Potret Silam

Log in facebook dan stalker profil sendiri. Entah kenapa merupakan kesenangan tersendiri ketika membaca tulisan atau status yang aku update🙂

Dan sempat shock, anak dari orang yang tangannya menghinaku masih ada dalam friendlist. Berarti selama ini dia masih bisa mengikuti perkembanganku? Anaknya masih usia SD rasanya tidak mungkin addicted oleh social network, walaupun tidak menutup kemungkinan, karena memang anak sekarang pada kelebihan hormon sehingga dewasa pada waktunya. Akhirnya tanganku pun melampiaskan keegoisannya untuk memblock account tersebut.

Ini memutar semua rekaman masa silam yang menyakitkan. Semua sekarang terlihat saling berkaitan. Aku berani bertaruh dia (si pemilik tangan) mulai memperhatikanku ketika materi tentang pidato, saat itu temanya pahlawan. Dan aku mengambil topik “Apakah Soeharto pantas mendapat gelar Pahlawan?” Saat itu topik tersebut memang sedang booming, kenapa Abdurrahman Wahid mendapat gelar pahlawan sedangkan Soeharto tidak? Namun aku tidak bermaksud untuk membahasnya sekarang. Dia dengan secara terang-terangan menyebutkan tidak menyukai Pak Harto karena blablabla, terlebih karena Pak Harto mengurung guru besarnya (entah siapa namanya aku lupa) di balik bui karena kritik pedasnya terhadap pemerintah. Itu aku jadikan satu tembakan dalam pidatoku, aku melucuti sikapnya yang terkesan memberatkan Pak Harto dengan mengcompare pandangan dari rakyat kecil. Ternyata sangat bertolak belakang. Mereka yang menjelek-jelekkan pak Harto adalah orang yang sakit hati oleh penguasa rezim orde baru tersebut, mereka yang tidak mendapatkan posisi dan kekuasaan. Bagaimana reaksinya ketika menyimak pidatoku? Dulu teknis pidato apabila lebih dari 5 menit maka akan dicut untuk mengefisienkan waktu, tapi entah kenapa aku dibiarkan terus menyuarakan pendapat frontalku yang menyanjung penguasa orde baru tersebut. (sekarang aku kehilangan semangatku, aku kehilangan jiwa mudaku). Kemudian dia hanya terkekeh dan berkomentar, “Penampilan Riska bagus, tapi mungkin temponya bisa lebih diatur, Riska pidato lebih mirip orasi. Jadi pidato itu temponya lambat, ada jeda dan penekanan sehingga intonasinya jelas” Dan kemudian dia membandingkan penampilanku dengan Bayu, aku sedikit ingin tertawa, aku suka penampilan Bayu, tapi ketika dia yang mencontohkan, rasanya kurang interest. Dari dulu aku memang sedikit sinis terhadapnya, banyak alasan yang mengarahkanku untuk tidak menyukainya. Tapi berhubung statusku dulu adalah seorang siswa, aku masih bersikap wajar dan tahu batasan dalam bertindak sesuai etika.

Itu mungkin awal dia mengetahui nama dan mulai memperhatikanku. Peristiwa lain, waktu itu masa galau dan penantian panjang setelah ujian nasional, kami para siswa tetap stay di sekolah walaupun tidak ada KBM. Dan aku ingat jelas, saat itu aku sedang duduk bersandar dan melamun sendirian di depan kelas XI IPA 3, kemudian entah dari arah mana dia datang (ketika tenggelam dalam duniaku, aku berubah menjadi autis), tiba-tiba dia menghampiriku dan duduk di sampingku. Aku lupa dia menyampaikan apa, yang jelas dia berkoar memberikan babibu motivasi dan sebuah pukpuk PAKDEMSIT!!! Sampai akhirnya Tria datang dan dia berlalu.

Di kesempatan lain, ketika ujian beres aku pergi untuk menemui you-know-who di server, tapi aku hanya berada di pintu dan tidak masuk ke dalam, kemudian dia tiba-tiba muncul di balik daun pintu dan menanyakan apa yang sedang aku lakukan di sana (it is none of your business, jerk!).

Dan klimaksnya adalah saat itu. Tuhan, bantu aku menghapus sebagian memori burukku! Beri aku kekuatan untuk memaafkan! Aku tidak ingin terbelenggu dalam perasaan seperti ini terus-menerus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s