Pengalaman Medical Check-Up

Hari ini saya baru saja menjalani suatu proses pengecekan kesehatan secara menyeluruh yang biasa disebut medical check-up di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Adapun kegiatan ini dilakukan sebagai proses terakhir dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru poltekkes Bandung. Sebelumnya sudah dilakukan tes tulis, karena saya mengambil jurusan analis kesehatan jadi saya tidak perlu mengikuti test psikotes dan interview seperti juruan kebidanan dan keperawatan.

saya berangkat dari rumah yang beralamat di Kasokandel (=b) pukul 03.00 pagi naik motor dengan ayah saya. Bayangkan betapa dinginnya! Brrrrrr…
Jalanan masih lenglang, kami berdua menyatu dengan angin menghempas rasa dingin yang menggigiti kulit.
Saya tiba di rumah sakit tersebut pukul 05.42 WIB, sementara pemeriksaan baru dimulai pukul 07.00 WIB. Kami langsung memburu toilet tapi karena setelah berabad-abad mencari dan tidak ketemu, akhirnya kami bertanya ke bagian informasi. Ternyata toiletnya berada di lantai satu sebelah kiri ATM. LEGA! ffiiuuhh!
Biasanya sebelum pemeriksaan pasien diharuskan menyelesaikan masalah administrasi di loket, tetapi karena antrean yang panjang, masalah administrasi tersebut dilaksanakan secara kolektif di ruang medical check-up unit. Kami menyerahkan surat pengantar yang disediakan pihak poltekkes ketika daftar ulang. Biaya pemeriksaannya Rp 213.000,00 (kirain ga harus bayar).
Setelah prosedur administrasi selesai, tibalah saya harus mengikuti serangkaian medical check-up yang telah ditetapkan:
1. Test Darah
saya harus naik ke lantai empat menuju ruang laboratorium. Untung pakai lift, kalau pakai tangga, wahh, bisa-bisa turun peranakan, hiiii…
Test yang satu ini sangat menakutkan, bayangkan darah saya diambil sampai satu tabung reaksi. Saya terakhir mendapati jarum suntik menyentuh kulit saya ketika kelas II SD. Setelah diambil darah, mata saya berkunang-kunang, telinga saya menuli, kaki seolah berhenti menginjak bumi. Saya berpegangan pada tembok berusaha menormalkan keadaan saya. Tapi sia-sia. Untungnya ada kenalan baru yang baik banget namanya @aig_fitri (nama twitternya nih, hehe), dia menuntun saya menuruni 20 anak tangga untuk kembali ke lantai dasar. Sampai di lantai dasar setelah beberapa menit saya kembali normal. Mukaku? Arrghh… Shame on me! Maluu… Masa diambil darah aja sampe mau pingsan? Hiks ~

2. Test Urine
Sebelumnya saya diwajibkan berpuasa dari jam 10 malam s.d. test berakhir. Ternyata urine yang saya hasilkan bening sedikit kuning. (untung saya orangnya ga jijik-an)

3. Test Rontgen
Kami masuk ruang radiologi di lantai satu. Di test ini, saya disuruh telanjang dada dan melepas semua perhiasan lalu menghadap dan mendekatkan tubuh ke alat rontgen. Saya disuruh menarik napas, menahannya, dan bernapas normal kembali. Bagian belakang pakaian yang disediakan RS agak sedikit terbuka, dan petugasnya laki-laki. (oh, tidak! Saya masih virgin.) mudah-mudahan tidak ada masalah dengan hasil rontgen saya. Amin. *paranoid*

4. Pengukuran Tekanan Darah
Testnya dilakukan di ruang yang awal, ruang medical check-up unit. Hasilnya mengejutkan, 100/70. Padahal ketika saya check-up di Dinas kesehatan Majalengka hasilnya 123/90. Emang apa sih yang mempengaruhi tekanan darah? :bingung

5. Pengukuran Berat Badan
Hasilnya berat badan saya 45 kg dan tinggi 158 cm. :hurray berat badan saya nambah 2 kg. Sebelum test kesehatan saya memang benar-benar memperhatikan menu makanan dan rajin minum susu.

6. Test Mata
Test buta warna saya ditunjukkan angka-angka yang dirangkai dari beberapa warna. Temponya cepat sekali. Kemudian entah dari jarak berapa meter saya dijejali huruf-huruf kecil sambil menutup mata kanan dan mata kiri secara bergantian. Alhamdulillah saya normal (sepertinya). Saya sudah was-was karena saya seringkali menulis sambil tengkurap atau membaca sambil tiduran (kebiasaan buruk yang susah dihilangkan, huft). Teman saya kasihan, mata kanannya minus dua, mata kirinya plus setengah dan silindris. Dia harus diajukan ke cicendo baru bisa melanjutkan test. (nambah lagi duit, kasihan)

7. Test Gigi
Saya hanya disuruh membuka mulut lebar-lebar. Dan gigi saya lengkap. Tapi malu ih gigi seri saya gede-gede kek gigi kelinci, hihi..

8. Test Umum
Dokter bertanya tentang riwayat kesehatan saya, keluhan yang sekarang dirasakan, apakah ada turunan penyakit jantung, darah tinggi, epilepsi, dan sebagainya. Kemudian saya disuruh berbaring dan ibu dokter memeriksa mata, mulut, dan lidah saya. Lalu sambil menarik napas, dokter menempelkan stetoskopnya di dada saya.

Hanya 8 point di atas yang dicheck. Saya bersyukur tidak ada test keseimbangan berjalan, soalnya seluruh badan saya sedang pegal-pegal. Selama 3 hari berturut-turut saya dipaksa olah raga.
Baru kali ini saya melaksanakan medical check-up yang lengkap seperti ini, mudah-mudahan hasilnya tidak mengecewakan dan saya bisa diterima di poltekkes. Amin.

8 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s