Arti Sebuah Status

07:11pm, Fri 25-03-2011
arti sebuah status..
Betapa sebuah status dan uang menjadi kekuatan yang menjadi akar dalam segala hal.

Saya, keluarga saya, bukanlah orang yang berada, tapi tidak bisa dikatakan -maaf- kurang mampu juga.
Kami adalah golongan dari kelas menengah ke bawah.
Rumah yang kami huni adalah rumah tahun 70-an yang belum pernah mengecap renovasi secara total.
Listrik, daya yang digunakan tidaklah terlalu besar, hanya untuk pemakaian televisi, air, dan komputer (sekalipun itu jarang).
Namun meskipun demikian fakta yang ada, status ayah saya sebagai seorang PNS mengaburkan semuanya. Orang menganggap kami “wahh”.
Padahal apalah arti sebuah status?
Seorang kuli bulanan golongan 3 dengan 2 orang anak sebagai tanggungan, dan tanpa ada sokongan dari manapun, apakah bisa dikatakan sejahtera? Mungkin iya mungkin juga tidak. Yang jelas sejauh yang saya rasakan selama 17 tahun saya menghirup oksigen, saya tidak pernah sekalipun kekurangan makan, sesulit apapun keadaan ekonomi orang tua saya, mereka selalu mengupayakan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Saya bahkan disekolahkan di SMAN 1 Majalengka yang notabenenya sekolah favorit di Majalengka.
Mengingat anak-anaknya mulai menginjak jenjang pendidikan yang lebih tinggi, saya hampir menginjak bangku kuliah, dan adik saya yang sekarang duduk di kelas VII SMP, apakah salah ketika saya mengharapkan sedikit kemudahan untuk meringankan beban orang tua saya? Apakah salah ketika saya berharap mendapatkan beasiswa?
Tetapi selalu dan selalu, dalam setiap persyaratan program beasiswa di sana tertera harus mencantumkan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu). Dengan status sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil apakah pantas keluarga saya mendapatkan surat keterangan tersebut?
Apakah orang tidak akan mempergunjingkan kami?
Banyak yang memberikan saran kepada saya, itu hanya sebuah formalitas, bukan suatu masalah besar ketika kita mengkamuflase hal tersebut demi memperoleh kemudahan.
Saya sudah berupaya berdiplomasi dengan kedua orang tua saya, tapi ayah saya dengan idealisnya tetap berpegang teguh bahwa kami tidak boleh meniadakan apa yang kami punya. Ketika kita berupaya menutup-nutupi apa yang kita miliki, maka Allah akan benar-benar menutupnya.
Terjadi pergolakan dalam dada saya, saya dengan nalar yang terbatas, belum mampu melihat jauh ke depan. Maybe i can take easy about write and read, but i know nothing about life. ;(
Dan pada akhirnya saya dengan ego saya, menyalahkan kebijakan yang jelas-jelas mendriskiminasi orang-orang yang stay dalam posisi balance seperti keluarga saya.
Memang sebuah hal yang masuk akal dan bertanggung jawab ketika beasiswa diberikan kepada orang yang tidak mampu namun berprestasi. Akan tetapi faktanya, tidak sedikit orang yang menggerogoti peraturan tersebut. Banyak orang-orang jauh lebih sugih daripada saya yang memiskinkan diri. Ketika saya tidak memilih golongan yang kedua, apakah saya juga tidak berhak masuk ke dalam golongan yang pertama?
Wallahualam bishshaaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s