Mind Mapping

Sebenarnya saya sering membuat Mind Mapping, tapi dulu saya belum mengenal istilahnya dan tidak pernah mempublikasikannya secara formal. Kebetulan salah satu tugas PPSM Poltekkes Kemenkes Bandung 2011 adalah membuat Mind Mapping. Konsep dengan tulisan yang formal jelas sangat berbeda, di konsep saya hanya menuliskan keinginan dan tujuan saya beberapa tahun ke depan, tapi tulisan formal harus disertai gambar atau ilustrasinya. Ini membuat saya bingung.

But “Don’t say Huft ever!” –pesan kakak tingkat.

Saya percaya dengan the power of dream, oleh karena itu saya tidak sungkan menuliskan semua mimpi saya. Di mind mapping yang saya buat, saya memilahnya berdasarkan waktu, yakni sesuai usia saya.

Mind Mapping

Dari mulai tahun ini sampai tiga tahun ke depan saya masih aktif dalam kegiatan belajar di kampus Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Bandung. Saya berencana untuk tidak menjadi seseorang yang hanya Study Oriented Only. Saya ingin aktif di organisasi dan beberapa kepanitiaan yang ada di kampus ini. Dan cita-cita terbesar saya adalah mencapai IPK Cum Laude amin. Saya tahu susah, tapi ketika kita sudah punya target dan berupaya untuk mewujudkannya, bukan tidak mungkin kata IMPOSSIBLE bisa berubah menjadi I’M POSSIBLE, i believe in it!
Umur 21 tahun saya Insya Allah sudah lulus dengan nama Medical Technologist. Saya sudah tidak mual ketika melihat darah, sudah bersahabat dengan jarum suntik, dan siap menjamah dunia kerja. Saya menjadi PNS sekaligus bekerja di laboratorium swasta. Saya mulai menjadi tulang punggung keluarga, biaya pendidikan adik akan saya ambil alih, di samping menyisihkan untuk biaya pendidikan pribadi.
Setelah sekitar dua tahun bekerja, di umur 23 tahun saya melanjutkan DIV Analis Kesehatan di Poltekkes Kemenkes Bandung atau S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia atau Universitas Diponegoro. Saya usahakan menempuh semester pendek, 1 atau 1,5 tahun.
Ketika saya sudah bisa earn money by my self, dan usia saya sudah matang, sekitar 24 atau 25 tahun insya Allah saya sudah berkeluarga. Saya berencana di tahun pertama saya membina keluarga, kami harus sudah memiliki rumah sendiri, jadi tidak merepotkan orang tua atapun mertua. Kemudian saya dan suami saya yang juga berpenghasilan tetap, akan memulai usaha bersama dengan membuka laboratorium sendiri atau menjual alat-alat kesehatan. Masalah anak saya tidak akan terlalu memaksakan ataupun menunda-nunda, ketika Allah sudah memberikan kepercayaan saya memiliki anak, Insya Allah saya siap dan ikhlas.
Saya tidak akan terlalu fokus pada hal yang bersifat keduniawian, seperti membeli barang-barang tersier. Fokus utama saya adalah biaya pendidikan anak-anak saya, mereka harus mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari saya.
Ketika Allah memberi getaran hati dan Insya Allah ketika saya siap, saya ingin pergi ke tanah suci untuk berangkat haji dengan tidak lupa menyertakan keluarga saya. Amin.
Dan ini cita-cita saya yang sangat dimotori oleh ego. Kelak, entah kapan pun itu, selama fisik saya masih kuat dan finansial mencukupi bahkan berlebih, saya sangat sangat sangat ingin menginjakkan kaki saya di France. Menikmati malam di kota Paris di bawah Menara Eiffel, candle light dinner di Restaurant yang bisa berputar 360 derajat yang ada di sekitar Menara Eiffel bersama Ayah dari anak-anakku tercinta. Amin, kabul Yaa Rabb…

“Sesungguhnya Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku.” (HR. Abu Hurairah).

I believe in You, God. I believe the power of dream.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s