya.Rumahnya sederhana terletak di gang sempit daerah Cipinang, Rajagaluh.

Pengalaman bekerjanya, dia pernah bekerja di perusahaan Nyonya Meneer, tapi skillnya yang lebih dalam hal IT dieksploitasi bosnya tanpa mendapat royalty, akhirnya dia pun resign, pernah juga bekerja di daerah Karawang bagian marketing tapi sekali lagi dia dikecewakan oleh bosnya yang sering menitipkan anaknya padanya. Resign dari pekerjaannya yang terakhir, dia sempat menjadi tukang bakso keliling. Sampai akhirnya dia bekerja di server sekolahku, tapi bulan Mei kemarin dia pun resign dan sekarang dia bekerja di Bank Perkreditan Rakyat daerah Sukahaji.

Masalah kesehatan, astaghfirullah, entahlah dia sering terkena pilek berkepanjangan, punya gejala-gejala yang hampir mendekati penyakit peyronie, dan kabar terakhir yang aku terima dia sakit limfadenopati.Ya Rabb… berilah dia kesembuhan dengan tiada sakit setelahnya, amin.:(

Masalah ketaatan, dia mengaku pernah mencicipi minuman keras, rokok bukan benda asing tapi juga tidak terlalu akrab, aku pernah memergokinya menyimpan blue film di hp-nya, parahnya lagi dia mengaku masih ada shalatnya yang sering bolong. Tuhaaaannn…😦

Masalah pendidikan, dari SD dia selalu memegang predikat juara pertama, bahkan SMP sampe SMK dia selalu meraih juara umum.Tapi dia belum berkesempatan mencicipi duduk di bangku kuliah karena keterbatasan biaya.Tapi dia bukan orang yang pantang menyerah, dia selalu belajar otodidak.

Lantas apa yang membuat aku suka? Hal apa darinya yang bisa aku banggakan di depan orang tuaku?

Dia jujur, setia, perhatian, pekerja keras, selalu optimis, dan entahlah sekali lagi, aku hanya tahu kalau aku sayang, aku butuh dia.

Beberapa hari yang lalu mama tiba-tiba berkata, “neng, jadi orang jangan terlalu apatis kek papa, harus punya ambisi, tapi jangan terlalu ambisius juga.Pangkatnya aja udah tinggi tapi kita ga punya apa-apa, rumah masih jelek, sawah ga punya, mobil ga punya, motor jadul, belum naik haji, kalah ama yang baru diangkat kemarin.Biarin mama dibilang materialistis, ga munafik, segala sesuatu kalau ga ada uang ga bakal jalan.Neng cita-cita mama mah Cuma pengen anak-anak sukses, rumah bagus, punya sawah, bisa naik haji, mumpung di dunia.Neng yang jadi harapan mama.”

Loading, semua disangkut-sangkutin, dulu mama dekat dengan dia, jangan-jangan alasan dia selalu menyorot status dan strata social ada hubungan dengan perkataan mama kemarin, aku takut ada omongan mama yang menyinggung hatinya. Aku memang orang tipikal kek papa, bukan ga punya ambisi, tapi orientasi kita dengan mama berbeda, kita ga berharap “dilihat orang”, sebenarnya papa bisa beli mobil, bisa beli sawah, bisa renov rumah, tapi dia lebih mengedepankan pendidikan anaknya, biaya kuliah dan hidup di kota ga cetek, belum lagi ade masih kecil, sementara 5 tahun lagi bokap pensiun, bagaimana nasib kita ke depan seandainya blablabla…? Aku tahu bokap juga bukan contoh yang selalu bisa dijadiin panutan yang baik.Beliau terlalu idealis, egois, dan otoriter.

Disangkutkan dengan dia, ketika dia main ke rumah, dia sempat memperlihatkan gajinya yang di bawah UMR😦 bagaimanapun dia belum diangkat.Itukah alasan aku ga bisa bersamanya?Benarkah hal-hal yang selalu dijadikannya boomerang tentang status dan strata social?Kalau iya, kenapa harus aku yang jadi korban?Jika berdalih dengan kebaikanku sendiri, tidak selamanya menjadi kaya bisa bahagia.Aku tidak butuh mereka yang mendominasi aku dengan hartanya.Tapi aku juga tidak mau dengan mereka yang menukar waktunya demi uang.Siapa yang tahu akan masa depan? Ketika aku bersamanya, belum tentu aku akan menjadi istrinya.
Tapi mungkin ini jalan yang terbaik, manusia hanya bisa berasumsi, dan menerka-nerka tetap Allah yang punya jawaban.Dan manusia hanya harus berbaik sangka kepada-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s