Bingkai Yang Retak

Ketika lidahku kelu. Ketika mulutku ingin terus bungkam. Justru ketika itu pula berbagai macam pertanyaan memburuku.
Satu pertanyaan yang berhasil menyedot perhatianku. Pertanyaan yang telah membuka luka lama yang masih basah dan menganga.
“Apa kenangan terindah selama kamu di SMA? Pasti jadian sama suriefkasev yaa?”

aku hanya tersenyum menanggapinya.
Sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, mengapa harus dilontarkan? Sama seperti halnya saluran Eustachius yang menghubungkan antara telinga dengan gigi, pertanyaan tersebut langsung menemukan titik temu antara hati dan pikiranku.
Otakku dengan refleks segera memutar potret indah yang pernah aku jejak bersamanya.
22 April 2011 sebuah gerbang kebebasan terbuka lebar, memberikan aku kesempatan untukku melangkahkan kaki tanpa bayang-bayang dirinya.
Hampir lebih kurang 3 bulan aku berusaha move on dan selama itu pula “I always fall for him”. Menyedihkan memang mengingat dia seolah menganggap aku hanya sebagai angin lalu.
Bingkai cintaku bersamanya retak, tak sesempurna yang pernah kita bayangkan. Sebuah kesalahpahaman antara aku, dia, dan mereka menjadi sebuah jurang tak tampak yang memisahkan aku dan dia.
Terkadang egoku berkata,
“Hanya sebatas itukah perjuanganku? Tidak berniatkah aku berkorban demi dia, demi apa yang telah kami bina? Menuruni jurang memang tidak semudah menaklukkan jalan terjal atau semudah memecahkan permainan sudoku high level. Mungkin berkali-kali aku akan terjatuh atau terluka, bahkan berdarah (aku benci darah). Tapi dengan sebuah kesabaran dan usaha untuk meniti puncak yang lain, aku insya allah akan menemukan sebuah jalan yang bisa ku lalui bersamanya.”
Tapi kemudian hatiku membantahnya,
“Seandainya dia ditakdirkan untukku, Allah pasti akan mendekatkan kami dan memudahkan segala urusan, tapi sekarang kenyataannya kami dihadapkan pada sebuah jalan buntu. Itu artinya aku dan dia memang ditakdirkan berada dalam satu ikatan yang tak lebih dari seorang sahabat atau teman dekat. (pantaskah disebut sebagai seorang teman bahkan ketika samasekali hampir tidak ada lagi conversation antara aku dan dia?).
Aku tertawa. Aku seolah telah menjelma sebagai orang yang berpenyakit asma. Hampir setiap malam dadaku terasa sesak, dan bantalku basah (bukan karena iler :p).
Egoku yang tinggi memaksaku untuk membuka tutup setiap moments bersamanya.
Egoku pula yang menyiksaku dengan harapan bahwa mungkin aku dan dia masih bisa bersama.
Special thanks kepada orang yang dengan begitu kritisnya menyodorkan kepadaku pertanyaan yang mencuri sebagian waktu malamku.
Terima kasih karena telah memaksaku untuk meminum susu yang telah basi.
Sampai detik aku menulis note ini, I’m still loving him a lot.
Semoga kebahagiaan telah menanti kita di masa depan. Amin ^^

4 Comments

  1. emang siapa tuh yang nanya2?

    eh takdir manusia ditentukan oleh kita sendiri juga loh. Allah ngasih pilihan2, tapi yang nentuin akhirnya kan tetep keputusan kita sendiri. yah itu sih terserah kamu mau pilih yang mana. tapi kalo dengan lanjut orang tua ga ngerestuin ya mending jangan sih. hahaha terserah lah ._.v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s