TUHAN TIDAK MATI

Atheisme adalah paham yang tidak mengakui adanya Tuhan. Macam-macamnya adalah Atheisme Optimisme, Atheisme Materialisme, Atheisme Psikologi, Atheisme Marxisme, Atheisme Eksistensialisme, dan Atheisme Neo Positivisme.

1. Atheisme Optimisme
Pengusungnya adalah Nietzsche, seorang pemikir dari Jerman yang mengatakan Tuhan telah mati dan dia pernah menggegerkan Jerman, bahkan Eropa pada abad ke-19 silam.
Nietzsche menggegerkan Eropa karena menurutnya tuhan telah mati. Bagaimana runtutan cara berpikir Nietzsche sampai dia meniadakan Tuhan?

Menurutnya, manusia mengakui adanya Tuhan karena tingkat ilmu dan teknologi yang rendah. Manakala manusia telah mencapai ilmu dan teknologi yang tinggi niscaya percaya pada Tuhan tidak diperlukan lagi. Dahulu ketika ilmu dan teknologi manusia masih rendah, hidupnya masih tergantung pada belas kasihan alam. Semua kekuatan alam didewakan. Ketika manusia melihat banjir besar melanda pertanian dan pemukimannya yang membawa penderitaan luar biasa, ia merasa tidak mampu mengatasinya. Ketika banjir reda dan sungai kembali jernih, manusia dapat memanfaatkan kebaikannya sebagai sumber penghidupan. Ikan-ikannya yang gemuk dan manfaat lainnya yang banyak. Agar sungai tidak mengamuk dan tetap memberikan berkah lalu disucikannya. Dianggap mempunyai kekuatan raksasa yang ghaib. Lalu diberi sesaji, dihormati, dituhankan.
Dalam masyarakat primitif muncul dewa sungai, dewa langit, dewa laut, dewa hujan, dewa pertanian, dan lain sebagainya yang itu semua merupakan kekuatan alam. Tetapi ketika manusia tidak lagi bergantung pada alam, dengan ilmu dan teknologinya dapat mengendalikan banjir, dengan ilmu pertanian dapat melipatgandakan hasil panen, dewa atau Tuhan sungai tidak ada lagi. Kekuatan alam yang berupa banjir yang dulu diagungkan dan disucikan diberi sesaji kini harus sujud menyembah di telapak kaki manusia. Dalam sejarah bangsa Yunani dikenal banyak dewa-dewa yang diketuai oleh Zeus.
Kini manusia telah menguasai ilmu dan Tuhan ataupun dewa-dewa yang dianggap sebagai Tuhan, tinggal hanya dalam buku-buku perpustakaan. Nietzsche bertanya, kemana Tuhan-Tuhan itu pergi? Apakah dia lari atau bersembunyi ataukah dia hilang seperti anak kecil? Tidak! Tuhan itu telah mati! Kita yang membunuhnya, demikian Nietzsche mengejek bahwa Tuhan ditikam jantungnya dengan belati ilmu pengetahuan. Ia sangat optimis bila manusia telah mencapai kemajuan, sehingga ilmu pengetahuan membebaskan manusia dari ketergantungannya pada alam, maka Tuhan telah sempurna matinya. Ia membutuhkan waktu sebagaimana kilat pun membutuhkan waktu. Ia menganjurkan agar manusia terus maju mengejar iptek sehingga ia sendiri menjadi pengatur alam, bukan tergantung pada alam. Manusia dengan ilmu pengetahuannya harus menggantikan dewa-dewa orang primitif, menjadi penentu dan pengatur alam.
Bagaimana membuktikan pemikiran Nietzsche samsekali tidak benar?
Tidak diragukan lagi, manusia dengan iptek telah mencapai kemajuan yang luar biasa. Sekali peristiwa terjadi di ujung dunia, pada saat yang sama dapat dimonitor pada ujung dunia yang lain. Sekali gagang telpon diangkat, komunikasi antarbenua dapat terlaksana. Manusia telah berhasil melakukan cangkok ginjal, cangkok jantung, dan bahkan mampu menggandakan makhluk hidup dengan cara cloning. Berbagai penyakit berbahaya seperti TBC, infeksi, raja singa bisa diatasi. Manusia merasa semakin maju ipteknya, semakin kecil masalah yang tidak bisa diatasinya, sehingga pada suatu saat akan sampai pada batas dimana semua masalah akan dapat diatasi.
Tetapi apa yang terjadi tidaklah demikian. Batas di mana manusia ingin mencapainya ternyata selalu mundur sejalan dengan kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan. Suatu masalah dapat ditangani, masalah lain muncul. Maka selamanya tidak akan dapat mencapai batas itu. Ilmu pengetahuan tidak dapat mendeteksi kapan persisnya gempa terjadi. Kalaupun bisa mendeteksi, tetap saja ilmu pengetahuan tidak dapat menolak terjadinya gempa. Demikian pula untuk selamanya manusia tidak akan melepaskan diri dari ketuaan dan kematian. Kenyataan ini menyadarkan dia kepada keyakinan akan adanya suatu Dzat yang kuasa sepenuhnya , yang dapat mengobati segala penyakit. Yang dapat menghidupkan dan mematikan. Yang tidak terbatas kekuasaannya. Tidak terpengaruh oleh waktu. Yang kekal abadi tidak terkalahkan oleh kematian, sebab Dialah pencipta kematian. Dialah Tuhan! Dialah Allah, Tuhan seru sekalian alam.

2. Atheisme Materialisme
Menurut orang-orang atheisme materialisme, wujud segala sesuatu didasarkan pada materi. Materi adalah segala sesuatu yang bisa ditangkap oleh indra manusia. Bisa diketahui adanya dengan diraba, dipegang, disentuh, dicium, ditangkap, dilihat, dst.
Menurut mereka, hakikat alam ini adalah materi atau benda. Jiwa dan pikiran adalah materi juga, hanya sangat halus berbeda dengan materi yang lain. Dan menurut mereka segala yang tidak materi itu tidak ada. Tuhan bukan materi, Tuhan bukan benda jadi Tuhan tidak ada.
Orang-orang yang berpikiran seperti itu sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad berdakwah di Mekkah. Al Qur’an dalam surat Al Jaatsiyah menjelaskan, bahwa di Mekkah ada sekelompok golongan yang tidak percaya adanya Tuhan dan hari kiamat. Mereka mengatakan: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa!”
Perkataan mereka, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja,” adalah pengingkaran kepada kehidupan hari kemudian, hari di mana manusia dibangkitkan dari kematian. Kenapa mereka tidak percaya? Karena mereka berlandaskan pada materi yang bisa dilihat, diraba, dan diindera. Menurut mereka alam itu ya alam dunia ini yang pada hakikatnya adalah mayeri. Di dunia inilah terjadi kehidupan dan kematian. Tidak ada alam selain dunia ini.
Paham ini mencuat kembali pada abad ke-17 dan ke-19. Di antara tokohnya yang terkenal adalah Karl Vogt, Huxely, Lamettra. Karl Vogt pernah berkata, otaklah yang melahirkan kehidupan ini. Otak melahirkan pikiran sebagaimana ginjal melahirkan air seni. Maksudnya tidak ada wujud selain daripada materi. Tuhan bukan materi, kata Vogt. Jadi ia tidak ada.
Alasan para penganut paham materialisme itu sangat lemah. Pada kenyataannya manusia mengakui adanya sesuatu yang bukan materi. Misalnya hukum. Hukum itu nonmateri. Dan hukum itu ada. Diakui semua manusia termasuk para pengikut materialisme. Contoh lain adalah ide. Siapa bisa mengindera ide? Ide diakui ada begitu saja dalam pikiran manusia. Ide. Tapi ide itu ada. Juga spirit. Spirit ada begitu saja, masuk dalam jiwa manusia.
Contoh lainnya lagi waktu. Siapa bisa melihat waktu? Waktu bukan benda. Bukan materi. Tidak bisa ditangkap indera manusia. Dengan kamera secanggih apa pun manusia tidak bisa memotret waktu, bentuknya seperti apa. Otak manusia meyakini begitu saja waktu itu ada. Jadi, banyak sekali hal-hal yang nonmateri yang diakui keberadaannya oleh manusia. Jika mereka bisa mengakui adanya hukum, ide, spirit, dan waktu yang bukan materi, kenapa mereka mengingkari adanya Tuhan? Jadi alasan mereka mengingkari adanya Tuhan sangat lemah.

3. Atheisme Psikologi
Bisa dikatakan aneh, Psikologi semestinya menguatkan keimanan seseorang akan keberadaan Tuhan. Karena psikologi adalah penjelajahan perasaan, batin, dan jiwa manusia. Semakin kenal manusia pada dirinya semestinya ia semakin dekat dengan Tuhannya. Pepatah Arab mengatakan “Man ‘arofa nafsahu ‘arofa Rabbahu” artinya siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya. Namun ternyata ada beberapa ahli psikologi sesat yang menggunakan alasan psikologi sebagai dalil mengingkari adanya Tuhan.
Mereka contohnya adalah Sigmund Freud dan Ludwig Van Feuerbach. Keduanya ahli psikologi Jerman pada abad ke-19. Mereka berdua mengingkari adanya Tuhan dengan alasan psikologi. Menurut mereka bertuhan adalah jiwa kekanak-kanakan yang dibawa hingga dewasa. Menurut Freud, saat kecil manusia lemah. Ia mengalami banyak kekurangan untuk memenuhi kebutuhannya. Meja begitu tinggi bagi seorang bocah. Ia tidak bisa menggapai benda di atasnya. Kursi terlalu berat, ia tidak kuat mengangkatnya. Ia melihat ayahnya bisa melakukan apa saja. Mengambil benda di atas meja. Mengangkat kursi. Begitu mudah. Ia kagum pada ayahnya. Ayahnya ia lihat mahakuasa. Ia menjadi sangat memerlukan ayah.ketika anak itu sudah dewasa, ia menciptakan Tuhan dalam benaknya, Tuhan yang ia sebut dalam do’anya untuk memenuhi semua keinginannya. Persis waktu kecil ia dulu saat meminta pada ayahnya. Jadi Tuhan, menurut Freud, hanya rekayasa manusia saja untuk ia jadikan tempat bertumpu atas segala keinginannya. Freud mengingkari adanya Tuhan dengan alasan seperti itu. Agama menurut Freud dan Freubach hanyalah cermin keinginan manusia.
Dari segala sisi paham ini lemah. Dari awal sampai akhir dasar falsafah mereka lemah. Kita tanya pada anak-anak kecil di sekitar mita tentang Tuhan, mereka akan menjawab Tuhan itu ada. Jadi pengalaman psikologi seperti yang digambarkan freud sangat jauh dari kebenaran. Freud menggambarkan ketika orang sudah dewasa dia menciptakan Tuhan dalam benaknya. Yaitu Tuhan yang dia sebut dalam do’anya untuk memenuhi keinginan-keinginannya. Persis waktu ia kecil dulu saat minta tolobg pada ayahnya. Ini sungguh gambaran yang lucu sekali. Bagaimana dengan orang yang sejak kecil telah mengenal Tuhan, dan mengakui Tuhan itu ada? Atau bagaimana dengan anak yatim piatu yang tidak punya bapak dan tidak punya ibu. Hidup sebatang kara sejak kecil, namun ketika dewasa mengakui adanya Tuhan. Apakah Tuhan yang diakuinya terlahir dalam benaknya sekadar untuk memenuhi keinginan -keinginannya, persis waktu ia kecil dulu saat minta tolong pada ayahnya. Bagaimana ia punya pengalaman minta tolong pada ayahnya padahal ia tidak punya ayah?

4. Atheisme Marxisme
Ini adalah atheisme paling populer di abad modern ini. Paham ini pernah menjadi ideologi negara Rusia. Pencetusnya adalah Karl Marx kemudian diteruskan oleh Lenin, dikukuhkan okeh Stalin, dan dilestarikan oleh para penerusnya. Marxisme inilah yang melahirkan konunisme. Dan pernah berkembang dengan kecepatan luar biasa, sampai-sampai hampir sepertiga penduduk dunia memeluknya. Di Indonesia ideologi marxisme dan komunisme pernah hidup dan berkembang pesat. Ideologi itulah yang menjadi jiwa Partai Komunis Indonesia atau PKI, yang hampir meruntuhkan Republik Indonesia dengan pemberontakan G 30/S PKI pada tahun 1965.
Karl Marx membangun ideologinya yang mengingkari Tuhan dengan menggabungkan atheisme materialisme dan atheisme psikologi. Ia terang-terangan memusuhi Tuhan dan memusuhi agama. Ia mengatakan agama adalah candu masyarakat. Ia menyerukan untuk memberantas agama. Karena ia memandang agama adalah khayalan manusia yang gagal membangun surga di dunia, lalu ingin membangun surga di akhirat. Surga di akhirat hanya khayalan belaka. Agama merusak pemikiran manusia. Sebaliknya marxisme yang dia bawa mengajak manusia mendirikan surga di dunia. Dunia adalah segalanya , manusia harus membangun surganya di dunia.
Marx mengatakan agama adalah candu yang meninabobokan manusia kepada kehidupan khayali. Pernyataannya itu tidak berlaku untuk semua agama, terutama Islam. Islam itu tidak hanya membangun kebahagiaan di akhirat, tetapi juga kehidupan di dunia. Bahkan dunia ini dijadikan sebagai ladang kebahagiaan akhirat.
Rasul Islam yaitu Muhammad Saw. Menyeru kepada umatnya untuk bekerja keras membangun kejayaan duniawi, sebagaimana menyeru umatnya beribadah sebaik-baiknya untuk membangun surga ukhrawi. Islam sendiri dengan terang dan tegas memerintahkan pemeluknya agar bekerja untuk dunianya seakan-akan mereka akan hidup selamanya, dan beribadah untuk akhiratnya seolah-olah mereka akan mati besok pagi.
Dalam hadits yang lain Rasul memberitahukan, seseorang yang bekerja untuk anak-anaknya, maka pahalanya sama dengan berjuang di jalan Allah. Beliau juga menjelaskan,  harta yang diinfakkan untuk jihad fi sabilillah, harta yang digunakan untuk memerdekakan budak, harta yang diberikan pada fakir miskin dan harta yang dibelanjakan untuk keluarga, di antara semua itu, maka yang paling besar keutamaannya adalah harta yang dibelanjakan untuk keluarga. Betapa Islam mengajak manusia mencapai kebahagiaan dunia.
Lalu Rasulullah menegaskan, “Dunia adalah ladang akhirat!” Kaitan dunia dengan akhirat begitu eratnya. Yang dipetik di akhirat adalah apa yang ditanam di dunia. Tanpa keberhasilan seseorang menempatkan dirinya di dunia dia tidak akan berjaya di akhirat. Islam mengajarkan keseimbangan dunia dan akhirat. Tidak boleh ada yang timpang salah satunya.

(Habiburrahman El Shirazy, 311-315 & 330-338, novel Bumi Cinta)

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s