Kami Hanya Bersuara

Menjelang Dies Natalis X banyak kasak kusuk tentang hari lahir Poltekkes Kemenkes Bandung tersebut. Terlebih mereka menyesalkan waktu pelaksanaannya yang menyita waktu liburan mereka yang memang singkat. (?) bukannya dari awal libur memang hanya seminggu?

Dies Natalis itu ngapain aja sih, ka?” salah seorang teman bertanya.
Banyak acaranya, mulai dari berbagai macam lomba olah raga, bazar, masak sampai penampilan dari Lisema + PSM. Jurusan yang ada di luar Bandung juga dateng loh…” sambutku antusias.
“Kalau ngga dateng boleh, ga? males acaranya gitu-gitu aja” berondongnya.
“…” speechless.

Itu hanya salah satu respon yang aku terima. Lain halnya dengan pendapat teman yang lain. Dia tahu bahwa sebelumnya Dies Natalis ini akan diadakan di GOR Padjadjaran, tetapi (katanya) dikarenakan GOR tersebut penuh  maka terpaksa pelaksanaannya kembali diadakan di Gunung Batu (lagi). i dont know about it at all.
Dia menyayangkan hal tersebut, menurutnya dengan dilaksanakannya dies natalis di GOR Padjadjaran sekaligus merupakan ajang promosi poltekkes ke dunia luar. Faktanya eksistensi poltekkes memang masih sangat kurang. Pengalaman pribadi saya ketika berbincang dengan alumni jurusan biologi Unpad di angkutan umum begitu miris.
Dia: “Teteh sekolah di Bandung?”
aku: “Muhun teh, di poltekkes Bandung.”
Dia: “Oh, poltekkes teh setingkat SMA?”
Aku: “…”

Mahasiswa universitas sekaliber Unpad tidak tahu apa itu politeknik kesehatan, lantas bagaimana dengan orang awam? Conversation aku dengan calo angkutan umum di BTC.
Dia: “Kuliah dimana, teh?”
Aku: “Poltekkes Bandung, Pak.”
Dia: “Dimana poltekkes Bandung teh?”
Aku: “Di gunung Batu, pak.”
Dia: “Oh, di Gunung Batu teh aya kampus?”
Aku: “…”

Kita tentunya tidak bisa menyalahkan masyarakat, karena memang aksi poltekkes sendiri untuk dikenal di dunia luar sangat minim. Ambil contoh ketika ada yang mengusulkan untuk mengundang bintang tamu di acara dies natalis, ada sanggahan yang menyatakan bahwa waktunya mepet sehingga tidak mungkin untuk mengundang bintang tamu. Alasan tersebut masuk akal. Tetapi ketika ada jawaban, “Bintang tamu itu merupakan pihak eksternal, sedangkan kita pihak internal saja masih sulit untuk disatukan, seperti jurusan kebidanan karawang, keperawatan dan kebidanan Bogor.” Kalau selamanya paradigma kita diikat oleh anggapan seperti itu, kapan kita bisa maju? Apakah dengan nanti setelah terselenggaranya dies natalis semua jurusan di poltekkes akan secara serta merta menyatu? Belum tentu, kan? Seandainya secara turun temurun tidak berubah dan tetap seperti itu, tidak akan pernah ada gebrakan baru dan statement “Bergerak Menuju Perubahan” hanya akan menjadi sebuah wacana.

Mengenai acaranya? masih berdiskusi dengan orang yang sama, lomba olah raga? Berbeda dengan sambutan terhadap acara piala dunia, antusiasme mahasiswa di kampusku terhadap olah raga kurang, bahkan mungkin sangat kurang (khususnya tingkat 1). Bercermin dari acara sebelumnya di Analis yang entah acara apa, aku lupa (yang jelas closingnya adalah spektrum) orang yang berpartisipasi dalam acara tersebut hanya dia dan dia lagi. Lantas bagaimana dengan konteks menyatukan seluruh mahasiswa?
Jika setiap tahun acaranya seperti itu, hal tersebut tentu saja monoton, mahasiswa di kelasku hanya butuh sebuah udara segar, atmosfer yang berbeda.
Temanku mengusulkan setiap jurusan untuk membuat sebuah film, yak! Jika saja waktu persiapan bisa lebih lama, ini merupakan pilihan yang tidak buruk, walaupun tidak semua ikut berpartisipasi tapi setidaknya, ada yang berbeda! Kompetisi membuat film ini akan merangsang kreativitas mahasiswa yang dipasifkan oleh segudang tuntutan akademis. Mereka akan dipaksa untuk berpikir dan mengekspresikannya dalam sebuah cerita. Terus terang hal ini menarik menurutku.

Usul lain, acara yang sedikit nyeleneh, mahasiswa diwajibkan membuat sebuah karikatur dosen yang menurutnya menarik atau unik. Ini mungkin akan menuai pro dan kontra (mungkin lebih banyak yang kontra). Tapi di sisi lain aku setuju, ini bisa jadi kesempatan mahasiswa untuk menyampaikan unek-uneknya. Karikatur ini tidak perlu dikompetisikan, cukup dipamerkan seperti hasil fotografi. Tentunya kita tidak bisa memprediksikan bagaimana reaksi dari para dosen, tapi yakin ketika melihat sudut pandang mahasiswanya tentang mereka dan seumpama hal itu nyeleneh, mereka akan geli sendiri dan mungkin berusaha untuk berubah lebih baik lagi walaupun ada peribahasa adat kakurung ku iga.

kemudian bazar, kami berdua belum paham terhadap konsepnya, tapi yang ada di pikiran kami adalah kekreativitasan setiap jurusan untuk membuat stand dan mendemonstrasikan keahliannya. Teknisnya mungkin seperti baksos (berarti judulnya bukan bazar dong?) , jadi dies natalis bukan hanya sebuah euphoria semata, tapi juga memberikan manfaat kepada warga, dengan demikian otomatis warga akan menanti-nanti kapan dies natalis akan dilaksanakan kembali.

Apa sih tujuan diadakannya dies natalis ini? Jika untuk memperat silaturahmi kenapa harus berpusing-pusing ria mencari kegiatan yang rumit, memakan waktu untuk persiapan juga membuang uang banyak? Padahal menurut pendapat aku pribadi kita bisa melaksanakan kegiatan seperti di acara tujuh belas agustusan. Misalnya ada pasangan yang joget dengan balon terselip di kepala mereka dan pasangan yang bisa mempertahankan balon sampai lagu selesai mendapat hadiah. Hal itu terlihat sepele dan tidak intelek tapi jelas akan mengundang banyak tawa. hihihi ~

Tema, awalnya ada 4 tema yang diusung, “Blow up your buble to get your talents out”, “Make the Change to Success”, “Perfect Teen with Perfect Ten”, dan yang terakhir adalah “Ceria with art blablabla” (aku lupa yang terakhir :p). Terus terang kalau disuruh voting, aku akan memilih tema yng pertama, soalnya tema yang lain menggunakan bahasa yang terlalu lugas, sedangkan tema yang pertama mengandung kiasan sehingga membuat tema menjadi lebih menarik dan orang yang membacanya penasaran. Dan pada akhirnya, tema yang diambil adalah gabungan dari seluruh tema, entahlah tapi aku lupa apa temanya. Kami berpikir tema yang dipilih terlalu rinci sehingga lebih pantas dijadikan judul dibanding tema, tapi kami tidak membantah ataupun menyanggah karena kami tidak memiliki saran yang lebih baik yang bisa diajukan.

Semoga acara besar perdana kabinet sinergi ini bisa berlangsung dengan sukses.
Kami tidak tahu pertimbangan A-Z yang melatarbelakangi kenapa dan mengapa setiap pilihan itu diambil. kami dari kacamata orang awam dan anak bawang hanya bersuara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s