Hey, Stranger! Thanks ^^

Tanggal 5 Mei kemaren finally I can stand at Bogor. Rasanya seneng banget. Dari pertama kali diajak, aku langsung cek jadwal dan mengcancel semua kegiatan yang masuk. Separuh asaku masih tertinggal di Bogor. Harapanku masih terpaut di sana.

Jadi kemarin aku diajak Agnes untuk menemaninya piknik ke Taman Matahari bersama dengan karyawan lainnya dari PT. Multistrada Arah Sarana, Tbk. Sabtu siang Agnes dari Cikarang dengan mengemudikan motor langsung bergegas menuju kosanku di Cimahi, itu pertama kalinya dia pergi ke Bandung juga dan langsung berani ambil resiko demi menjemput aku, cieeeee… soalnya dia udah bayarin tiketnya, sayang mungkin kalau aku ga ikut. Aku memang tidak tahu menau masalah biaya masuk ke objek wisata atau ongkos Cimahi-Cikarang sekalipun karena semua Agnes yang menghandle, aku hanya tahu kalau aku bersama dia. Ketika dia sampai di Cimahi, aku masih sedang dalam perjalanan dari Direktorat menuju kosan, malangnya macet parah, mobil yang aku tumpangi bisa diperkirakan mengemudi dengan kecepatan 1 m/jam. Terpaksa kita ngaret 30 menit dari rencana awal.

Long march ini merupakan pertemuan pertama aku dengan Agnes setelah dua tahun saling kenal. Dan ini the greatest grant ever from stranger. Tapi walaupun demikian ketika bertemu, seolah-olah kami adalah teman lama yang sedang bernostalgia, sama sekali tidak ada kekakuan. It was so excited.

Agnes dan Aku


Kami menghabiskan waktu yang sangat lama di perjalanan, terlebih dari awal jalur Cimindi kami terjebak macet. Kami sampai di Cikarang sekitar jam 9, jauh dari prediksi kami. Sambil beristirahat kami makan di sebuah warung tegal, kemudian bergalau ria dimana aku akan beristirahat malam itu. Rencana awal aku akan menginap di kosan teman smpku yang juga kerja di Cikarang, tapi sehari sebelumnya aku lupa mengkonfirmasi kedatanganku dan pas hari itu ternyata temanku lembur. Setelah mengubek semua kontak yang mungkin bisa dihubungi, akhirnya aku menginap di kosan Wati, Teman dekat Asep (teman SMP ku juga). Di kosan ini bross kesayanganku yang sudah aku jaga selama 5 tahun hilang, nangis guling guling.

Aku baru tahu kalau Cikarang panasnya naudzubillah. Jam 12 aku tidur, ngga sampai jam 2 aku udah bangun dengan keringat yang membanjiri kaosku. Padahal kami tidur di lantai hanya beralaskan kain yang dilipat berlapis-lapis. Aku langsung menyerbu kamar mandi saking tidak tahannya. Dan ternyata mandi jam berapapun, air di sana tidak pernah terasa dingin, aku udah pengen nangis sejadi-jadinya. Setelah mandi aku pindah tidur di lantai di dekat kipas angin, dan ga sampe sejam, kembali dibangunkan oleh Agnes yang datang menjemput.

Kami berangkat dari Cibarusah (kosan Wati) pukul 5 am. dan mampir ke masjid untuk menunaikan shalat Shubuh dan yang konyol ketika kami berada di alfamart untuk sekedar mencari sarapan, Aku baru sadar kalau tas Agnes ngga ada, dasar udah tuir dia.

Kemudian kami langsung menuju pabrik, ada 2 bis yang sudah siap pakai tapi ternyata bukan bis yang akan kami tumpangi. Sudah banyak orang yang menunggu akhirnya lewat 15 menit dari jadwal yang ditentukan kami pun berangkat menuju Bogor. Aku tidak terlalu memperhatikan jalan, aku hanya ingat kami melewati jalan tol, TMII, Poltekkes Jakarta II, dan kami terjebak macet cukup lama sehingga bisa menyempatkan diri untuk turun dari mobil dan foto-foto.

Jam 9 am. kami tiba di Taman Matahari, selama beberapa menit massa masih belum bisa dikondisikan. Kemudian kami semua langsung menuju ke saung dan dibagi konsumsi. Saungnya terdiri dari dua tingkat dan nyaman walaupun ada sedikit semut yang seolah tidak mau ketinggalan moment untuk ikut bergembira ria. Kemudian setelah melewati rangkaian acara yang resmi, jam 12 pm. kami dilepaskan, berasa ayam yang keluar dari kandang. Kami langsung berpencar mencari wahana yang asik dan kosong.

Dan yang terdekat adalah naik kuda, satu impianku tercoret sudah. Aku memang berangan-angan untuk naik kuda pacu dari dulu dan ternyata itu bisa diluluskan oleh seorang stranger. Alhamdulillah. Ongkos sewa kudanya Rp 20.000,-. Aku mencoba menawar dengan harga yang lebih murah tapi tidak bisa. Di sepanjang perjalanan itu aku ga bisa berhenti nyengir saking senangnya dan terus berceloteh menimpali si mas si yang mengiringiku. Terkadang aku menjerit ketika tiba-tiba kudanya berlari kaget setelah dicambuk. Aaarrrrgghh… ga akan pernah bisa lupa.

Di tengah jalan kami bertemu dengan rombongan Shandy dan mas Arif dan dua cewek yang mereka bawa. Kami pun bareng menuju tempat arung jeram. Ternyata antriannya sangat panjang dan kami baru menikmatinya jam 2.15 dua jam dari waktu itu. Akhirnya kami kembali berpencar. Kemudian aku dan Agnes naik water bike, dimana-mana penuh untungnya banyak tempat yang menyediakan fasilitas tersebut. Uang tiketnya Rp 3000,- dan kami bermain selama 15 menit, sangat menyenangkan tapi terlalu singkat.

Kemudian kami mampir ke pusat jajanan di sana, ada baju yang aku suka, sweater seperti yang sering dipakai orang korea tapi harga ga bersahabat dengan kocek. Akhirnya kami berlalu dengan tangan kosong. Wahana selanjutnya yang kami targetkan adalah flying fox, ada 3 tempat yang menawarkan flying fox, untuk anak-anak, untuk dewasa dengan lintasan panjang, dan untuk dewasa dengan lintasan yang agak lebih pendek tapi paling curam. Tiketnya Rp 15.000,-. Di perjalanan menuju tempat flying fox agnes membelikanku kembang gula manis, harganya Rp 8.000 dan kamipun makan bersama. Kebetulan tempat flying fox yang kami datangi tidak padat, kami mendapat no. antrian kedua. Kami memutuskan naik flying fox secara tendem yaitu bersama-sama, di tengah lintasan Agnes memegang pinggangku issshhh, tapi hal tersebut tidak mengurangi rasa sukacitaku. Terlebih ada fotografer yang memotret kami walaupun aku samasekali tidak sadar, kami pun mencetaknya sebagai kenang-kenangan. Harganya Rp 25.000,- padahal kami bisa meminta soft copynya saja seharga Rp 5.000,- tapi kebetulan flash disk-ku ketinggalan di tas (dalam bis).

Sampai ke wahana yang paling ditunggu-tunggu. Arung jeram dengan harga tiket Rp 25.000,-. Awalnya formasi kami adalah berenam, tapi kemudian datang menyusul mas Arif (yang lain) bersama istrinya. Kami dibagi menjadi dua, aku bersama Agnes, mas Arif dan istrinya. Panjang sungai yang kami tempuh hanya 600 m. Di tengah-tengah kami sibuk mengingatkan instrukturnya untuk memberitahu ketika ada kamera. Dan karena sibuk bergaya aku terjungkal ke belakang. Masing-masing regu mendapat jatah foto 10, kalau diprint ukuran 3R harganya Rp 10.000,- ukuran 5R Rp 15.000,- sedangkan softcopynya apabila diambil semua seharga Rp 50.000,- sedangkan kalau diambil satuan harganya Rp 10.000,-.

Waktu menunjukkan jam 4 kurang 10 menit. Kesepakatan kami sebelum dilepas, jam 4 kami sudah berkumpul di saung. Kami berlari mengejar waktu, dan yang membuatku terharu adalah ketika ada salah satu cewek yang dibawa Shandy mengeluh capek karena terus berlari, mas Arif menjawab “Soalnya komitmen awalnya kita kumpul jam 4, ga boleh telat.” Aarrghhh kagum, terpesona, dan meleleh, soalnya di tempatku sekarang, jarang ada orang yang menghargai waktu, mereka berkumandang untuk menerapkan budaya organisasi yang tepat waktu tapi faktanya itu Cuma sekedar jadi gumaman. Moment ini yang paling berkesan dan memberiku pelajaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s