If I were President

Presiden. Orang nomor satu sejagat Republik. Siapa yang tidak mau menjadi presiden? Hal pertama yang terbayang adalah harta yang melimpah, hidup nyaman dan makan enak bersama keluarga, disegani dan dihormati oleh orang banyak, berdiplomasi dengan berbagai Negara yang bisa membuatnya keliling dunia, selalu dikelilingi pihak keamanan kemanapun dia hendak pergi, dan bisa menikmati kenikmatan dunia yang lainnya.
Tapi apakah memang sebegitu bahagianya menjadi seorang presiden?

Definisi bahagia menurut saya tidak diukur dari seberapa banyak harta yang kita timbun, seberapa tinggi jabatan yang kita raih, seberapa mewah rumah kita, akan tetapi bahagia itu adalah sebuah kenyamanan dan ketentraman dalam mejalani hidup didampingi keluarga yang menyayangi kita.
Jadi, apakah dengan menjadi presiden lantas hidup kita akan bahagia? Entahlah, yang jelas saya belum pernah merasakan pahit manis menjadi seorang presiden :p
Dalam kaca mata saya, kehidupan sebagai seorang presiden tidak serta merta bahagia, banyak hal yang harus dibenahi mengingat dia adalah pemimpin, tentu saja tidak akan lepas dari permasalahan yang kompleks..
Seandainya saya seorang presiden, apakah semua akan berubah?
Apakah karakter saya akan berubah?
Akankah idealism saya akan berubah?
Akankah mental orang-orang di sekitar saya berubah?
Seandainya saya seorang presiden, apa yang akan saya lakukan?
Saya tidak bercita-cita menjadi seorang presiden, bukan karena saya seorang perempuan, walaupun pada hemat saya imam adalah lebih baik laki-laki, akan tetapi karena saya khawatir tidak bisa mengemban amanah yang dipikulkan kepada saya.
Setengah berkhayal, saya membuat coretan ini di hape butut yang saya miliki seraya menghabiskan waktu ketika menempuh perjalanan panjang antara Kasokandel-Bandung. Membosankan sekali ketika gerak hanya terbatas pada duduk diam dan memandang sekitar dengan tatapan kosong.
If I were president, I want to bring a change in our country.
Pertama, masalah kepadatan penduduk dan kriminalitas. Indonesia merupakan Negara terpadat ke-empat dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa setelah RRC (sekitar 1.2 milyar), India (sekitar 800 juta), dan AS (sekitar 400 juta). Hal ini merupakan salah satu hal yang menghambat kemajuan Indonesia. Pemerintah kita telah berupaya menekan kepadatan penduduk dengan menggalakkan program KB, dan hasilnya? Tidak sesempurna yang kita harapkan. Kaitan kepadatan penduduk dengan kriminalitas, saya berpikir untuk membangun penjara yang pengap, gelap, kotor, padat, bau, dan dingin. Kita lihat bagaimana penjara di Negara kita? Asal kita berbokong tebal (dompet tebel maksudnya) kita bisa membeli hokum, kita bisa jalan-jalan kemanapun kita mau, kita bisa menyiapkan peralatan salon lengkap dengan peralatan spa untuk merawat diri, pesta narkotika jauh lebih gampang tanpa perlu khawatir akan dijaring polisi, lantai keramik, makan gratis, sungguh nyaman bukan?
Seandainya saya adalah seorang tuna wisma, saya akan melakukan kriminalitas setiap hari, bagaimana tidak? Saya disediakan tempat penginapan gratis yang nyaman, daripada tidur di jalanan atau di kolong jembatan, mending di penjara. Saya diberi makan gratis dan teratur dua atau tiga kali ehari, daripada mengorek-ngorek makanan sisa orang di tempat sampah, mending masuk penjara. Saya tidak perlu pusing memikirkan biaya hidup atau tekanan ekonomi yang semakin mencekik dengan segala barang kebutuhan pokok yang harganya sangat tidak manusiawi. Di penjara hanya perlu menyumbangkan sedikit tenaga. Selain itu kita diberi siraman rohani, bimbingan keterampilan gratis, daripada ikut seminar atau kursus kesana kemari menghabiskan banyak biaya, mending masuk penjara. Oleh karena itu, seandainya penjara di Indonesia dibuat seburuk mungkin, setidaknya kriminalitas tidak akan membludak seperti sekarang. Seandainya saya presiden, saya akan menetapkan kebijakan untuk member makan para tahanan dengan nasi yang dicampur bubuk beling yang sudah dihaluskan (pembunuhan secara halus). Bayangkan berapa orang pejabat yang terlibat korupsi? Seandainya mereka masuk penjara dan mati, maka kepadatan penduduk pun akan sedikit berkurang (terinspirasi novel ayat-ayat cinta mengenai kebijakan pemerintah Mesir). *hambatannya HAM*
Kedua, transportasi. Berapa banyak kendaraan yang sekarang memadati negeri kita tercinta ini? Berapa banyak polusi yang dihasilkannya? Seandainya saya adalah presiden, saya akan membatasi alat transportasi umum jarak jauh hanya untuk elf dan bis (kereta api, pesawat terbang, dan kapal pesiar sudah termasuk) dengan kuantitas tertentu di setiap daerah. Pengalaman saya, waktu lebih efisien dengan menggunakan kendaraan jenis ini. Mereka tidak peduli apakah di jalur yang berlawanan ada kendaraan lain atau tidak, dengan kecepatan tinggi mereka terus melaju menyibak segala sesuatu yang menghalang (pelanggaran lalu lintas sih karena tidak mengindahkan marka jalan :D). Saya akan menghapus angkot, kenapa? Si imut berwarna kuning (di daerah saya angkot berwarna kuning) ini sudah terlalu sesak, saya hampir terlambat setiap hari ke sekolah karena angkutan ini ngetem di terminal dan persaingan menarik penumpang. Sopir yang sering uring-uringan karena penumpang yang kosong namun tetap harus membayar setoran. Seandainya angkot dihapus, secara otomatis penumpang beralih ke bis atau elf. Jadi, pendapatan akan jauh lebih banyak didapat. Akan tetapi konversi angkutan ini akan memakan banyak korban, akan ada banyak orang yang mendapat pemutusan hubungan kerja. Ada alternative untuk masalah ini, di setiap daerah harus dibentuk suatu wadah yang menampung elf dan bis. Akan diatur rotasi atau shift kerja, sehingga dalam satu kendaraan bisa dipakai oleh beberapa orang. Untuk jarak dekat, kendaraan tradisional seperti becak, dokar masih bisa diharapkan. Tetapi perlu dibuat aturan yang melarang becak atau dokar agar tidak mengganggu lancarnya lalu lintas kendaraan bermotor. *hambatan: pasti banyak protes keras*
Ketiga, kejujuran. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mental Negara kita sangat bobrok. Langkah yang hendak saya ambil salah satunya adalah menghapus budaya mencontek. Pasti sangat sangat tidak mudah, terlebih budaya mencontek seolah sudah menjadi bagian koin yang lain dari seorang pelajar. Tidak bisa dipisahkan. Padahal mencontek merupakan kegiatan yang tidak efisien, ketika kita membuat catatan kecil, kita tetap harus membuka buku dan membaca isinya. (kutipan film Catatan Akhir Sekolah). Tidak ada salahnya kalau kita mencontoh kebijakan pemerintah Bangladesh yang menetapkan peraturan bahwa setiap siswa yang ketahuan mencontek akan dimasukkan ke dalam penjara (kalau masuk penjara pasti berakhir dengan kematian dan ujung-ujungnya akan mengurangi kepadatan penduduk :p)
Keempat, perlakuan yang terhadap berbagai profesi. Kita tahu di setiap periode jabatan presiden, masing-masing selalu memanjakan profesi tertentu. Pada masa orde baru, pertanian seolah menguasai berbagai sector. Dan sekarang tenaga kependidikan yang sedang mendapat perlakuan istimewa. Bahkan istilah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” pun dihapus dan diganti (saya lupa istilahnya). Hal tersebut menimbulkan kecemburuan social dari profesi lain. Banyak dana APBN yang dialokasikan untuk subsidi pendidikan. Bahkan harga premium melonjak pun karena subsidi BBM telah dialihkan untuk subsidi pendidikan. Sedangkan BOS atau program beasiswa lainnya yang ditujukan untuk orang-orang yang tidak mampu, apakah berhasil dinikmati langsung? Tidak sepenuhnya. Selama mental para generasi bangsa masih bobrok hal tersebut akan sia-sia belaka.
Coretan ini hanya buah dari pemikiran seorang anak yang awam akan politik. Saya yang melihat dari ego kacamata saya. Sangat mudah membuat program apapun, yang sulit adalah implementasinya. Jadi, siapapun yang menjadi presiden di Negara kita, mudah-mudahan beliau diberi kesabaran dalam mengemban amanahnya dan membawa Indonesia menjadi Negara yang lebih maju lagi. Amin.
*mobil berhenti, saya harus naik angkutan umum yang lain😀 *tutup note*

4 Comments

  1. pola pikirmu sama kayak kira (light yagami) –”
    akan melakukan apapun demi bikin dunia yang bersih dari orang jahat. meskipun tujuannya baik kalo caranya keterlaluan sih gak boleh. masa nyontek aja dipenjara. kalo kasusnya kira, masa nyopet aja langsung dibunuh.

    kadang ambisi malah bakal jadi penghalang suksesnya seseorang. bertahap lebih baik, kalo maksain kamu bakal jadi pemerintah yang diktator. kasian rakyat yg sumber penghasilannya dari angkot dll itu

  2. @hyun Sebenernya standar kompetensi tergantung kebijakan dari masing-masing sekolah.
    Seharusnya itu bukan dijadikan tolak ukur pencapaian hasil karena toh akhirnya malah membentuk paradigma yg salah kek pola pikir yang instan (mencontek) itu..

    @nara kemakan doktrin seorang ahli entah siapa namanya di pelajaran pkn, katanya kalo suatu negara mau maju maka pemerintah harus bersikap otoriter. Dalam hukum Islam juga kan ga ada demokrasi, hehe.

    @zeira makasi🙂 bacanya di mobile coba biar ga ketauan panjangnya :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s