Entah Apa yang Aku Pikirkan (part 1)

Banyak sekali rangkaian acara sebelum aku sampai di rumah.

1. Start Belajar di U*B

Hari pertama di U*B, kami registrasi dan mendepositkan sejumlah uang yang sebelumnya telah menjadi kesepakatan sebagai jaminan bahwa kami akan serius mengikuti setiap program yang diberikan oleh U*B. Kemudian pengenalan program apa saja yang akan kami jalani selama di level nol. Level nol ini merupakan matrikulasi atau masa TPB kalau pada institut. Jadi selama 3 bulan, yakni 12 kali pertemuan, kami harus bisa lulus level nol untuk bisa naik ke level 1. Adapun kegiatan di level nol yaitu project 1 & 2, quiz (minimal harus benar 75% dan yang terakhir kita harus mereferensikan min. 3 orang untuk bergabung bersama U*B.

Point yang aku dapat di hari pertama kami belajar yaitu:

*Awali hidup dengan impian bukan khayalan!

Awalnya saya bertanya, apa yang membedakan impian dengan khayalan? Kemudian Pak Vict*r As*h menyuruh kami untuk memejamkan mata dan membayangkan apa yang paling ingin kami raih dalam hidup. Nah, ketika kita merasa menjadi orang yang paling bahagia dan merasa menjadi orang paling beruntung di dunia ketika mendapat apa yang ingin kita raih… Atau merasa sangat sedih dan merasa menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia ketika apa yang ingin kita raih tidak tercapai, maka itulah yang dinamakan dengan impian. Sedangkan kalau kita merasa biasa saja maka itu disebut dengan khayalan.

* Buang rasa takut atau impossible

Musuh terbesar manusia adalah menghadapi rasa takut dalam dirinya sendiri. Seorang entrepreneurship harus bisa menaklukkan monster takut di dalam dirinya karena Impossible adalah I’m Possible🙂

* Buat orang lain mengenang kita

Tanya pada diri anda sendiri, tahukah Anda siapa nama kakek Anda? Ayah atau kakek dari kakek Anda? Mungkin sebagian besar dari kita lupa. Kenapa? Bukan karena fitrah manusia yang merupakan tempat salah dan lupa. Melainkan karena tidak ada hal yang bisa kita ingat dari mereka. Coba Anda tanya kepada keturunan Thomas Alfa Edison, mereka pasti akan selalu mengenang dan bangga menceritakan siapa leluhurnya. Apakah kita hanya ingin menjadi seseorang yang hidup pada zamannya lantas setelah kita meninggal kita akan terlupakan? Tidak bukan? Oleh karena itu ukirlah prestasi! Buat sejarah mencatat nama kita! Buat generasi penerus mengenang siapa kita. Bukankah menyakitkan menjadi orang yang terlupakan?

Jangan Pernah Takut untuk Bermimpi

Biarlah kaki kita menginjak bumi, namun gantungkan mimpi-mimpi kita setinggi langit, jangan takut kita akan terbang terlalu tinggi karena ingat di atas langit masih ada langit. Percaya akan the power of dream karena sesungguhnya Tuhan-Mu bersama prasangka-Mu…

Layaknya menambah 1 sks mata kuliah, maka kami pun mendapat pekerjaan rumah yaitu mempelajari buku “8 Langkah Menuju Langit” yang akan dijadikan acuan dalam pembelajaran di setiap pertemuan, membuat dream board dimana kita diwajibkan membuat mind mapping dan menuliskan semua impian yang pengen kita wujudkan, dan terakhir memberikan tanggapan tentang sebuah artikel inspiratif berjudul “Nikmatnya Jadi Pengangguran”, subhanallah bacaan yang mengajarkan kita untuk bersyukur, rendah hati dan selalu berpikir positif terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah. Bahwa kita hidup tidak perlu terus-menerus mengejar kekayaan financial untuk dapat hidup bahagia sejahtera. Kalimat yang tidak mungkin aku lupa:

Uang bisa dicari, tapi waktu tidak dapat dibeli

Waaaaaaahhhhh, rasanya U*B perlahan memberikan warna dalam hidupku, mudah-mudahan dengan bergabung di sini bisa menjadi batu loncatan dalam menggapai semua asa dan mimpi-mimpiku amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s